Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 April 2026
Cerpen

The Exam Loving

* Karya Cok Motung H Manurung, Pematangsiantar
- Minggu, 19 April 2015 16:56 WIB
271 view
The Exam Loving
"Kenapa hari ini begitu berat?" Dimas mencoba-coba memilih jawaban yang tepat seturut pertanyaan batinnya. Suntuk, muak, dan superbete menjadi teman akrabnya seharian penuh di sekolah. Pagi memang merona sewaktu ia bangkit dari tempat tidurnya, tapi hatinya langsung disambar badai saat lonceng sekolah berbunyi. 

Dimas memasuki ruangan kelasnya dengan gaya kebanyakan pria di kelasnya. Seragamnya dibiarkan kasak-kusuk demi menonjolkan sifat cool yang dimilikinya. Belum sempat ia duduk di pojok kelas, Sitta, musuh bebuyutannya diam-diam telah mengganti kursi Dimas dengan kursi jompo yang ada di gudang. Bruaakkkkk.....

Dimas tak dapat mengelak lagi. Ia terjatuh sementara Sitta tertawa-tawa unlimited di depan black rivalnya itu. Seisi kelas mengikuti aksi Sitta, tertawa sepuasnya. Mereka beruntung mempunyai Sitta yang berani menantang Dimas, orang paling gelap di SMA Karya Pustaka. 

"Pasti elo kan yang rencanain semua ini?" Dimas bangkit dan menyentak kakinya. Ia tidak terima diperlakukan seperti ini di depan banyak orang, terutama oleh seorang cewek blagu yang tak pernah jinak dengannya. 

" Ye.... siapa yang sudi berurusan sama elo. Blekkk"Sitta ngeloyor ke mejanya dan bersikap seolah tidak ada apa-apa. Sesekali ia curi-curi pandang ke arah Dimas yang berjalan menghentak layaknya seorang prajurit zaman Napoleon. 

"Dimas, mau kemana kamu?" belum sempat Dimas beranjak lima langkah, Bu Rosita sudah memergokinya merangkul sebuah kursi yang telah patah kakinya. "Bukankah lonceng masuk kelas sudah berbunyi dari tadi?" lanjut Bu Rosita, kali ini dengan nada agak meninggi. 

"Saya mau mengganti kursi saya, Bu" jawab Dimas gelagapan. Ia menoleh ke belakang dan ditangkapinya pandangan Sitta yang mengikatnya ke dunia lain. Semua terasa berhenti, sunyi, untuk beberapa saat..... " Dimassss....... jawab ibu!" Ibu Rosita teriak.

***
Jam Olahraga
Sitta berlari sekencang-kencangnya sambil sesekali menengok ke belakang. Ia mempercepat langkahnya saat ia menyadari Dimas sudah hampir mendapatkannya. Di sisi lain, ia merasa bersalah karena kejadian tadi pagi di Sekolah. Ia tak serius ingin bermusuhan dengan Dimas, namun ia hanya ingin mencari kesenangan dengan mengganggu Dimas. 

"aaaaa……tolonggg" teriak Sitta saat ia merasakan bau badan Dimas dari belakangnya. Sitta mempercepat langkah, namun.. "awwwww" tepat saat Dimas mendekap lengannya, Sitta sudah sempoyongan karena telah menabrak Andre, salah seorang murid kelas IPS, tepatnya mantan pacar Sitta. 

"Elu, kalau jalan hati-hati dong. Kalau mau cari perhatian gak gitu caranya. Gimana sih.!" Andre tiba-tiba meledak membuat Sitta mengerjap tak percaya. Ternyata Andre tak seperti yang ia kira selama ini. Dulu sewaktu mereka berpacaran, bisa saja Andre bersikap manis layaknya kucing rumahan pada Sitta, ehhh ternyata Andre adalah Herder yang baru dilepas tuannya, galak bener. 

"Eh, Bro. Santai aja kali kalo ngomong sama cewek. Gak usah kasar gitu!" tiba-tiba Dimas juga meledak. Hal ini tentu membuat Sitta mengerjap lagi. Bukankah tadi Dimas marah pada Sitta dan mengejar Sitta sebelum insiden ini terjadi? 

"Oh, jadi elu mau belain ni cewek. Oke, lu urus aja sendiri."

"bukkk.." kepalan tinju Dimas melekat di pipi Andre. Sontak, Andre merintih kesakitan dan sambil terengah berkata "Awas lu nanti. Gue hajar loe." 

Sitta masih menunduk saat tangan Dimas bertanya "Lu gak apa-apa kan?" Kali ini Dimas berkata sedikit halus. Tentu Sitta masih diam seribu bahasa, ia hanya menggelengkan kepalanya dan menatap Dimas. Tak disangka Dimas adalah lelaki yang baik, pikirnya. Keheningan meraja sebentar sampai Sittan menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Kemudian ia berkata "Ia, aku gak apa-apa kok. Makasih ya, Dim." Seulas senyum manis mengikuti perkataannya dan tepat saat itu juga pandangan mata Dimas dan Sitta bertemu. Hening lagi.

"hmmm… ngomong-ngomong aku minta maaf ya, Dim soal kejadian tadi pagi. Sorry banget ya. Kamu pasti malu banget kan?" lanjut Sitta lirih.

"Ia gak apa-apa, aku gak marah lagi kok, sorry juga ya." balas Dimas juga dengan senyum maskulin yang saat ini membuat hati Sitta kembali berkobar setelah sekian lama redup dan galau. Jantung Sitta serasa ingin meledak saat tangannya didekap oleh telapak tangan lelaki tampan di hadapannya itu.

"Kalau kamu gak apa-apa dan permusuhan kita usai, kita boleh berteman dong." Ucap Dimas. Sitta hanya membalas dengan senyum lalu berlalu begitu saja meninggalkan Dimas yang juga tersenyum lebar.

Dimas tak menyangka ia juga harus berusaha ekstra untuk menahan jantungnya keluar dari dadanya. Ia merasa nyaman sekaligus gugup tingkat dewa jika melihat senyum Sitta tadi. Apakah aku menyukainya? Tanya Dimas dalam hati.

***
Sitta memang masih belum mengerti apa arti cinta sebenarnya, tetapi ia bisa merasakan suatu kenyamanan jika dekat dengan Dimas. Meskipun ia masih memilih mengubur rasa itu dalam dalam, tetap saja sesuatu akan tumbuh. Di lain pihak Dimas juga merasakan hal yang sama. Untuk saat ini, ia lebih memilih untuk menikmati masa PDKT-nya ini. Meskipun ia sangat berharap Sitta dapat membangun tembok yang tinggi bagi lelaki lain. Biarlah pelajaran dan sekolah yang menjadi tuan tanah di hati Sitta dan Dimas untuk usia mereka saat ini. Lalu Dimas akan lansung bertindak setelah ujian selesai. Paling tidak pikiran keduanya tidak terbagi, bukan?(c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru