Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026
Cerpen

Andaikan Aku Air

* Karya: Timoteus Simangunsong SMAN 4 Pematangsiantar
- Minggu, 16 April 2017 21:20 WIB
727 view
Hahaha...hidupku memang hanya untuk ditertawakan. Terlalu pahit, saking pahitnya sampai tak punya waktu kapan aku boleh bertanya di mana akhirnya.

Hasratku sebenarnya cuma sederhana. Bagaimana bisa kerja dan menghasilkan untuk membantu sesama. Tetapi, kemarin aku menemui kerabat yang tak dapat membeli obat lalu wafat. Padahal, jika aku punya, pasti kulakukan yang terbaik.

Impianku bermula dari pertemuan dengan ibu tua terbaring lemas di kasur di gubuk rewot. Dari raut wajahnya, aku berpikir, orang yang kusayangi tersebut hanya tinggal menunggu ajal.

Aku berusaha berbuat semaksimalnya. Aku sempat malu dengan hidupku tapi lama-kelamaan rasa itu kutekan hingga ingin kuproklamirkan semua kisahku ini pada semua orang. Terus terang, aku sempat menyesali diri, mengapa aku masih hidup tenang di tengah manusia yang bersusah.

Kakakku yang terus menyemangatiku untuk optimistis menghadapi hidup. Ucapan yang paling tertanam di hatiku: "Dik janganlah kamu menyerah dan berputus asa. Hidup kita ini memang rumit bagaikan roda kadang di atas dan kadang di bawah. Carilah jalan keluarmu dan bangkitlah."

Tetapi di penginspirasiku sudah pergi untuk selamanya. Hidupku jadi kembali terpuruk. Kembali ke dasar yang paling dalam.

Aku selalu berusaha keluar dari kabut hidup dengan melakukan berbagai cara. Aku sudah coba kembali bekerja, karena menurutku dapat menenangkan pikiran dan mengembalikan mentalku. Tetapi pekerjaanku saat ini justru malah tambah buruk karena aku selalu bertemu dengan orang-orang yang memerlukan pertolongan tapi tak dapat kubantu sedikit pun.

Aku menjadi merasa aneh pada perputaran kehidupanku. Aku semakin menutup diri hingga membuatku semakin dijauhi kawan-kawanku. Alhasil, aku sendiri yang terpojok dalam kehidupanku.

Kerja pun menjadi malas. Rasanya, aku lebih cocok untuk tinggal sendiri di kamar, tidak usah kerja. Padahal, aku butuh biaya hidup. Karena sikapku tersebut, aku mendapat sanksi dari tempatku bekerja. Aku diskor.

Hukuman itu membuatku semakin down. Aku merasa sudah sama sekali tidak berarti di bumi ini. Jika dulu aku bisa mengadukan persoalanku pada orangtuaku,
kemudian diputusNya karena orang-orang yang kusayangi dipanggilNya. Aku pernah berkeluh kesah pada kakakku, tapi kemudian hal serupa terjadi. Kakakku dipanggilNya.

Aku mulai mengambil pikiran sesat. Kupikir, lebih baik aku mengakhiri hidupku sendiri. Alasannya, hidupku memang sudah tak berarti sama sekali. Ketika sudah kusimpulkan bahwa aku harus mengakhiri hidup dengan cara apa saja, sekonyong-konyong pikiranku berputar.

Jika memang hidupku tak berarti, kenapa Yang Kuasa masih teap memberi kehidupan padaku? Aku mulai membuka pintu dan melihat keluar.

Aku melihat cahaya matahari yang sudah lama tak kujumpai lagi. Aku berpikir, orang-orang pun menikmati cahaya dan panas yang sama. Lalu, kenapa orang-orang itu dapat mengambil manfaat dari mentari dan kenapa aku selalu menyesali diri atas sinar tersebut?

Aku ingin tegar dan tak limbung. Aku berjalan mengikuti keinginan hatiku yang tak tahu entah mau ke mana. Sampai ke jembatan yang di bawahnya air air superderas, aku menatap ke bawah.

Andai aku melompat, mungkin hidupku bisa kuakhiri di sini saja. Tetapi, kalau keinginanku tak sampai, aku hidup cacat. Ah, tidak.

Aku menatap air deras. Sangat deras. Alurnya menerjang apa saja, seperti batu-batu besar. Apapun yang menghadang di depannya, airnya tetap melewati tanpa menyakiti. Alirannya pun seirama dengan arah volumenya.

Jika benda menghalang, air itu tidak frustasi dan mengutuk siapapun. Air tetap mengumpul kekuatan hingga pada satu titik, dengan kekuatan yang dibangun, kembali mengalir lagi. Melewati benda apapun yang menghalang.

Aku memastikan, air dan seluruh benda di bumi ini adalah  ciptaanNya. Aku ingin seperti benda-benda itu.

Semakin keras suara di hatiku: aku ingin seperti air  yang berusaha mencari jalan untuk tetap mengalir. Aku pastikan, mulai saat ini tak akan menyerah pada apapun juga sebelum kucoba apapun yang kubisa.

Aku ingin seperti air. (f) 
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru