Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 27 Oktober 2026
Fokus

Utak Atik Capres

- Minggu, 13 April 2014 16:41 WIB
559 view
Utak Atik Capres
Perhitungan suara manual hasil pemilu legislatif 2014 oleh KPU belum selesai. Tetapi perhitungan suara berdasarkan hasil hitung cepat telah memperlihatkan bahwa hanya ada tiga parpol besar peraih suara dengan perkiraan dua digit, yaitu PDI-P, Partai Golkar, dan Partai Gerindra. Sisanya adalah partai yang memperoleh suara di bawah 10 persenĀ  saja. Bahkan diperkirakan, PKPI dan PBB tidak lolos 3 persen suara sebagai ambang batas kursi di parlemen.

Perhitungan suara tersebut amat penting kepada parpol. Hal ini berhubungan dengan upaya mereka menempatkan usulan Calon Presiden dan Wakil Presiden. Hanya parpol atau gabungan parpol dengan perolehan suara nasional 25 persen atau jumlah kursi 20 persen parlemen yang berhak mengusulkan itu.

Di atas kertas, jelas tidak ada parpol yang bisa secara sendirian melakukan hal itu. Namun andaikan ada, maka hal itu juga pasti tidak akan dilakukan oleh parpol tersebut karena kebutuhan untuk memperkuat basis dukungan politik di Senayan amat penting dipegang dengan baik. Maka memang, pintu koalisi kemudian menjadi salah satu hal penting dan menjadi trending topic beberapa hari ini, persis setelah pemilu legislatif usai.

Menarik, karena hanya dalam beberapa hari ini saja, PDI-P kemudian secara resmi bergabung dengan Partai Nasdem. Atas nama alasan sebagai partai nasionalis dan hubungan baik selama ini, Partai Nasdem menyatakan memberikan dukungan kepada PDI-P. Mengenai Calon Presiden sudah pasti adalah Jokowi yang selama ini memang digadang-gadang oleh PDI-P. Tetapi mengenai Calon Wakil Presiden dan soal pembagian kewenangan, masih menjadi rahasia dari kedua partai tersebut.

Jika PDI-P dan Nasdem sudah bergabung, maka diperkirakan mereka akan mendapatkan dukungan dari beberapa partai lain. Alasan kestrategisan nama Jokowi dalam pemilu Presiden mendatang adalah salah satu daya tarik. Disebut-sebut, PKB dan PAN akan bergabung, meski deklarasi mengenai hal itu masih belum bisa diklarifikasi. Namun tampaknya, PDI-P memang agak beruntung karena dengan mendapatkan dukungan dari Nasdem, mereka memiliki corong di media yang bukan tidak mungkin akan meningkatkan elektabilitas dari sosok yang mereka usung kelak.

Yang masih belum jelas adalah dukungan terhadap Partai Golkar. Dalam pemilu legislatif yang lalu, Aburizal Bakrie digadang-gadang menjadi presiden. Namun faktanya, Partai Golkar tidak dapat mengusung calon presidennya tersebut karena perolehan suaranya tidak memadai. Idem dito dengan Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto, diperlukan dukungan darah politik dari parpol lain.

Pertanyaannya adalah, pada siapakah dukungan dari parpol lainnya akan diberikan? Apakah kepada Partai Golkar, dengan risiko stagnasi seperti selama terlihat dari beberapa hasil survei, atau kepada Prabowo yang terus terang masih mendapatkan restriksi dari beberapa kalangan terutama yang mengangkat kembali masalah HAM?

Kita menunggu hasil dari konfigurasi politik yang sedang dibangun oleh masing-masing parpol. Kalkulasi mengenai hal ini sedang dirancang. Kita mengerti bahwa semakin lama menunggu maka semakin besar risiko kehilangan kursi di pemerintahan-sebagaimana biasanya dalam pola koalisi-yang bisa membuat sebuah parpol bisa gigit jari karena hanya akan dianggap sebagai "anak bawang" belaka.

Tetapi kita sebenarnya menanti sikap patriot dari parpol. Kita menginginkan mereka bukan hanya mencari teman politik dalam rangka membangun koalisi tetapi juga seharusnya mendirikan sikap bersedia menjadi mitra pemerintah kelak melalui sikap sebagai oposisi sebagaimana ditunjukkan oleh PDI-P selama 10 tahun. Bukankah sikap oposisi adalah juga sikap politik yang merupakan pilihan dan bisa memberikan konstribusi kepada sistem politik Indonesia? Bukankah politik tidak harus identik dengan kekuasan dan seharusnya semua parpol bisa kreatif untuk menjadikan diri sebagai penyeimbang kekuasaan?

Hari-hari ini kita akan memberikan penilaian terhadap pilihan politik parpol kita. Kita akan dapat menduga motif mereka pada apa yang mereka tetapkan sebagai pilihan politik melalui dukungannya kepada parpol-parpol yang perolehan suaranya cukup signifikan tadi. Masyarakat Indonesia menunggu. (***)


Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru