Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 April 2026

Tak Kan Tergantikan

* Curhat Febri Annayah Priadi, SMAN 2 Rantauselatan, Rantauprapat
- Minggu, 13 Juli 2014 14:45 WIB
360 view
Tak Kan Tergantikan
Seperti biasa, aku harus melakukan ritual rutin yang tak bisa diabaikan satu kali pun. Bangun tidur, langsung ke kamar mandi. Membasuh wajah dan kumur-kumur guna menyegarkan mulut. Terus mengeluarkan potongan-potongan kayu dari dapur ke halaman belakang. Harapannya, nanti siang panas terik hingga matahari mengeringkan benda yang menjadi bahan bakar ibuku memasak.

Meski pagi, karena kerjanya tergolong berat, badan jadi berkeringat.  Apalagi bila sekali dua kali membantu ibu meniup api di tungku agar tetap marak. Minimal menjaga kelangsungan panas agar masakan yang dikerjakannya cepat selesai. Soalnya, jika api tidak hidup, air yang terjerang akan lama masaknya. Bagaimana ibu harus membuat kopi untuk ayahku. Bagaimana ibu membuat teh manis untuk kami anak-anaknya.

Bila apinya tak hidup, bisa-bisa kami sekeluarga tak minum. Bahkan tak sarapan. Itu sebabnya, kadang aku bersyukur dengan kawan-kawan sekelas. Mereka kadang mengeluh tak sarapan karena listrik putus. Aku sempat berpikir, apa hubungannya listrik dengan makanan.... Sebaliknya kawan-kawanku heran, kok aku selalu bilang gak bisa ikut main-main karena mencari kayu ke kebun karet? Kayu untuk bahan bakar.

Ibu pernah masak pakai listrik tapi nasinya tidak seenak bila pakai kayu bakar. Ayah pun lebih suka makanan yang diolah di atas tungku ketimbang pakai penanak listrik

Bayangkan. Di zaman yang canggih begini, kami masih melewati hari-hari seperti di era tempo doeloe. Kadang timbul rasa bosan dan marah. Kenapa aku tidak seperti orang yang hidup di zaman modern!

Soalnya, sedang enak-enaknya tidur, harus bangun dan melakukan pekerjaan yang membosankan. Kadang, kepala sampai terantuk karena beraktivitas sambil terkantuk-kantuk. Tapi semua harus dilakukan.

Setelah pekerjaan itu, aku kembali ke kamar. Membersihkan tempat tidurku. Barulah masuk ke kamar mandi lagi guna persiapan ke sekolah.

Begitu terus yang kulakukan. Jujur, aku kadang kepingin berganti posisi dengan kawan-kawan lain, khususnya kawan di sekolah. Mereka bisa enak-enakan menjalani hari-harinya. Bahkan, ada yang diantar mobil. Aku cuma naik sepeda janda! Hahaha...

Saat pengumuman Ujian Nasional, kawan-kawan cerita rencana kuliah ke kota dan masuk universitas pilihannya. Aku? Hm... cuma ikut jalur undangan yang sudah ditentukan sekolah. Itu pun dengan banyak pertimbangan biaya yang harus dikeluarkan bila aku numpang di rumah kerabat ibuku di kota.

Dengan berat hati pula aku harus meninggalkan keluargaku di kampung karena diterima kuliah di kota bermodal beasiswa. Tetapi, saat melalui hari-hari baru dengan lingkungan sangat berbeda dari kampung halaman, aku baru merasakan betapa yang kulalui selama ini memberi manfaat positif.

Saat di desa, aku terbiasa bangun pagi dan beraktivitas. Ketika di kota, begitu terjaga dari tidur, waktu yang ada langsung bisa kugunakan untuk belajar. Aku pun punya waktu lebih banyak untuk berdoa. Aku memanjatkan permohonan untuk kesehatan orangtuaku, kelimpahan rezeki dariNya. Sebab, tanpa itu semua, tak mungkin aku sampai di kota dan melanjutkan studi seperti sekarang ini.

Kadang aku rindu pada ibuku. Bukan karena sekarang jauh darinya, tapi terpikir siapa yang membantu perempuan yang melahirkanku itu mencari, memotong dan mengeluarkan kayu-kayu untuk bahan bakar setiap harinya. Betapa beratnya beban yang ditanggungnya.

Aku pun ingat ayahku. Siapa yang membantunya mengantar hasil kebun sewaan ke tengkulak? Siapa yang mengerjakan memungut karet basah dari mangkok-mangkok hasil menderes? Pasti ibuku yang ikut membantunya. Jika itu dilakukan, kapan ibuku istirahat atau sekadar meluruskan badan di siang atau sore hari?

Rasanya, aku ingin berlari ke kampung halaman dan melakukan itu lagi. Tetapi ayahku tidak mengizinkannya. Ibuku pun menentang lebih keras keinginanku tersebut. Menurut mereka, sekolah lebih penting dari semua kegiatan lain, termasuk  membantu mereka di kampung. Bagi mereka, yang dapat membahagiakannya adalah keberhasilan studiku. Aku sih menerima alasan tersebut tapi menjadi beban buatku.

Aku pun tak tahu harus berbuat apa-apa, selain menuruti kemauan orangtuaku. Cuma satu tekadku, cepat tamat dan mengabdi untuk membalas apa yang dilakukan orangtuaku selama ini. Meski kuyakin, apapun yang kulakukan tidak bakal menggantikan pengorbanannya. (r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru