Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 30 Juli 2026
Cerpen

Selembar Malam Istimewa

* Karya Hotmarulitua Siagian – SMAN 4 Pematangsiantar
- Minggu, 18 Juni 2017 19:43 WIB
777 view
Aku terbiasa tersungkur. Mulai dari kehidupan hingga terguling dari pembaringan. Kali ini aku juga jatuh, tapi jatuh cinta.

Kenal dengan Priska sama seperti bertemu Dewi. rambutnya panjang, yang jika dikibaskan angin semakin memesona. Priska memang tak suka mengikat. Matanya sipit dan semakin memesona bila senyum  hingga semakin menawan. Aku sangat terpukau.

Seribu puisi pun tak mampu untuk menceritakan cantiknya.

***
Siang itu tidak ada pelajaran format karena pengenalan triwulanan. Priska lewat. Dari jauh langkahnya kusambut dengan suitan. Seperti biasa, Priska membalas dengan senyum.

Jika sudah begitu, grup kami jadi riuh. Rata-rata melecehku tapi kutahu itu karena kecemburuan mereka. Tetapi aku jadi benci karena malamnya akan menjadi malam yang sangat berat. Karena aku harus menumpahkannya ke dalam sebuah kerinduan.

***
Yang kubayangkan darinya, kehangatan pribadinya. Sekarang Priska makin ramah. Ia bahkan sudah cepat membalas chatku di sosmed. Aku suka meluapkan perasaanku.

Waktu yang lama berlalu menjadi perubahan suka padanya. Aku semakin mencintainya hingga berencana menyatakan perasaanku yang sesungguhnya. Aku mengajaknya ke kantin.

Riuh rendah di sana, tapi kami sengaja berbaur dengan kawan-kawan. Sudah lama duduk dan menghabiskan bakso, aku pindah duduk ke sampingnya. Priska menatapku heran.

Langsung kuterkam tangannya. "Pris," ucapku.

Ia tersipu dan menatap serius tanganku yang makin menggenggam jemari lentiknya. "Aku suka padamu!"

"Kalau suka, pakai genggam begini? Norak, ah," ujarnya tapi tak mau menarik tangannya dariku.

Pertemuan yang sia-sia. Priska tak mau menjawab segala pertanyaan soal hatiku. Malam hari aku merenung panjang. Aku tersungkur lagi. Tetapi aku nekad mengutarakannya. Terus, setiap jumpa.

"Aku nggak bisa, Jo. Aku perempuan yang berhati rapuh yang tak mau tersakiti untuk kedua kalinya," jawabnya, lalu pergi meninggalkanku sendirian.
 Busyet. Tak sangka, cintaku ditolak. Malamnya, aku ingin meratap histeris tapi malu kalau didengar tetangga. Aku hanya berteriak-teriak seperti rocker kehilangan penonton.

***
Hidupku terasa semakin berat. Kok kejam kali seorang Priska yang cantik. Gak sangka, teganya sama aku.

Dalam lamunan panjang, tiba-tiba ponselku bergetar. Eh, Priska. Aku senang, tapi takut mengangkatnya. Soalnya, mana tahu lebih kejam lagi akan dilakukannya. Soalnya, aku seperti tak tahu malu, terus ngotot mengharap balasannya.

Begini sakitnya mengemis cinta ya. Tetapi, kusahuti juga ajakannya ketemu di kafe. Tetapi, sepanjang jalan menuju sana, aku ketakutan.  Mana tahu Priska datang sama cowoknya. Apalagi dari balik tembok kafe tempat kami bertemu sudah terdengar suara cekikan Kirana dan Laras serta seorang pria.
Begitu aku sampai, semua menatapku seperti hendak menghakimi.

Aku duduk diam seperti tikus tercebur di got. Kadang-kadang aku curi pandang ke Priska. Kalau pada tiga orang di sampingnya, aku tak peduli.
Tiga jam duduk, aku tetap bisu. Lidahku kaku untuk mengulangi permintaan.

"Jovan," panggilnya yang membuatku gugup.
"Sudahlah... aku pasrah!"
Priska terdiam tapi sorot matanya tajam untukku. "Aku minta maaf. Jujur, aku juga punya rasa terhadapmu tapi aku takut dihantui masa lalu."

Awalnya aku mau marah tapi kualihkan dengan tertawa lepas sekuatnya. Priska pun pindah ke dekatku. Ia mempersilakan yang lain pulang lebih dulu.
Aku mengikuti kemauannya. Setelah berdua, Priska meminta kepastianku, suka pada Kirana atau Laras? Kuberanikan memeluk lengannya. "Aku memilihmu, Pris!"
Kami menghabiskan sore di sana untuk bercerita segalanya untuk awal dari kisah baru.

Baginya itu adalah awal, namun bagiku awalnya adalah saat malamnya aku mengejek langit bahwa aku sangat membencinya, namun aku juga sangat menyayanginya karena memberikanku malam yang indah. Dan itu adalah malam teristimewah bagiku.

Terkadang saat petir menggantikan pelangi yang kau harapkan  kedatangannya setelah hujan, membuatmu sangat kesal. Tapi percayalah untuk dirimu sendiri kalau pelanginya akan hadir setelah petir pergi. (f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru