Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 23 Maret 2026

Menunggu Vaksinasi Massal

Redaksi - Rabu, 07 Oktober 2020 11:09 WIB
1.096 view
Menunggu Vaksinasi Massal
Istimewa
Ilustrasi Vaksinasi Relawan 
Pemerintah telah memastikan bahwa tidak lama lagi vaksinasi Covid-19 akan dilaksanakan secara massal. Ini menjadi kabar sukacita bagi masyarakat yang setiap hari dibayangi kekhawatiran akan penularan virus berbahaya tersebut. Apalagi tingkat kematian dan jumlah korban masih tetap tinggi.

Mengingat jumlah vaksin masih terbatas, maka pemerintah pun telah memutuskan siapa-siapa yang menjadi prioritas untuk divaksin terlebih dahulu. Sehingga tidak sampai menimbulkan kecemburuan sosial dan masalah baru lagi di masyarakat.

Namun tidak perlu khawatir, karena penyediaannya akan terus diupayakan sehingga dalam waktu tidak terlalu lama semua akan kebagian. Selain dari negara China, pemerintah juga mengupayakan penyediaan vaksin dari Inggris, Uni Emirat Arab (UEA) dan vaksin produksi negeri sendiri.

Satu lagi hal yang patut disyukuri, bahwa meskipun suplai vaksin Sinopharm dan Sinovac itu, mayoritas didatangkan dari China, tapi pemerintah telah memberikan jaminan halal. BPOM dan MUI akan berkoordinasi memastikqn kehalalan vaksin Covid tersebut. Sehingga tidak ada lagi keraguan melanggar perintah agama, khususnya bagi umat Islam terkait soal halal dan non halal.

Sebagaimana dikemukakan Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto, bahwa yang mendapat prioritas terlebih dahulu untuk divaksin adalah tenaga medis dan masyarakat kategori risiko tinggi, yaitu yang bekerja pada fasilitas medis. Berikutnya akan diberikan kepada masyarakat dengan kategori high risk, yaitu pekerja yang berusia 18-59 tahun.

Sementara kebutuhan vaksin saat ini mencapai 320 juta dosis. Dengan indeks pemakaian vaksin maka harus tersedia 352 juta dosis. Namun, jangankan untuk memproduksi vaksin sebanyak itu, untuk memyimpannya saja pun ternyata kita belum mampu. Ternyata kapasitas yang dimiliki BUMN hanya mampu menyimpan 123 juta dosis. Kita harapkan masalah ini dapat segera diatasi, sehingga tidak sampai memperlambat proses vaksinasi secara massal.

Di sisi lain, khususnya bagi masyarakat tetap harus diingatkan agar jangan mengabaikan protokol kesehatan meskipun vaksinasi sudah diprogramkan pemerintah. Apalagi dengan keterbatasan dosis vaksin yang ada, maka masyarakat tetap harus tetap menjaga imunitas sendiri sebagaimana sudah dianjurkan selama ini. Sekaligus juga mencegah jangan sampai tertular dengan menghindari tempat-tempat yang dianggap rawan, seperti rumah sakit, mal dan tempat keramaian lainnya, terutama sebelum vaksinasi dilaksanakan.

Terkait vaksinasi massal, maka dalam menentukan prioritas setelah tenaga medis dan pekerja di fasilitas medis, jangan sampai terjadi diskriminasi, khususnya dalam penentuan pekerja dan orang yang beresiko tinggi tertular dan menularkan. Sebaiknya yang bekerja di tempat-tempat keramaian, seperti pusat-pusat perbelanjaan, pasar, sekolah, kampus dan pers yang banyak berinteraksi dengan masyarakat layak mendapatkan prioritas. Sehingga kegiatan ekonomi dan pendidikan dapat berjalan normal kembali.

Sementara masyarakat lainnya yang dianggap tidak beresiko tinggi, jangan sampai merasa diabaikan dan kecewa, tetapi harus bersabar menunggu giliran. Pemerintah tetap akan melakukan vaksinasi, sehingga semua kalangan masyarakat akan bebas dari serangan virus corona ini.

Di samping itu, dalam proses vaksinasi ini, masyarakat berharap pemerintah menanggung sepenuhnya biayanya melalui APBN maupun APBD. Sementara untuk mengurangi beban pemerintah maka bagi masyarakat yang mampu sebaiknya vaksinasi dengan biaya sendiri.

Untuk segera keluar dari masalah sulit saat ini dibutuhkan kerja bersama dan soliditas dalam berbangsa dan bernegara. Kalau tidak mau membantu pemerintah dan rakyat, jangan malah menghasut rakyat melakukan aksi-aksi merongrong kewibawaan pemerintah. (*)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru