Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 27 September 2026

Surat Yang Tertunda

* karya Muhammad Fria Fachrama Sumitro, SMAN 4 Pematangsiantar
- Minggu, 30 Juli 2017 17:57 WIB
559 view
Pematangsiantar, 10 Januari 1998
Keraguan muncul di pikiran ketika diharubiru keinginan memiliki seorang sahabat pena. Habisnya, aku mungkin tak bisa menemuinya. Belum lagi adanya kekhawatiran akan dijawab-tidaknya suratku. Tetapi, namamu adalah yang teristimewa di antara nama-nama orang yang kubaca di majalah.

"Mata bak terhipnotis oleh perkataanmu. Ternyata, ia telah jatuh hati denganmu. Aku harap kau dapat mendengar jeritan hatiku. Ia terus berteriak karena tak sabar untuk memiliki dirimu."

Rupa-rupanya, kamu pun membalasnya. Kata-kata puitis sebagai pembuka surat, memesonaku. "Senang rasanya membaca suratmu. Kata-kata yang kau tuliskan bak memunculkan sebuah rasa. Diriku pun akhirnya terlena. Tak sabar membaca lagi surat-surat darimu. Kalau begitu, aku akan selalu mengirimimu surat setiap minggunya, ya ?" tulismu di surat yang kau kirim beberapa minggu kemudian.

Melalui surat itu, kita menjadi semakin akrab walau hanya lewat tulisan. Meskipun belum pernah melihat parasmu, namun ia seperti muncul dalam benakku. Terutama, ketika tangan sedang merangkaikan kata-kata buatmu. Hingga akhirnya, muncul rasa aneh dalam diri dikarenakan keromantisan yang kau tuangkan melalui goresan pena.

"Benarkah? Kan kutunggu kau di setiap minggunya," aku membalas suratmu.

Tangan tak habis-habisnya gemetar ketika aku harus membuat lagi surat untukmu.   Kepala pun sudah kehabisan stok kata. Belum lagi jantung harus berdebar-debar memikirkan perasaan yang muncul di hatimu setelah membaca suratku. Soalnya, aku nekat menyisipkan sebuah cinta. Akankah dia suka? Atau, ini hanya biasa-biasa saja?

Tapi, sudah sewindu tak ada balasan darimu. Kau nyatanya terlalu membuatku menunggu. Kau bak ditelan Bumi. Secara misterius hilang dari peredaran. Aku pun jadi memikirkan yang aneh-aneh karena perkataanku waktu itu.

Apa dia marah sebab aku terlalu frontal menyatakan rasa ini? Akhirnya, surat-surat terus kulayangkan kepadamu. Sudah tak kupikirkan lagi uang yang keluar karena itu semua. Aku pun selanjutnya jadi bosan sendiri menanyai kabarmu. Sudah bosan juga menunggu jawabanmu. Rindu sudah terlalu lama menggerogoti kalbu.

Batinku lagi-lagi bertanya. Masih ingatkah kau dengan janji itu? Janji yang dibuat saat kau dan aku masih saling bercengkerama.

Kau tiba-tiba mengirimiku sebuah surat lusuh, "Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sebenarnya senang bersama mu. Aku sebenarnya ingin terus bersama mu. Namun, terasa ada yang menolak dalam diri. Aku tak bisa mencegahnya sehingga itu menguasai diriku. Aku merasa kalah."

Surat itu sedikit kuremukkan. Aku merasa bahwa semua yang kau katakan hanyalah main-main. Namun, itu semua menjadi serius di saat kata berduri yang sengaja kau lontarkan terus tertancap di hati yang lunak ini. Tangan tak sanggup untuk membinasakan duri itu. Darah pun akhirnya tampak dan bercucuran keluar.
Sesak menjalar dari dada ke hati. Bibir bergetar dan tak dapat lagi berucap. Tak terasa air mata mengalir perlahan. Tangisan yang turun langsung melenyapkan harapan yang selama ini telah kupupuk. Hati pun tak kunjung sembuh karenanya.

"Kau tak perlu lagi memperdulikan diriku. Jadi, jangan pernah mengirimiku surat lagi." tulismu di surat yang sama.

Kecintaan berubah menjadi kebencian. Kepedulian berubah menjadi ketakacuhan. Tega sekali kau membiarkan diri ini menangis dalam penantiannya. Penantian itu pun tak setimpal bayarannya. Surat-surat yang selama ini kau kirimi layaknya omong kosong belaka. Kau merekayasa semua rasa yang ada seolah-olah rasa yang kuciptakan telah mencapai dirimu.

Pada akhirnya, aku dan engkau yang memosisikan diri sebagai Romeo dan Juliet tidak dapat saling bertatap muka lagi. Sudah saatnya juga bagi si Punuk untuk tidak merindukan bulan lagi.

Di bawah tetesan tangis, kuakhiri rangkaian tulisanku ini. Harap-harap kau akan membacanya dan mengerti apa yang aku rasakan. Kau sejauh ini tak pernah paham yang kurasakan. Surat-suratku tampaknya tertunda untuk menuju hatimu. Ya, menuju hati yang telah mempermainkan jiwa dan raga seseorang.


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru