Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 30 Juli 2026
Cerpen

Mengenalmu di Akhir Perjalanan

* Karya: Aprilianju Kristesia Purba, SMK Bintang Timur Pematangsiantar
- Minggu, 23 Juli 2017 18:18 WIB
981 view
Jiwa bahkan sanggup memenuhi batin. Batin juga sudah pasti bisa memenuhi jiwa. Mereka berdua saling melengkapi. Tak ada yang bisa memisahkan mereka berdua. Tak heran jika mereka berdua sering disebut hal yang paling utama untuk penghuni bumi. Itulah kita!

"Bangun. Kita ziarah. Nggak ada tolakan yang kakak dengar!!!!"

"Kalau harimau mengamuk terpaksalah sang kelinci tunduk." ucapku tak sadar

"Ulangi!"
Aku tidak tahu hari apa sekarang, yang pasti hari ini akan sulit dihilangkan. Bagaimana tidak gigitan nyamuk akan membekas di kulitku. Inilah kadang yang membuatku sedikit malas ikut ziarah.

Saat-saat inilah yang paling tidak kuinginkan melihat makamnya saja aku sudah tak sanggup teringat akan kenangan bersamanya. Dia kakak laki-lakiku. Dia pergi setelah kecelakaan maut menimpanya. Ku tahu dia begitu dikasihi Tuhan. Hari ini ternyata hari 1 tahunnya kakakku tiada. Dengan hati tertekan kuputuskan melihat makamnya yang dihiasi keramik-keramik kecil, bunga-bunga yang indah.

Setelah acara ziarah selesai semua memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kumemandang dari sudut-sudut sepanjang kuburan. "Betapa banyaknya mereka yang telah dipanggil". Saat badanku berbalik terlihat seorang sosok lelaki memakai jaket hitam lengkap dengan kaos putih dan sepatu putih dan keadaannya sangat rapi.

Dia menatapku, aku sedikit canggung dibuatnya. Tatapannya begitu tajam bibirnya tersenyum. Aku tak mengenalnya tetapi karena penasaran terhadap lelaki itu aku mendekatinya. Kucoba sedikit memulai pembicaraan.

"Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau menatapku seperti itu?"

Dia hanya tersenyum bahkan tidak menjawab pertanyaanku. Aku seakan ngomong sendiri seperti orang gila. Banyak pertanyaan yang kuucapkan tapi hanya senyuman yang terlihat di bibirnya.

"Kau bisu? lihatlah kau ganteng dan manis tetapi begitu dinginnya dirimu hanya senyum-senyum aja yang kau lakukan. Lihatlah keluargamu sudah lama kulihat pergi dari sini tetapi kau bahkan tetap berdiri di sini sendiri. Kau tidak takut berada di sini sendirian atau kau bahkan penjaga di kuburan sini?"

Ku kira sebuah jawaban akan keluar dari bibirnya ternyata hanya senyuman manis yang dia lakukan. Mungkin dia bisu.

"Kau tidak mau pulang? Aku sudah dipanggil kakakku. Aku pulang ya, makasih udah senyum. Sampai jumpa!"

Saat sampai di rumah aku bahkan jadi sering mengkhayal karena sosok tadi. Bingung melihatnya.Tapi ya sudahlah mungkin dia tak bisa bicara. Tetapi sedikit aneh melihat dia. Saat kami meninggalkan makam dia masih tetap saja di sana. Bahkan dia duduk di dekat makam yang dia ziarahi.

Semua yang kualami hilang sejenak. Hari-hariku tidak dipenuhi sosok bayangan itu lagi. Bagaimana tidak Natal akan segera tiba. Selain hari-hari Natal yang menyenangkan ditambah lagi kado dan uang saku dari keluargaku.

Di keluarga kami hari Natal dan tahun baru sangatlah berarti karena masa ini adalah kenangan yang indah untuk kami. Dengan semangat empat lima tak ada rasa malas ziarah lagi ke makam kakakku. Walau baru dua bulan yang lalu kami baru ziarah.

Ziarah kali ini dipenuhi dengan isak tangis. Kedua orangtuaku tiba-tiba tak dapat menahan air matanya kali ini. Kakakku juga ikut-ikutan nangis. Tapi aku tidak, aku mencari kesibukan lain agar tidak larut dalam kesedihan. Jika butiran dari mataku sempat jatuh rasanya sakit itu kembali lagi. Aku tak ingin mengulangi hal yang sama. Hal yang begitu memilukan ketika tangisan itu terjadi lagi. Bagiku kakakku adalah murid kesayangan Allah di Surga. Sehingga dia dipanggil terlebih dahulu.

Seiring berjalannya waktu isak tangis itu berubah menjadi senyuman. Mereka kembali ke diri mereka. Menganggap semuanya adalah jalan terbaik. Ziarah sudah usai ketika ingin pulang terdengar tangisan dari makam lain. Kulihat ke arah makam itu ternyata aku bertemu lagi dengan sosok lelaki yang dulu.

"Kakak sama ibu dan ayah duluan. Entar aku nyusul."

Mataku tertuju pada sosok itu. Aku mendekati makam yang masih tersusun dari tumpuan tanah yang sudah dipenuhi rumput-rumput kecil. Kulihat keluarga yang dipenuhi juga dengan tangisan. Tetapi sosok itu hanya berdiri diam menatap mereka seperti yang kulakukan ketika melihat kedua orangtuaku menangis.
Pandanganku langsung tertuju pada salib yang bertuliskan nama Raino. Perlahan saat isak tangis itu mulai reda. Kuberanikan diriku bertanya pada kedua orangtua itu "Ini makam siapa bu?"

"Ini makam anak ibu nak. Dia sudah pergi dua bulan yang lalu. Dia mengalami kecelakaan ketika pulang dari sekolah nak. Mungkin jika dia masih ada, dia seusia denganmu. Dia anak ibu satu-satunya nak."

"Lalu siapa lelaki yang berdiri ini bu?"
"Tidak ada yang berdiri di sini nak. Kita hanya bertiga disini. Apa kau bisa melihatnya nak?"

"Iya bu. Aku melihat sosok lelaki bertubuh tinggi memakai jaket hitam lengkap dengan kaos putih dan sepatu putih dan keadaannya sangat rapi."

"Mungkin kamu melihat anak ibu nak. Dia lah anak ibu."

Ternyata nama sosok itu Raino, nama yang bagus. Aku Raini nama yang hampir mirip dengan nama Raino. Kau pasti bahagia di sana. Senyumanmu manis. Aku bahkan tidak mengenalmu semasa kau ada di dunia. Aku mengenalmu ketika kau sudah pergi. Titip salamku untuk kakakku di sana. Katakan kami semua merindukannya. Pergilah dengan tenang Raino. Terimakasih untuk waktu yang singkat yang bisa membuat diriku mengenalmu. Kuyakin kau dan kakakku sekarang bersama. Allah pasti menitipkanmu sebentar agar aku bisa mengenalmu. (d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru