Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 30 Juli 2026
Curhat

Mulai dari Nol, Ya

* Daniel Efraim Markodeta Pardede - Tanjungmorawa
- Minggu, 02 Juli 2017 22:08 WIB
465 view
Pasca libur panjang, aku membuka hariku dengan helaan nafas. Rasanya, bebanku terlalu berat. Berat sekali hingga membuatku letih.

Penat hatiku. Kadang, saking membebani, aku ingin protes pada Sang Pencipta. Kenapa aku harus mengunyah kepahitan ini sendiri, ya Allah Tuhanku.

Aku ingin jujur dengan hatiku sendiri. Setelah ditinggal ayah, aku bergantung pada ibuku. Ibuku pun ikut-ikutan menghadapNya, setahun setelah ayah memenuhi panggilan Sang Pemilik Hidup. Tak memiliki orangtua, aku bergantung pada orangtua ibuku. Nenek.

Perempuan renta itu punya semangat hidup yang sangat menopang perjalananku. Kadang, aku tidak merasa yang mengurus hidupku sekarang adalah nenekku.  Berterima kasih padanya, banyak sekali cita-citaku untuknya. Mulai ingin jalan-jalan untuk menyenangkan hatinya hingga ingin cepat kerja biar gajiku dapat mengurus nenekku.

Tetapi, ya Tuhan Yesus... nenekku pun dipanggilNya. Saat kematian orangtua ibuku, hidupku seperti tamat. Duniaku jadi gelap. Langkahku seperti tak mencecah. Rasanya, aku ingin mati saja. Tetapi, sebagai anak tertua dari dua bersaudara, aku malu pada adikku yang cewek.

Meski ia perempuan namun kulihat dapat lebih tegar ketimbang aku. Berkaca pada kemauan adikku, aku mencoba bangkit. Eh, masalah belum selesai. Aku dan adikku harus pergi dari rumah yang ditinggalkan orangtuaku.

Memang, semasa hidupnya, ayahku sudah menyerahkan kehidupannya untuk memuliakanNya. Tekad itulah yang membuatnya memberikan semua apa yang ada padanya untuk pelayanan. Konsekuensinya, aku tidak boleh menuntut banyak dari harta peninggalannya. Apalagi sampai menghakinya.

Kali ini, meski dalam hati memberontak, aku berusaha bersyukur karena masih dapat meneruskan kuliahku dengan biaya sendiri. Duitnya peninggalan orangtuaku dan belas kasih keluarga orangtuaku.

Dalam pergaulan sehari-hari, aku memiliki teman dekat. Aku sampai bergantung padanya karena aku menerima banyak dukungan yang membuat semangatku tumbuh dan membuncah. Tetapi, belakangan si sahabat kena hasut.

Ada yang menyampaikan padanya aku bermain 'gila' pada wanita. Hah... aku masih waras. Aku percaya dengan hukum tabur tuai.

Meski kujelaskan, tetap saja sahabatku tak mau hingga memutus komunikasi denganku. Japri pun tak berfungsi.

Entah kenapa, mungkin karena doaku dikabulkanNya, tiba-tiba komunikasi terbuka. Aku bersyukur dan ingin melakukannya dimulai dari nol. (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru