"Memangnya kenapa ? Tidak salah, kan ?"
"Tidak, kok. Tapi, aku cuma gak mau kamu nantinya patah hati kalau jadian sama dia."
Dia itu namanya Yusuf. Dia itu yang namanya 'sahabat sejati'. Dia itu orang yang sudah ada dengan ku sejak dahulu. Sama-sama merasakan yang namanya bermain bersama, merangkak bersama, dan menangis bersama. Bak pena dan tintanya, tak 'kan berarti jika salah satunya hilang.
"Tapi, Reza itu baik, lho. Dia juga ganteng dan tinggi. Cowok idaman aku banget !" kata ku, baper.
"Aku taruhan. Kalian pasti sudah berpisah bahkan kurang dari 2 menit."
Dan anehnya, itu terjadi. Reza tidak seperti yang aku kira. Ganteng-ganteng, kok, ketombean. Dia menggaruk kepalanya dan Aku kemudian langsung pergi tanpa membayar minuman.
Aku merasa tidak terlalu hoki dalam asmara. Itu semua hanya karena ada hal aneh yang mereka miliki. Heri yang suka ngupil, Juna dengan kebiasaan mengorek telinganya, dan yang paling parah adalah Andar. Dia gak pernah keramas. Mungkin juga, karena sifatku yang hanya tertarik dengan cover-nya tanpa melihat isinya terlebih dahulu.
Hingga akhirnya, aku menemui Fahmi. Dia berbeda dari yang lain. Wajahnya bersinar bak memancarkan aura eksotisme Latin yang sama sekali tak terdefinisikan. Dia juga harum dan tidak bau ketiak. Tinggi semampai, paras bagaikan personil boyband, dan suara semerdu burung surga.
Di suatu hari yang cerah, diri ini sedang duduk santainya di taman. Tak sengaja, Fahmi berada dalam penglihatan. Mata ini tiba-tiba menjadi malu. Semakin dalam malunya tatkala harus berpapasan dengannya. Dia lalu tiba-tiba duduk di sebelah ku yang menyebabkan jantungku tak habis-habisnya berdegup kencang.
"Kau tahu, aku merasa ada hal yang aneh saat aku memandang mu." kata dia, tiba-tiba.
Aku mencoba 'tuk berbicara walau gemetar, "Ehm, kamu jijik melihat ku ?"
"Tentu saja tidak ! Aku malah selama ini curi pandang dengan mu." Dia diam sebentar. "Hanya saja, aku malu 'tuk berbicara. Mungkin, sekaranglah waktunya."
'Ya, ampun ! Aku sangat tidak sabar mendengar perkataannya !' batin ku.
"Ehm, mungkin kamu mau jadi pacar ku ?"
Reaksi yang sama setiap kali aku ditembak. Wajah memerah, hati berseri, dan dunia ini bagaikan milik mu seorang. Aku sudah tahu bahwa ini pasti akan terjadi. Jadi, tak perlu heran dan salting di depannya. Dan yang pastinya, aku menerimanya.
Singkatnya, kami layaknya lem pada kertas. Terus bersama dan tak 'kan pernah terlepas. Namun, Yusuf bak setan yang kepanasan setelah dibacakan ayat-ayat. Risih sekali dia melihat kami berdua bermesraan.
"Atau, kamu cemburu aku berduaan dengan dia, ya ?" goda ku kepadanya saat di kelas.
"Ya, aku cemburu. Karena akulah yang suka dengan mu."
Dia seketika membuat ku terdiam. Keributan di taman yang ku buat seketika hilang. Yang ku dengar hanyalah suara angin yang mengalir. Aneh rasanya mendengar dia mengatakan itu. Otak malah menerjemahkannya sebagai hal yang tidak serius dan hanya omong belaka.
"Aku juga suka dengan mu, Yusuf ku tercinta !" goda ku lagi kepadanya.
"Mungkin, kau membohongi perasaan mu sekarang. Akan ku buat kau sengsara. Akan ku buat kalian berdua berpisah. Sehingga kau akan bertekuk lutut kepada ku."
