Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 30 Juli 2026

Bedanya Kamu

* karya Marcellus Hia, Sinaksak - Pematangsiantar
- Minggu, 11 Juni 2017 22:15 WIB
743 view
Di dalam kedinginan jiwaku, kau hadir mendekap erat di kalbuku. Dalam kesendirian nuraniku, kau temani aku dengan kemesraan. Dalam kegalauan jiwaku, kau hadir untuk menghiburku. Dalam kesepian malamku, kau hadir dalam indahnya mimpiku. Tiada yang kupikirkan selama ini, kecuali aku merasa berarti bersamamu. Kan kuayun langkahku ini, bersama irama kerinduan. Tak ada sesuatu yang terindah bagiku, karena kau segala-galanya bagiku.

***
"Mel, tau ngak bedanya kamu dengan kaki?" tanyaku sore itu setelah mendengarkan satu lagu kesukaan Melda. Lagu itu mengalir begitu merdu. Semerdu hati Melda saat ini. Gadis bermata teduh itu menatapku dengan tenang. "Yah, ngak tau persis sih. Pokoknya, aku ya aku. Dan kaki ya kaki!" jawabnya asal. Ia merasa bahwa itu hanyalah sebuah teka-teki. Namun, aku tersenyum. Aku merasa menang ketika Melda tidak bisa menjawab pertanyaanku. Aku membuat kejutan baginya dalam bentuk kalimat. Namun, itu semua dari dalam hatiku yang paling dalam.

"Mel, kaki itu berjalan di atas tanah dan.."
"Kalo aku..?" tiba-tiba ia memotong jawabanku tak sabar mendengar jawabanku yang selanjutnya. "Ehm..kalau kamu itu berjalan di hatiku" ujarku melanjutkan agak sedikit menggoda. Gadis yang kusebut sahabatku itu hanya tersenyum dan kemudian tertawa lepas berkali-kali menatapku. Lalu tiba-tiba ia diam dengan wajah yang begitu serius. Ia menatap ke langit biru. Seolah mengadu kepada awan-awan yang bersimpang siur di atas sana.

"Temanku, Febri. Kamu boleh saja mengatakan bahwa kalau aku itu berjalan di hatimu. Bahkan kamu mengungkapkan perasaanmu padaku. Tapi andai kamu tahu, aku ini hanyalah gadis desa. Jujur, aku ini tak layak untukmu. Lebih baik kamu mencari yang lain. Aku tak mau kalau pada akhirnya kamu kecewa dan menyesal mengenalku lebih lama"

Aku hanya diam. Bukan suatu permintaan, air mata mengalir begitu deras. Mengalir membasahi kedua pipinya, lalu tumpah menghangati jenjang lehernya. Aku memang bisa mengerti apa yang dikatakan Melda kepadaku. Aku juga tahu bahwa dirinya berasal dari desa yang terbilang terpencil. Tapi apakah cinta yang begitu kuat mengenal yang namanya latarbelakang seseorang? Tidak Melda! Ujarku dalam hati sore itu.

"Mel, selama kamu mengenalku sudah berapa banyak aku membohongimu? Sudah seberapa banyak aku meninggalkanmu disaat kamu menyendiri? Tapi apakah cinta yang begitu kuat mengenal yang namanya latarbelakang seseorang? Tidak Melda! Tidak!" ujarku meyakinkannya.

Sore itu, Melda masih menatap langit biru dengan tatapan kosong, lalu menatapku dengan air matanya yang masih tersisa.

"Feb, jujur selama aku mengenalmu, hidupku terasa lebih berarti. Tanpamu, duniaku menjadi gelap. Hampa, tak berarti apa-apa. Namun, untuk saat ini aku minta maaf padamu. Aku tak bisa memberimu jawaban dari semua yang telah kamu ungkapkan padaku. Aku ingin menenangkan diri dulu. Tapi aku berjanji akan memberimu jawaban suatu saat nanti. Selamat tinggal dan selamat jumpa lagi!" ujarnya sambil berlalu dari hadapanku. "Iyah, selamat berjumpa kembali!" jawabku sambil berdiri saat ia tiba-tiba pergi dari hadapanku.

***
Senja masih belum turun ke peraduannya. Melda sudah pergi dari hadapanku. Kini di taman yang beraneka warna bunga-bunga sedang tumbuh, aku menyendiri. Menyendiri di antara bunga-bunga yang sedang mekar. Langit biru juga seperti enggan untuk mendung. Seakan tahu suasana hatiku saat ini. Ia selalu ada untukku hingga suatu kata kepastian melebur dalam sanubariku dan membuatku tersenyum kembali, bahkan tertawa sebebas-bebasnya di alam ini. Tepatnya di antara bunga-bunga yang sedang mekar dihinggapi kupu-kupu. Terimakasih Tuhan atas semua yang sedang kurasakan saat ini, doaku dalam hati sejenak.

Langkah kakiku terasa begitu berat meninggalkan tempat ini. Berat karena suasana hati yang masih belum pasti. Tapi aku selalu yakin dengan Melda, akan memberiku jawaban meski dalam jangka waktu yang cukup lama. Aku harus mampu menunggu. Menuggu sesaat itu datang kembali di taman ini. (l)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru