Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 27 Oktober 2026

Langkah Konkrit Lembaga Gereja

- Selasa, 18 November 2014 10:21 WIB
311 view
Kepengurusan PGI (Persatuan Gereja Indonesia) telah terpilih. Pada Sidang Raya ke-16 yang dilangsungkan di Gunung Sitoli, Nias. Terpilih Ketua Umum yang baru yaitu Pendeta Henriette Hutabarat Lebang dan Sekretaris Umum tetap dipegang  Pendeta Gomar Gultom.

Salah satu pesan dari Sidang Raya tersebut adalah mendorong pembaruan bangsa dilakukan oleh pemerintahan ini, termasuk  menjadikan “revolusi mental” sebagai upaya yang sama  dilakukan oleh gereja juga. Gereja didorong untuk terus melaksanakan perannya terutama dalam mendorong percepatan demokratisasi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Di tengah-tengah pergumulannya sendiri, dimana selama ini dianggap minoritas dan diabaikan, gereja memang harus terus menerus menunjukkan diri bahwa panggilannya adalah menjadi garam dan terang. Benar bahwa selama ini seolah makna kehadiran kelompok minoritas seperti tak dihiraukan, dan itu adalah pergumulan tersendiri bagi gereja untuk menuntaskan panggilannya.

Perwujudannya sebenarnya mudah, sederhana dan jelas. Salah satu tokoh gereja dunia Billy Graham pernah berkata, jika sebuah komunitas mengalami kerusakan, jangan tanya mengapa bisa begitu, tetapi tanyakan, di mana gereja?

Sebuah refleksi yang baik. Selama ini kita tahu bagaimana bangsa ini terus menerus bergumul dalam hal korupsi, keadilan dan kesejahteraan, perubahan bangsa bahkan demokrasi. Tetapi pertanyaannya adalah apakah yang sudah dilakukan  gereja  menghadapi masalah tersebut? Apakah gereja sudah memberikan kontribusi nyata, dalam artian pro-aktif dan  sungguh-sungguh  mengerjakan bagiannya sebagai sebuah entitas keagamaan?

Gereja sebenarnya bisa melakukan sesuatu dengan menyuarakan pentingnya warga gereja terlibat  memperbaiki negeri ini. Melalui PGI, 89 gereja yang berafiliasi bisa membangun Indonesia. PGI harus mendorong bagaimana supaya seluruh SDM anggotanya memberikan kontribusi yang  efektif terhadap negeri ini.

Ambil contoh dalam menghadang korupsi. Percaya atau tidak percaya harus diterima fakta bahwa ada orang Kristen dan merupakan warga gereja yang terlibat di dalam kasus tersebut. Ini jelas merupakan tantangan pada gereja, apakah sudah melakukan upaya mendorong kasus korupsi sebagai musuh bersama, bukan saja pada level gereja, tetapi juga pada level individu. Bukankah untuk melawan korupsi, gereka juga harus berperan supaya seluruh warga gereja benar-benar mempraktikkan cara hidup menjauhi korupsi dan menjaga kemurnian uang yang ada dalam bidang kerjanya masing-masing?

Itulah harapan kita kepada kepengurusan PGI di masa mendatang. Kita dorong supaya PGI lebih nyata bekerja, turut serta  melakukan “revolusi mental” dari internalnya supaya gereja jangan hanya bicara tentang “atas”, tetapi juga bicara soal mandat budayanya, yaitu dipanggil menjadi berkat bagi bumi di “bawah”.  Selamat bekerja kepada pengurus PGI baru (***)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru