Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 30 Juli 2026
Cerpen

Malam Gemerlap Tanpa Terang

* Karya Rizky Wati Situmorang, SMAN 4 Pematangsiantar
- Minggu, 26 Maret 2017 20:13 WIB
387 view
Aku datang lagi. Seperti kemarin tapi kali ini menuju kehampaan. Mulanya gelap, berliku tapi harus dilalui.

"Hari ini siaran radionya edisi puisi ya, Kak?"
"Kakak tidak tahu, Dik. Biasanya kan di saluran ini isinya lagu dangdut, kenapa lari ke puisi seperti ini? Kakak tidak mengerti."

Mungkin aku meracau tapi dangdut selalu membuatku seperti candu. Itulah alasan kenapa aku minta pada penyiar radio untuk berpuisi.

"Aduh!" teriakku saat tubuhku mengenai sebuah tubuh besar. Aku kesal terhadap siaran itu.

Dia tak mampu berkata. Padahal ku tahu bibirnya telah bergerak. Ku perhatikan dengan seksama gerak-geriknya. Aku tak mengerti apa yang ada dalam pikirannya, dan aku tak dapat membaca ada ekspresi apa disana.

***
Aku tiba di rumah. Terasa kaku tubuhku mendapati ruang belajar. Air mata berlinang deras. Aku teringat akan mereka yang telah berpulang dengan cara yang tak kuingini.

Orang tuaku telah mendapati surga bersama dengan adik-adikku, kecuali Doni. Mereka terlibat kecelakaan hebat. Padahal mereka menjanjikan bahwa aku dan Doni akan dijemput pulang ke kampung setelah ujianku dan Doni selesai di sekolah.

Semua masalah datang berlomba menggerogotiku. Aku hampir mati diijak-injak persoalan hidup. Aku tak mampu mengadu dan menangis di pelukan ibu. Ibu orang yang paling kucintai di seisi dunia. Namun Tuhan menguji cintaku hingga separah ini.

Di tengah lamunan dan kesedihanku. Pesan masuk datang ke ponselku. Nomor tak dikenal menautkan dirinya padaku.

"Apa kabarmu? Apakah kau baik-baik saja?"
"Ini siapa? Tahu darimana nomor teleponku?"
"Aku orang aneh yang selalu berdiri di depan kelasmu. Aku tak ingin melihatmu bersedih. Tuhan terlalu jahat bila membiarkan bidadari sepertimu melinangkan air mata"
Aku tertawa dengan ponsel yang masih di genggaman. Lelaki ini sedikit mencairkan suasana hatiku.

"Apa yang kau katakan? Tolong jangan membuatku bertambah gila di malam hari ini"
"Baiklah. Cobalah tertawa. Kau adalah perempuan yang kuat. Masalah tak akan kuat menghadapimu."
"Baiklah, aku akan tertawa. Namun apa yang membuatmu begitu peduli kepadaku?"

Setengah jam aku menunggu jawabannya yang membuatku ingin mengembara di dunia maya saja. Lalu aku membuka akun Facebook orang lain. Aku terbilang sebagai pembobol akun orang lain. Namun aku tak pernah menyalahgunakannya. Aku hanya ingin bisa berkomunikasi dengan orang yang kupuja. Akun yang kugunakan itu atas nama orang yang dia kenal. Aku gencarkan aksi ingin tahuku kepadanya. Aku berlaku layaknya orang yang dikenalnya tersebut.

Aku dapat kiriman foto dari pengguna lain. Aku benci dengan itu. Soalnya, arah-arah dari kiriman foto itu seperti menyenangi sahabatku. "Tidak usah berbohong!"

"Aku tidak berbohong. Aku tidak menyukainya. Itu hanya tantangan dari temanku untuk mengirimkan gambar-gambar cinta seperti itu di media social."
Tak fokus pada urusan Facebook, aku mengajak yang lain chat. Kami terlibat pembicaraan yang saling memojokkan. Bahkan menjurus posesif. Uniknya, setelah itu, ia bilang mencintaiku.

Aneh. Bibirku membungkam. Mengapa suaranya mirip dengan penyiar radio yang mengadakan musikalisasi puisi itu. Dan aku mulai merasakan keanehan. Aku tak tahu dia tahu darimana aku sedang bersedih.

Aku sadar akan semua kenyataannya. Darahku mendingin. Tubuhku mengayu. Dadaku menyesak. Dan ragaku tenggelam dalam banyak peristiwa yang terjadi dalam semalam. Malam yang diam, namun mericuhkan. Terlebih mengetahui dia telah menyusul keluargaku di alam lain setelah pengungkapan perasaannya sebab penyakit yang tiada seorang pun yang tahu. (h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru