Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 April 2026

Menteri PP-PA: Proteksi Remaja dari Human Trafficking

- Minggu, 26 April 2015 16:50 WIB
323 view
Menteri PP-PA: Proteksi Remaja dari Human Trafficking
Donna Yulietta Siagian
Jakarta (SIB)- Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Menteri PP-PA) Yohana Yembise minta remaja diproteksi dari human trafficking. “Biasanya remaja diiming-imingi dengan pekerjaan yang menarik dan gaji tinggi. Tapi ternyata, mereka dibawa keluar negeri untuk menjadi pelaku prostitusi,” tandas Guru besar pertama perempuan dari Universitas Cenderawasih (Uncen), Jayapura itu dalam pertemuan Bakohumas Kementerian PP-PA di Jakarta.

Menurut perempuan berdarah Papua itu pihak yang mengeksploitasi megincar remaja dengan janji gaji tinggi. “Biasanya para mucikari ini mencari remaja di desa-desa kecil dan miskin. Kemudian, mereka terjebak ke dalam prostitusi!”

Di Medan, Jumat, (24/4), aktivis perempuan Donna Yulietta Siagian mengatakan, ada ‘pertemuan’ antara yang berkepentingan dan kemauan hingga muncul kasus human trafficking. “Jika karena ketidaktahuan, solusinya gampang yakni cukup hati-hati. Namun jika karena kemauan, harus lebih njelimet mencari solusi. Akarnya adalah mental pribadi yang bersangkutan,” tandasnya di jeda  Turnamen Futsal Antar-SMA Se-Sumut Partai Perindo Cup di The Champhion Jalan Bhayangkara Medan.

Perempuan yang menjabat sebagai Head of Permanent Committee of Social and Corporate Sosial Responsibility Kadin Medan itu mengatakan, benar iming-iming imbalan gaji menjadi prioritas. Menurutnya, bila tidak terdesak keinginan yang hedonisme atau konsumerisme, tawaran gaji tinggi masih  dapat dikesampingkan. “Tetapi, bila dalam diri pribadi remaja itu sudah ada bakat dan kemauan konsumerisme dan hedonisme, tanpa ada tawaran gaji pun secara ‘sukarela’ masuk dalam dunia prostitusi!”

Pengurus Partai Perindo Sumut yang dikenal kritis itu mengatakan, preventif prioritas dari maraknya kasus human trafficking adalah pengawasan dalam keluarga. Kemudian dalam memasuki dunia kerja, jangan sampai, pekerjaan yang dipilih anak menjadi hal negatif dan merugikan diri sendiri. “Percuma orangtua memasukkan anaknya ke sekolah ekslusif jika di rumah justru diajarkan untuk konsumtif dan hedonisme. Bila kondisi itu terjadi, justru semakin menambah ‘kepintaran’ si remaja menjadi korban prostitusi bahkan human trafficking!”

Donna Yulietta Siagian menegaskan, sejak dini orangtua berperan mengajari anak untuk bertanggung jawab pada dirinya sendiri. “Sekolah formal melengkapi dengan daya nalar dan intelektualitas tapi semuanya bersumber dari moral dalam keluarga!”

Perempuan yang mengibarkan unit usaha dalam bendera Jonathan Citra Mandiri itu pun menggariskan, dunia pendidikan, instansi terkait penempaan sumber daya manusia Indonesia harus turun ke lapangan guna mencari tahu kenapa di Indonesia itu remajanya punya pola konsumerisme dan hedonisme yang tinggi. Secara makro, lanjutnya, kan sudah tahu bahwa kini Indonesia masuk dalam pusaran globalisasi tapi tak serta merta menjadikan remaja jadi korban. “Kuncinya ya itu tadi... tanam dan suburkan moral agama serta adat dalam keluarga. Jika fondasi sudah kuat, tinggal mengontrol dan mengarahkannya,” tandas Donna Yulietta Siagian sambil berharap kiranya pemerintah pun berperan semakin maksimal dalam mengontrol  masuknya hal-hal yang beraroma asing.

Menurutnya, MEA 2015 cuma mengatur arus barang dan modal tapi kalau soal moral agama dan adat-istiadat tetap tiap negara diberi hak prerogratif melakukan filter. (t/r9/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru