Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 05 April 2026
Cerpen

Kepingan kebenaran

* Karya: Juliana Savitri Harianja, SMAN 4 Pematangsiantar
- Minggu, 07 Juni 2015 18:26 WIB
360 view
Kepingan kebenaran
Kenapa? Saat secangkir air bening ternoda oleh minyak yang kotor itu seperti keburukan yang terkuak. Kenyataan yang terkuak dari kesaksian yang ada. Menghampiri telingaku dan menusukku dari belakang. Tangisan terkuak hingga tak terdengar lagi. Hanya satu yang ingin kutanyakan pada kalian jelaskan padaku kenyataan yang sesungguhnya! Diam… kalian tak usah menjelaskannya karena aku tak menginginkannya lagi. Kini aku sudah mengetahui segalanya. Kalian adalah pembohong…. Kepingan puzzle yang kususun kini hancur lebur seperti ikatan cinta yang ada pada kita. Kini kegelapan menghantui setiap jejak kakiku.

" Maafkan Ayah dan Ibu, Lia!" ucap ibu dengan penuh isak tangis

"Jika aku mengetahui semuannya dari kalian aku pasti akan langsung memaafkan kalian, tapi kalian menyimpan semua rahasia ini selama 20 tahun!" teriakku keras pada mereka.

" Maafkan Ayah dan Ibu, Lia. Mereka tak bermaksud membohongimu. Mereka hanya ingin membuatmu bahagia," ucap saudaraku Nia.

"Mungkin aku bisa memaafkan mereka, tapi aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk melupakan kejadian ini, Kak!”.

Siang mencekam yang penuh dengan tetesan kristal-kristal bening, kebohongan dan teriakkan kini berganti menjadi malam yang penuh dengan kesunyian. Canda tawa yang biasa terlahir menghancurkan kesunyian malam kini telah hilang ditelan bumi. Kini yang ada hanya deruan angin malam yang menusuk ke tulang-tulang. Seorang lelaki mengetuk pintu kamar yang terkunci rapat-rapat seakan tak ingin ada orang yang memasukinya.

" Lia, kamu sudah tidur? Ada yang ingin Ayah katakan padamu, nak! "

"Aku tak ingin mendengarkan apa pun. Tinggalkan aku sendiri karena saat ini aku ingin sendiri." Ucap ku dengan kasar pada lelaki separuh baya itu.

*     *     *    
Kapas putih bertaburan di atas langit biru. Meghiasi langit dengan penuh keindahan. Sang surya berjalan ke tempat peraduannya. Memberi cahaya kepada seluruh pelosok bumi.

Deruan angin berhembus memasuki setiap celah-celah yang ada. Kebisingan yang ada memaksaku untuk membuka katup ini.

"Lia, Lia bangun kamu harus pergi kuliah!" sahut gadis yang lebih tua dariku.

"Kak aku masih mau tidur. Semalam aku lembur ngerjain tugas-tugasku! Beri aku waktu 10 menit lagi yah!" ujarku dengan manja

"Ya sudah, kalau kau mau terlambat kakak persilahkan. Tapi jangan salahkan kakak kalau nanti kamu telat!"ucap kakakku dengan menggodaku agar aku bangun dari tidurku.

" Baiklah Lia akan bangun kakakku yang cerewet! " Sambil mengejek kakak

Kulangkahkan kaki di atas lantai berpetak putih. Mempersiapkan diri pergi untuk menimbah ilmu. Menuruni anak tangga menuju ke ruang makan. Dua orang wanita dan satu orang pria telah menungguku di meja makan.

"Pagi semua. Udah lama nunggu artis terkenal seperti aku, yah? Hehehe,,, Lia cuma bercanda kok?" ujarku menimbulkan canda tawa mereka.

"Artis? Mimpi kali yah sampai-sampai kamu mengatakan bahwa kamu itu artis terkenal?" ucap seorang gadis yang lebih muda setahun dariku.

Dia adalah Layla. Adikku yang duduk di bangku kuliah semester 1 yang selalu melawanku bahkan dia tidak menyukaiku. Hampir setiap hari kami berantam.

"Duduklah, agar kita makan bersama." ujar ibu sambil memegang tanganku.

"Maaf, bu. Lia harus segera pergi kuliah karena masih ada pekerjaan yang harus Lia selesaikan dengan Maya. Maaf yah Bu…" meninggalkan mereka di meja makan

"Baiklah. Kakakmu akan mengantarmu ke tempat perkuliahanmu!"

"Gak usah, Bu. Maya sudah ada di depan jemput Lia. Lia pergi dulu yah…" ucapku

Kuseduh secangkir susu yang disediakan wanita separuh baya itu untukku. Kudaratkan bibirku di kening wanita separuh baya itu dan berlalu meninggalkan mereka yang sedang asik dengan makanan mereka. Sebuah mobil Fortuner berhenti tepat di depan rumahku. Suara lantang dari wanita sebayaku menyuruhku agar melangkah lebih cepat lagi.

"Apakah kau akan berjalan seperti model Lia?" bentak seorang wanita muda padaku.

"Baiklah, Nyonya Muda yang cerewet," Godaku pada wanita seusiaku.

Fortuner berwarna hitam-putih itu melaju cepat dijalanan yang sepi. Mungkin hanya ada 1 atau 3 kendaraan beroda empat yang berlalu-lalang.

*    *    *    *
Mentari mulai beranjak meninggalkan langit nan biru dan kembali ke tempat peristirahatannya. Keributan pun mulai memenuhi salah satu Universitas terkenal di Semarang. Sekarang sudah menunjukkan pukul 6 sore dan sudah waktunya bagi mahasiswa untuk kembali ke rumah masing-masing.

"Maya aku nebeng ama kamu yah? Bolehkan?"

"Wane piro toh Mbak?" canda Maya

"Plisssss dong! Ayahku tidak mengangkat panggilan teleponku begitu juga dengan kakak dan Ibuku!" ujarku dengan wajah penuh kasihan

"Boleh kok!"

Fortuner berwarna hitam-putih itu melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan Universitas tersebut. Dalam perjalanan pulang Aku dan Maya terjebak macet yang sangat panjang yang mengakibatkan kami harus sampai di rumahku pukul 19:30 WIB. Aku membuka pintu mobil dengan perlahan dan menancapkan sepasang kakiku di pasir yang berada di depan rumahku.

"Gak mau masuk dulu, Maya?" tanyaku pada Maya yang sepertinya bersiap menancapkan kakinya pada pedal gas mobil miliknya.

"Gak usah Lia. Aku harus buru-buru pulang. Aku pulang yah. Bye." Mobil miliknya berlalu setelah   berpamitan padaku.

Sepasang bola pingpongku terbelalak saat melihat keadaan rumahku tak seperti biasanya. Teriakan keras dari beberapa orang di dalam rumah memecahkan lamunanku. Kulangkahkan kakiku menuju pintu rumah yang sedikit terbuka. Saat tubuhku tepat berada di depan pintu tiba-tiba saja aku merasa kakiku tidak bisa melangkah dan jantungku seakan berhenti berdetak. Panca inderaku mendengar kata-kata pahit yang menusuk seluruh tubuh.

"Ayah, bisakah ayah berhenti untuk membeda-bedakanku dengan Lia?" suara itu tak asing di telingaku

"Layla, hentikan ucapanmu itu, bagaimana jika semua orang bisa mendengar ucapanmu itu?" teriak seorang wanita yang lebih tua dari ku.

"Aku ga mau. Aku mau bertanya pada Ayah dan Ibu, apakah Lia lebih berharga dariku? Akulah yang anak kandung bukan dia. Lia hanya anak angkat yang ibu temukan di depan rumah sedangkan aku, aku adalah anak yang lahir dari rahim ibu…" tangis wanita muda.

Tubuhku seakan seperti sehelai kertas yang tak mampu berdiri sendiri. Jantungku seakan ingin berhenti berdetak dan telingaku seakan mendengar sambaran halilintar. Sesaat kemudian aku mendengar tamparan keras dari seorang lelaki yang lebih tua mendarat di pipi wanita yang lebih muda dariku. Lamunanku pecah saat gadis muda itu melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Sesaat dia menatapku lalu dia berlalu tapi sebelum dia berlalu dia menatapku dengan sinis dan menambrakkan tubuhku dengan seluruh kekuatannya yang membuat tubuhku terjatuh.

" Layla, berhenti di sana." Teriakan keras itu keluar dari bibir lelaki setengah baya.

Dia tak memedulikan teriakan lelaki setengah baya itu. Dia berlalu dan meninggalkan kami yang berdiri kaku bagaikan patung. Tak ada yang mampu memecahkan suasana yang tegang ini. Aku hanya menatap mereka dengan tatapan dingin. Kecewa, marah, kesal, benci, sedih, itu semua bercampur aduk di dalam pikirankun. Seakan tak percaya dengan kebenaran yang terkuak, yang selama ini berhasil disembunyikan selama 20 tahun. Sesaat akhirnya mereka menyadari kehadiranku yang berdiri kaku dan menatap dingin mereka. Terlukis rasa penyesalan di wajah mereka.

" Lia!!! " ujar seorang wanita paruh baya

Aku hanya membisu bagaikan patung dan hanya menatap mereka dengan tatapan yang dingin dan rasa penasaran.

" Lia, kamu baik-baik saja? " Anna, kakakku menghampiriku dan mencoba memberikan pelukan hangat padaku, tapi kakiku melangkah mundur seakan tak ingin disentuh oleh salah satu dari mereka.

" Lia, jawab kakak! " ucap kakakku sambil menghapus air mata yang mengalir membasahi pipiku.

" Jangan sentuh aku! " ucapku dingin

Ucapan singkat itu membuat mereka semua terkejut terutama Anna. Anna seakan tidak percaya dengan ucapan yang kulontarkan padanya dan ia tidak percaya bahwa aku mampu mengucapkan perkataan yang membuatnya sedih.

" Maafkan Ibu, sayang! Ibu tidak bermaksud…. " aku memotong ucapanya

" Tidak bermaksud apa, Ibu? Tidak bermaksud membuatku sedih atau tidak bermaksud menutupi rahasia ini selama 20 tahun! " jelasku padanya.

" Lia, Ayah mohon dengarkan penjelasan kami, " ucap ayahku seraya memohon agar aku mau mendengarkan penjelasan mereka.

" Panjelasan? Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Ayah. Aku sudah mengetahui kebohongan yang tersimpan secara rapi selama 20 tahun. "

Sesaat kami berempat hanya dapat terdiam seraya menyesal akan kejadian yang telah terjadi. Kristal bening pecah membasahi pipi. Kekacauan kini menghantui dan kebahagian yang pernah ada tersingkir oleh waktu.

" Maafkan Ayah, Ibu dan Kakak, Lia! " mohon kakakku Anna padaku.

" Jika kalian tidak menyimpan rahasia besar ini selama 20 tahun mungkin kejadian ini tak akan pernah terjadi. Maaf? Mungkin aku bisa memaafkan kalian tapi butuh waktu lama untuk melupakan semua ini! "

" Kami tak bermaksud untuk menutupinya darimu, sayang. " jelas seorang wanita paruh baya padaku.

" Lia tahu Ibu. Tapi tak seharusnya kalian menutupi rahasia ini selama 20 tahun. Lia bukan lagi anak kecil berumur 5 tahun yang gak tau apa-apa. Kini Lia sudah 25 tahun Lia sudah besar dan Lia sudah dapat mengerti tentang apa pun yang terjadi. Tapi, Ayah, Ibu dan bahkan Kakak tega menutupi rahasia ini selama 20 tahun. Lia sangat kecewa pada Ayah, Ibu dan juga Kakak. " Jelasku pada mereka

" Maafkan kami Lia, "  ucap lelaki paruh baya padaku seraya memohon agar dimaafkan.

Aku hanya dapat berdiri kaku dan berpikir. Apakah aku harus memaafkan kalian? Kenapa kalian tega melakukan ini padaku? Aku bukan anak-anak lagi aku sudah dewasa! Apa yang harus kulakukan untuk menghapus rasa kesal, benci dan juga kecewa yang kini membekas dihatiku? Jawab aku….!!! Diam berhenti sampai di situ, kini aku sudah tau apa yang harus kulakukan. 

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru