Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026
Cerpen

Diterangi Hujan Tanpa Bulan

* Karya: Elfrida Ludwina Rajagukguk - SMA Panti Harapan Lawedesky, Aceh Tenggara
- Minggu, 22 Juli 2018 20:13 WIB
964 view
Diterangi Hujan Tanpa Bulan
Selamat pagi, Doloksanggul. Aku bergumam dalam hati. Aku pun berusaha menguatkan langkahku sambil menahan dingin.

Semalaman dalam bus menuju daerah ini menjadikan tubuhku seperti kain lusuh yang harus dicuci dan disetrika sedemikian rupa agar tetap harum. Meski sempat ragu akan kondisi fisikku, akhirnya sampai juga dalam perkemahan Orang Muda Katolik.

Aku semula tak yakin bisa sampai tanpa sesuatu. Tadi saja, mualku sudah datang tapi entah kenapa kok tiba-tiba hilang. Padahal aku sudah menyiapkan katung plastik antisipasi manatahu muntah.

Tetapi perjalanan kali ini penuh mujizat. Saat mual mulai terasa, aku berkidung pujian. Mengenang keajaibanNya saat Yesus meredakan angin ribut di Danau Galilea. Saat itu pula percik hampir kekacauan dalam tubuhku reda.

Mengingat wajah Yesus, aku kok jadi seperti ketemu lagi dengan pria yang wajahnya lembut dengan mata sayu yang sekarang ada di pelataran Gereja St Elisabeth Doloksanggul ini.

Pria itu berwajah seperti Yesus. Minimal dalam kaca mata hatiku. Ya, tengoklah raut wajahnya yang panjang dengan hidung tergolong mancung untuk ukuran orang Indonesia.

Saat perkenalan dengan rekan sejawat, pria itu kembali mendekatiku. Aku jadi grogi tapi kupaksakan untuk tegar. Aku pun justru berharap si pria tidak menjauh dariku.

Mulai saat pembukaan yang diawali doa hingga berkidung pujian, aku tak konsentrasi. Pikiranku terus tertuju padanya.

Dengarlah... suaranya merdu sekali. Mendengar ia bernyanyi seperti hadir dalam satu konser orkestra. Tak hanya gendang telingaku dibuai tapi hatiku merasa sejuk.

Aku jadi tak mau jauh darinya.

"Kamu butuh bantuan saya?" ujarnya. Ucapan itu membuatku seperti mati langkah.

Dikatakan butuh bantuan, apa yang kuinginkan? Dikatakan tidak, tidak benar karena aku butuh dekat dengannya.

"Kamu kok diam?"

Setelah lama terbisu paku, aku menyodorkan tangan. Mengenalkan nama dan asalku.

"Apa yang kamu inginkan dari acara ini?" lanjutnya.

Aku terdiam lagi. Apa ya? Mengenalnya saja sudah bagian dari keinginanku. Tetapi, namanya ikut kemah pemuda gereja, tentu untuk memeroleh kekayaan rohani.

Saking groginya, aku tak bisa menjawab apapun. Sekarang, karena kembali bisu, ia berbicara soal moralitas agama dan filosofi kemah pemuda.

Dikhotbahi seperti ini, aku seperti sedang berada dalam retreat pribadi. Semua yang diutarakannya kuaminkan. Kuharap menjadi bagian dari kekayaan batin selanjutnya. Tetapi, sekali lagi kuutarakan, fokusku hanya padanya.

Sama ketika semua rombongan  ikut dalam kebaktian padang. Aku dan ratusan orang muda ikut, termasuk lelaki itu.

Dari kejauhan aku memandangnya. Ia pun terus memerhatikanku. Sekarang, tak ada sungkan lagi. Aku memencar dari rombongan dan mendekat padanya.

Dengarlah, suaranya merdu sekali. Aku terbuai. Benar-benar memesona batinku. Sampai ketika tiba-tiba hujan, aku tak merasa basahnya. Soalnya, ia tetap berada di tengah lapangan ditimpa hujan.

"Yuk, kita ke aula saja. Nanti kamu sakit!"
Seperti terhipnotis, aku ikut saja. Tiga hari agenda selanjutnya, aku semakin dekat dengannya. Jujur, aku tak mau lepas darinya.

Ketika malam penutupan, langit pekat. Panitia masih mengupayakan acara diadakan di lapangan dengan api unggun. Tetapi ketika mendung tebal yang menggelantung menjatuhkan hujan, acara kembali diadakan di aula.

Sampai tengah malam, aku dan pria itu terus berceloteh soal kegiatan. Tetapi aku sudah tak mendengar lagi ucapan-ucapannya. Soalnya, yang kutakutkan pagi akan datang. Itu artinya aku harus berpisah darinya.

Aku berinisiatif mengajaknya kembali ke halaman. Ke bawah pohon yang menyediakan bangku untuk duduk.

Ia bersemangat memenuhi permintaanku. Sambil bergitar, ia berkidung.

"Aku ingin bernyanyi, boleh?"

"Lagu apa?"

"Lagi Syantik."

"Lagu apa itu?"

Aku terbahak-bahak. Lagu yang kini sangat populer kok gak tahu?

Kualunkan refrainnya, tapi ia masih tak tahu. Meski demikian, ia berusaha mengiringiku. Meski berulang kali kubawakan, ia masih belum bisa mengiringku.

Tetapi, untuk lagu-lagu religi, semua dilayaninya. Bahkan ia menuntunku menyanyikan lagu Gregorian.

Aku bergelanyut di pundaknya. Ia terus dengan gitar dan lagu-lagu yang sama sekali tak pernah kudengar tapi memberi kesejukan. Sampai pagi menjelang dan hujan menitik, aku terus terbuai.

Tetapi, aku jadi menyesal mengenalnya karena ia tidak merespon keinginanku untuk lebih intim padanya. Alasannya, ia tak mau meninggalkan biara. (c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru