Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 30 Juli 2026
Curhat

Ibu yang Terus Mengangguk

* Veronica V Sinaga, SMP Budi Murni 3 Medan
- Minggu, 19 Maret 2017 16:18 WIB
413 view
Membantu ibu adalah keharusan. Itu pekerjaan yang tak boleh diabaikan. Aku terkadang merasa terganggu dengan kewajiban itu, tapi aku tetap bersikukuh dengan tugas-tugas itu.

Saat kawan-kawan rembugan mau jalan-jalan ke mana seusai sekolah, aku cuma bisa mendengar saja. Ketika rekan-rekan cerita-cerita dan membahas ada sahabat baru saat bepergian, aku cuma bisa menelan air liur. Rasanya, betapa enaknya jadi mereka yang bebas dari kewajiban membantu ibunya.

Tetapi, sebaliknya, sahabatku merasa betapa enaknya jadi diriku yang setia membantu ibu tanpa kenal waktu. Sejawatku bilang aku tipe remaja ideal. Yang bisa jadi contoh. Tetapi bagiku tidak. Aku tidak ada apa-apanya kalau diposisikan sebagai anak yang berbakti.

Lama-lama aku memahami  bahwa membantu orangtua suatu keharusan dan dikerjakan dengan ikhlas. Atas sikapku, ibu pun melakukan hal serupa.

Tengoklah. Sebelum matahari terbit, ibu sudah bekerja di dapur. Ketika aku belum bangun, ia sudah pergi dengan dagangannya. Saat pulang sekolah dan aku mulai membantu, ibu masih belum sempat makan siang. Bahkan mungkin sarapan pun tidak. Tetapi, bila kutanya, jawabannya selalu saja 'sudah'. Itu yang membuatku tak habis pikir, kenapa ibuku mampu sekuat apa yang dilakukannya.

Bandingkan dengan aku. Jangankan tidak sarapan, tak minum teh manis saja pada pagi hari, siangnya langsung lemas. Seperti tak berdaya.
Kebiasaan itulah yang kulakukan pada ibu. Begitu sampai di lokasi kedainya, aku langsung menyeduhkan teh manis. Meski ibu suka yang dingin-dingin, aku tetap ngotot agar ibu menghindari es karena usianya sudah tidak muda lagi. Bersamaan itu, kuhidangkan makanan dari dagangannya.

Betapa hatiku riang bila ibu melahapnya sampai habis. Ludes bersih. Ibu memang mengajari kami anak-anaknya untuk memakan hidangan tanpa sisa, menghindari mubazir. Alasannya, nasi itu menangis kalau dibuang percuma.

Aku paham. Cara ibu mendidikku memang tidak seperti kebanyakan ibu lain yang kadang marah-marah. Ibuku justru tak pernah menghardik. Jika ibu diam saja, berarti hatinya sedang ada masalah.

Seperti kemarin ketika aku lama datang karena mengerjakan tugas sekolah bersama rekan-rekan. Ketika sampai, ibu langsung memelukku. Erat sekali. Tanpa bicara apa-apa, aku merasa aliran kasihnya menyiram seluruh tubuhku.

Tahu aku selalu kerja kelompok di sekolah, sekarang ibu yang terus mengingatkanku untuk meninggalkannya berjualan. Bila kutanyakan mampukah berdagang tanpa ada yang membantu, ibu terus mengangguk. (d)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru