Hidup itu seperti roda yang terus berputar di atas dan ada saatnya di bawah. Ya itulah yang sedang dialami Chika. Chika hidup dari kalangan berada. Segala sesuatu yang diinginkannya bisa didapatkannya. Sewaktu duduk di bangku SMA, dia sering Hang Out bersama teman-temanya. Pergi Shooping, nonton, salon, traktir teman, ya itulah yang sering dilakukan Chika bersama teman-temannya. Sungguh uang telah mengaturnya.
Sebentar mendapatkan uang sekejap juga uang itu lenyap. Seiring berjalannya waktu, putih abu-abu pun sudah dilepas. Chika dan sohibnya melanjutkan perguruan tingkat tinggi. Tapi sayang, Shila harus berpisah dengan sohibnya karena dia akan ikut orangtuanya pindah ke Bandung.
Memang setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Perpisahan itulah yang berat bagi mereka bertiga, tapi mau gak mau harus terima. Ria dan Chika satu kampus dan sama-sama mengambil Jurusan Akuntansi. Saat masa ospek terakhir Chika datang terlambat dan dia diberi hukuman nyanyi di depan teman-teman ospek.
“Wowâ€, teriak ria yang satu kelompok ospek dengan Chika juga.
Sebagian teman-teman yang lain pun bertepuk tangan karena mendengar suara merdu Chika.
“Diam, siap suruh kalian bertepuk tangan?†teriak salah satu kakak ketua ospek yang bernama Erik. Sambil memegang coklat, Erik datang mendekati Ria, Ria pun merundukan kepalanya dan gugup ketika Erik langsung datang di hadapannya, karena Erik adalah salah satu cowok idamannya saat pertama kali jumpa di ospek pertama.
“Kamu nanti datang jumpai saya di kantin. Kamu dengar itu,†uca Erik dengan suara meninggi.
“Iya kakâ€, jawab Ria dengan gugup.
“Ok kita istirahat. Nanti jam 3 kumpul di aula,†teriak salah satu kakak ospek yang bernama Sinta.
Semua pun bubar, Ria pergi berlari menuju Chika yang lagi duduk di bawah pohon sambil mengipaskan lehernya dengan kedua tangannya.
“Chik gimana ni ?†sahut Ria dengan takut.
“Ya udah jumpai sana. Paling dikasih coklat,†ucap Chika dengan senyum manisnya.
“Ikh Chika, orang lagi serius. Aku tu grogi jumpa sama dia. Yah kau tau sendiri kan dia itu cowok idamanku,†ucap Ria sambil senyum-senyum membayangkan wajah Erik.
Tiba-tiba cowok berbadan tinggi, berkulit kuning langsat dan memiliki lesum pipit datang mendekat mereka. Sambil mengulurkan tangannya ke Chika. “Kenalkan saya Yoga kakak senior kalian semester akhir.
“Chika,†balas Chika sambil tangannya mengipas-ngipaskan lehernya yang masih kepanasan.
“Riaâ€, sambil melambaikan tangan kanannya.
Yoga pun duduk bergabung bersama mereka.
“Ya udah ya Chik, aku pergi dulu jumpai pangeranku,†ucap Ria sambil bergegas diri mau menuju ke kantin.
Chika hanya menganggukkan kepalanya.
“Bagus ya suaranya, kenapa gak ikut Indonesian Idol aja,†sahut Yoga.
“Biasa aja kali, gak ada bagusnya,†jawab Chika dengan nada merendah. Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam tiga, Ria pun datang menemui Chika.
“Lama juganya ngobrolnya, tapi Chika aku bawaknya kak Yoga karena sekarang kami mau ngumpul di aula,†sahut Ria sambil menarik tangan Chika.
“Oh iya, bye Chik,†balas Yoga dengan kedua lesum pipitnya.
“Senyum Chika,†balasnya. Tiba di aula mereka saling cerita. Ternyata secara tak sengaja malam minggu nanti mereka diajak kencan, Ria diajak Erik dan Chika diajak Yoga. “Sungguh tak disangkanya bisa samaan gini,†ucap Ria.
Waktu pun terus berputar, tepat malam minggu mereka pun pergi dengan pasangan mereka masing-masing. Keesokan harinya, Ria datang ke rumah Chika. Mereka saling curhat satu sama lain. Tak disangka tepat di malam minggu kemarin, mereka sah jadian dengan pasangan masing-masing.
“Sungguh di luar dugaanku ini. Di hari yang sama kita kencan dan jadian dengan pasangan kita, aneh tapi nyata ya say,†ucap Ria yang dengan senyum kegirangan.
Seiring berjalannya waktu, tak terasa Chika sudah semester enam. Tapi Chika sudah jarang datang ke kampus. Ditemui Yoga, Ria yang sedang membaca buku di kelasnya.
“Ri, Chika kenapa jarang datang ke kampus sekarang?†kata Yoga dengan wajah melemas.
“Aku juga gak tau kak,†jawab Ria dengan penuh rahasia dan membalikkan badannya.
“Gak mungkin kamu gak tau Ri, kamu teman dekatnya. Tolong Ri cerita ke aku,†balas Yoga dengan wajah memelas.
“Aku gak tau kak, Sorry kak aku mau pergi ada janji sama Erik,†jawab Ria sambil berlari meninggalkan Yoga sendiri dalam kelas.
Malam harinya, Chika yang lagi duduk menyendiri ditemui di teras rumah oleh Ria dan Erik.
“Chika, sahut Ria sambil berlari memeluk temannya.
“Kamu kenapa, Ri?†tanya Chika dengan wajah yang bingung sambil perlahan melepaskan pelukan Ria.
“Kapan ke kampus lagi, Aku gak ada teman. Kangen aku. Yoga juga nyariin kau,†jawab Ria dengan raut wajah sedih.
“Aku juga gak tau kuliah lagi atau gak ni Ri, kehidupan keluarga ku yang udah melarat, uang sekolah adik-adikku juga nunggak, ayahku sudah buta ditambah lagi utang-utangku ke orang-orang. Gak tau mau mengadu ke mana. Saudara pun buang muka. Sakitnya hidup ini,†ucap Chika dengan melinangkan air matanya.
“Kamu jangan putus asa gini, Chika. Semua ada jalan keluarnya. Kamu masih bisa carik kerja biar kamu bisa mencukupi keluargamu. Kalau perlu minta tolong sama Yoga dia pasti bantu kamu,†balas Erik.
“Gak usah. Aku gak mau membebankan orang. Aku pun udah jatuhkan lamaran kemana aja tapi belum ada panggilan, tapi ada satu yang bisa aku lakukan,†jawab Chika sambil mendiamkan ucapannya sejenak. Dengan wajah penasaran.
“Apa yang mau kau lakukan Chik?†tanya Ria.
“Aku mau donorkan mataku dan jual ginjalku. Semalam aku dah pergi ke salah satu rumah sakit dan sabtu ini aku akan donorkan ginjalku dan mataku,†jawab Chika.
“Apa? Gak usah belajar gila lah Chika. Kau becanda kan?†tanya Ria dengan wajah gak percaya. “Pikirkan matang-matang Chik. Jangan langsung ambil keputusan secepat itu,†balas Erik dengan nada meninggi.
“Semua itu udah kupikirkan matang-matang dan kumohon jangan beri tau keluargaku dan jangan sia-siakan kepercayaanku ini. Yoga juga diberi tau,†jawab Chika sambil merangkul temannya.
“O ya, Sabtu ini dia wisuda kan! Titip salam sama dia ya,†ucap Chika lagi.
Dengan melinangkan air mata dan rawa kecewa, Ria pergi berlari meninggalkan Chia. Erik pun tanpa pamit berlari mengejar Ria.
“Aku sayang kalian,†ucap Chika dalam hati.
Tepat di hari Sabtu, Chika beserta keluarganya pergi ke rumah sakit.
“Nak, kita gak ada uang untuk operasi mata ayahmu,†ucap ibu dengan wajah memelas.
“Udah ibu tenang aja, ada orang yang bersedia mendonorkan mata ke ayah. Sekarang ibu dan adik tunggu di sini aja. Biar aku yang mengantar ayah. Ntar kalau sudah selesai operasinya, saya akan panggil ibu,†ucap Chika.
Enam jam kemudian dokter datang menemui ibu Chika.
“Ibu sekarang sudah bisa menemui bapak,†ucap dokter. Lalu ibu dan adik pun pergi menemui ayah. Ketika masuk ke dalam kamar, mereka terkejut ayah sudah bisa melihat dan mereka langsung memeluk ayah. “Chika mana Bu,†tanya ayah.
“Mari pak kita menuju kamar Chika,†ucap dokter.
Mereka pun pergi menuju ke kamar Chika, sesampai di kamar keluarga terkejut Chika ditutup dengan kain panjang warna putih. “Kenapa dengan anak saya, Dok?†tanya ayah.
Lalu dokter menceritakan yang sebenarnya kepada keluarganya. Mendengar cerita itu keluarga menangis dan ayah lari memeluk Chika.
“aaaaaaaaaa,†teriak ayah. “Ginjalnya yang satu sudah tidak berfungsi lagi pak. Sudah lama dia menahan sakitnya tapi dia tidak mau memberi tau keluarganya, karena dia tidak mau membebani keluarganya. Dia hanya menitipkan surat ini Pak,†ucap dokter.
Dua jam kemudian saat mau ke penguburan Chika, teman-teman Chika datang. Yoga masih tak percaya melihat ini semua. Sesampainya di pemakaman, Yoga hanya melinangkan air mata.
“Mana janjimu Chik, tepat di hari wisuda kau tinggalkan aku. Aku udah nyiapkan kado untukmu Chik, liat Chik cincin ini. Kuukir nama kita Chik,†ucap Yoga dalam hati.
“Yog, buat aja kadonya ke dalam,†sahut Erik sambil memegang bahu Yoga.
Yoga hanya menganggukkan kepala dan memasukkan kadonya kedalam.
“Kutitip cincin ini Chik, tolong jaga cincin ini Chik. Makasi s’lama ini udah nemani aku. I miss you Chika. Tapi itu lah takdir, hidup dan mati sudah diatur sama yang diatas. Semua pun akan kembali sama Tuhan. Kapan pun ajal tiba, harus siap menerimanya.
Sepulang dari penguburan, keluarga membaca surat dari Chika. Isi dari kutipan surat Chika, “ayah, ibu dan adik-adikku Chika minta maaf kalau slama ini Chika udah banyak salah. Aku ngelakukan ini karna aku sayang kalian semua. Semasa hidupku, Chika udah banyak bebani ayah dan ibu. Dan hanya dengan cara ini Chika b isa membalasnya. Tolong jaga mata Chika ya yah dan moga debngan uang itu keluarga kita bisa hidup lebih baik lagi, ternyata harta bukan diatas segala-galanya. Harta hanya sementara dan sekejap bisa melenyapkan kita. Tuhan yang sudah menyadarkan ku dan mengajariku arti hidup yang sebenarnya. Makasi ya Tuhan, buat pelajaran yang udah Kau berikan untukku. I Love You Godâ€
(h)