Kemarahanku tiba-tiba mencapai ubun-ubun. Aku ingin sekali menumbuk wajah jeleknya itu. Tapi, hati menahan tangan untuk melakukannya.
"Dasar orang yang susah melihat orang lain senang !" teriakku kepadanya, lalu lari meninggalkannya.
Hingga suatu saat, tiba-tiba ia menggaet salah seorang cewek. Sengaja mengirimiku foto-foto keromantisan mereka berdua. Sering menyumpahi supaya aku dan Fahmi putus hubungannya.
"Untuk apa coba dia melakukan itu ? Dia tak akan bisa memisahkan kita. Karena dengan kekuatan cinta, kita akan bersama selamanya," curhat ku kepada Fahmi.
"Apa kamu cemburu karena sahabat mu sudah punya pacar ?" tanya dia.
"Mana mungkin ! Aku sama sekali tak pernah cemburu."
Bohong. Kecemburuanku melebihi terhadap apapun. Aku membalas semua perbuatannya. Foto-foto romantis terus ku kirimi. Makian selalu saja ku lontari. SupayaNamun, Yusuf tiba-tiba menyerah. Dia bungkam dan menghilang. Awalnya, terlintas rasa bangga. Namun, aku malah menjadi seorang yang jahat. Menindas sahabat sendiri. Dan perbuatan itu tak disangka menuntun ku ke arah yang tak diingini.
"Ehm, gimana kalau kita sudahi saja hubungan ini."
"Apa maksudmu ?" tanya ku, bingung kepada perkataan tiba-tibanya.
"Soalnya, kamu tak pernah nyaman dengan ku. Kamu juga malah keseringan membicarakan Yusuf. Kamu seperti menjadikan ku sebagai teman curhat saja. Kita mungkin memang tidak cocok, ya ?" katanya, dalam nada yang halus.
"Kita cocok, kok ! Buktinya, kita sama-sama suka."
"Raga mungkin suka dengan ku, tapi hatimu cinta dengan yang lain. Kau tak perlu lagi membohongi perasaan hati. Dan aku juga sudah memilih Dea sebagai penggantimu." Hening sejenak terjadi. "Terima kasih, ya. sudah mau dengan ku."
Fahmi pergi meninggalkanku dalam sunyi. Ia perlahan-lahan hilang dalam penglihatan. Diriku lalu menjerit sekuat-kuatnya, menangis tersedu-sedunya. Hilang sudah orang yang dapat mengisi hidupku. Taman pun menjadi saksi akan kebodohanku ini. Ku lihat, sebuah pesawat kertas terbang di udara dan mendarat di tangan.
"Mungkin maaf tak cukup bagimu, karena diri ini telah menyakitimu. Tapi, kumohon ukirlah semua kesalahan itu di atas pasir. Sehingga angin dapat menghapusnya tatkala ia sedang berhembus." baca ku pada pesawat itu.
"Lihat yang telah kau perbuat ! Kami sudah berpisah. Kenapa kau tak pernah membiarkan ku merasakan kesenangan barang sedetik saja ?" tanyaku ketika melihatnya, masih menangis.
"Aku mungkin memang jahat. Menusuk hatimu hingga pecah berkeping-keping."
Aku berkata dalam tangis, "Memang. Apa kau puas sekarang ? Tak 'kan kuanggap lagi kau sebagai sahabatku lagi !"
"Tak apa kamu melakukan itu. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa ini ku lakukan agar akulah yang menyempurnakan hidupmu bukan yang lain. Karena, aku ingin menjadi penyempurna seperti dirimu." katanya.
Mata berkaca-kaca. Air mata kian banyak berjatuhan. Aku tersadar, bahwa yang akan menyempurnakan hidupku sungguhlah dekat. Sedekat jantung dan paru-paru. Aku langsung berlari menjemputnya. Dengan sekejap, aku jatuh dalam dekapannya. Benar-benar dapat kurasakan hangat tubuhnya. Dapat kudengar deru nafasnya. Ya, nafas dari orang yang selama ini selalu di dekat ku.
Aku lalu berbisik, "Aku mencintaimu."(c)