Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 April 2026
Cerpen

Cinta Yang Tersakiti

* Karya: El Fri, Simalungun
- Minggu, 12 April 2015 16:37 WIB
511 view
Cinta Yang Tersakiti
Tersakiti pastilah menyisakan luka di hati. Aku tak ingin itu. Aku tak pernah memimpikan itu. Aku benar-benar tak pernah mengundang sakitnya luka itu. Tapi sakit dan perih itu datang menghampiriku yang terpuruk letih. Datang begitu saja. Sesukanya. Tiada ajakan maupun undangan. Aku hanya bisa diam menderita dalam siksanya sakit itu. Seakan itu sudah menjadi bagian hidupku. Bagian cerita hidupku yang harus kualami. Sungguh bukan impianku.

Tapi, sakit itu seakan tak mampu melumpuhkan rasa cinta yang pernah singgah di lubuk hatiku. Rasa cinta itu seakan menjadi penawar derita yang dengan keji menyiksaku. Terlalu baik mungkin hati ini. Tapi, itulah adanya. Aku juga tak tahu dari mana hati ini tercipta. Yang aku tahu, bahwa hati ini masih asyik merasakan cinta yang pernah bersemi itu. Seakan sakit itu tak pernah ada.

Kini aku pun larut dalam kesendirianku. Aku tak berhasrat tuk mencari yang lain. Aku terlalu nyaman dalam kesendirianku. Aku terlalu hidup dengan bayang-bayang dirinya. Aku juga tak tahu entah sampai kapan aku akan bertahan dalam bayang-bayang kesendirian yang tak jelas ini. Aku hanya tahu bahwa hati ini masih setia tuk menanti suatu mukjizat. Suatu mukjizat yang mungkin hanya ada dalam hayal-hayal indahku. Aku hanya terbuai dalam indahnya mimpi itu. Padahal, aku tak tahu entah di mana dan dengan siapa dirinya sekarang. Aku benar-benar kehilangan dirinya, seutuhnya, selain rasa cinta yang masih bergelora dalam sakit ini.

Haha….
Terlalu setiakah diri ini? Terlalu poloskah aku? Atau tolol? Aku juga tak tahu. Tapi hati ini seakan tak mau diajak kerja sama. Hati ini terlalu asyik dengan dirinya yang tak bisa dimengerti jika hanya mengandalkan rasio. Gini nih kalau cinta yang lagi dimabuk sindrom kasmaran tingkat tinggi. Rasanya sakit itu bisa saja menjadi bahagia. Tak pernah ada kesempatan untuk mengatakan sedih. Hanya ada senang luar biasa.

***
"Bang, aku senang luar biasa jika kamu memberikan aku kejutan-kejutan manis seperti ini. Tapi ini hanya membuatku semakin terpuruk dalam sakit. Ini sama saja bahwa kamu menghukumku. Terlalu sakit bagiku, Bang. Mungkin niatmu sungguh baik. Aku mampu merasakan itu, kok. Tapi rasanya jauh lebih baik jika kita cukupkan aja. Mungkin akan sangat lebih baik jika kamu berhenti membuat momen-momen surprise untuk aku. Inilah yang terakhir."

Kata-kata yang membuatku tersentak luar biasa. Aku hanya bisa menganga kaget. Tak menyangka bahwa niat tulusku akan menyisakan luka yang amat mendalam. Memang benar kata pepatah bahwa sakitnya ketika pemberian kita ditolak itu lebih sadis daripada meminta tapi tak diberi. Dua kali lipat pun lebih. Aku benar-benar terkejut. Rasanya harga diri ini diinjak-injak. Seperti ditelanjangi di depan orang banyak. Tak tahu entah kemana harus menyembunyikan wajah ini. Aku tidak tahu entah sudah berapa kali kuremas-remas kepalan tanganku. Aku hanya tahu bahwa emosi marahku sedang memuncak. Rasa kecewaku amat serius. Aku hanya bisa menahan getaran amarah yang memenuhi diriku.

"Ternyata kamu tak pernah bisa mengerti aku. Mungkin tak akan pernah bisa." Hanya itu kata yang terucap tuk mewakili rasa sakit yang kurasakan. Percakapan pun berakhir di situ. Setelah itu, semua pun tinggal kenangan yang mewarnai hari-hari. Komunikasi putus total. Aku pun tak tahu menahu tentang dirinya dan sebaliknya.

***
Kenangan itu amatlah pahit. Sungguh menyakitkan. Tapi kok aku tak bisa mengatakan bahwa aku benci dia. Malah sebaliknya, yang senantiasa keluar dari kedalaman hatiku, adalah pernyataan yang sungguh geli di telingaku sendiri. Mungkin juga di telinga orang yang mendengarnya. Masa aku masih menyimpan cinta bagi dia yang jelas-jelas sudah menyakitiku. Lucu dan membingungkan juga. Tapi memang demikianlah adanya. Aku tak berdusta. Bahkan aku masih sering memikirkannya dan merindukannya. Sebagai bukti bahwa aku masih menyimpan rasa cinta baginya, adalah statusku yang masih juga jomblo hingga sekarang. Yah, klo dia tahu akan perasaanku ini, pasti dia akan menertawakanku. Dia pasti akan mengolok-olokku. Mungkin dia akan kembali merendahkanku.

Tapi, kok aku tidak yakin dengan itu ya? Kenapa hatiku berkata lain. Sepertinya dia juga merasakan hal yang sama. Pasti dia juga masih jomblo, sama sepertiku. Masa ia? Aku hanya asyik menghibur diri. Pernyataan yang aku sendiri tak yakin. Lucunya.

Secepat kilat aku menjelajah di dunia maya. Berbagai jenis jejaringan sosial yang sedang gencar digunakan anak muda masa kini kujelajahi. Tapi aku harus menelan rasa kecewa. Aku tak menemukan apa yang kuinginkan. Nihil. Hanya ada kekecewaan dan frustasi. Tapi aku tak mau kehilangan akal. Aku tahu, bahwa dia pasti punya teman. Dari sekian nama yang pernah kukenal saat kami masih memiliki hubungan pun menjadi targetku. Memang banyak dari nama itu yang kutemukan di jejaringan sosial. Tapi sama saja, karena mereka tidak memberikan informasi seputar wanita itu. Kembali aku masuk dalam jurang kekecewaan.
Aku pun hanya bisa memejamkan mata sekejap sembari menarik nafas panjang. Mencoba meraih sedikit ketenangan dari udara segar di sekitarku. Berkali-kali aku melakukannya hingga ada ketenangan yang kurasakan.

"Bang…aku senang pernah merasakan cinta ini. Aku tidak tahu apakah cinta ini benar atau salah. Aku tidak tahu apakah ini tepat. Aku hanya tahu bahwa aku bersyukur pernah merasakan cinta ini. Mungkin tidak untuk selamanya. Tapi akan selamanya ada dalam hatiku yang terdalam. Aku bukanlah wanita sempurna, tapi aku berjuang untuk menjadi yang terbaik bagiku. Semoga kamu juga berasa bahagia dan bersyukur karena pernah mencintai wanita sepertiku. Lv u till the end."

Tulisan itu masih tersimpan rapi di dompet kusamku. Kertas kecil itu menjadi penghuni tetap di dompetku. Entah sudah berapa kali aku membaca ulang tulisan indah itu. Setiap kali aku merindukannya, itu adalah obatnya. Seakan tulisan itu mampu menghadirkan sosok yang kurindukan itu. Ketika aku membacanya, rasanya dia hadir dan secara langsung menyampaikannya.

Yah…begitulah aku melalui hari-hariku dalam kesendirianku. Ternyata wanita yang telah menyakiti itu tidak hanya merampas seluruh harga diriku. Tapi, hatiku juga telah ia renggut seutuhnya. Hingga aku tak mampu memberikannya kepada yang lain. Dia telah memenuhi seluruh ruang dalam hatiku. Tiada sisa. Aku hanya berpasrah dalam cinta juga sakit yang telah ia ukir dalam hatiku. Mungkin sang waktu akan membantuku tuk memulai sekali lagi. Mungkin akan bersama dia atau juga dengan wanita lain. Aku juga tak tahu. Aku hanya tahu, bahwa aku masih merindukannya. Meskipun rindu itu hanya menyisakan sakit di hatiku. 

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru