Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 27 Oktober 2026
Tajuk Rencana

Selamat Hari Natal

- Rabu, 24 Desember 2014 11:08 WIB
378 view
Penghujung-  tahun 2014 telah di depan mata. Kali ini momentum Hari Natal sudah tiba. Kemeriahannya sudah terasa di mana-mana. Masyarakat menyambutnya dengan berbagai kegiatan ibadah. Umat Kristen tumpah-ruah melaksanakan beragam ibadah dengan berbagai aktivitasnya.

Bersamaan dengan itu, sambutan perayaan Natal terlihat di mana-mana. Kostum Natal dipakai termasuk salah satunya oleh aparat keamanan yang menjaga keamanan. Bangunan dan gedung juga didesain menggunakan simbol-simbol Natal antara lain pohon cemara atau sejenisnya.

Akan tetapi kemeriahannya lebih terlihat di pusat perbelanjaan. Ornamen perayaan Natal menyambut setiap pengunjung. Para pemilik usaha memanjakan pembeli dengan memberlakukan potongan harga (discount) puluhan persen. Atas nama Natal, pusat perbelanjaan menghadirkan berbagai produk menarik tentunya dengan jaminan harga tertentu yang jelas bersiap menarik minat para pembeli.

Dari sinilah kita menyaksikan sebuah pertemuan antara ibadah dan konsumerisme. Dan itulah tantangan ibadah di dunia, di zaman yang kerap disebut sebagai post-modernisme ini. Saat ini, ibadah bukan lagi merupakan sebuah refleksi penting tetapi sebuah pilihan. Kita bebas menjalaninya atau bahkan tidak menjalaninya. Ada opsi "Tuhan" lagi bernama konsumerisme dan materialisme yang juga dengan cara cepat bisa diganti atau dimodifikasi sesuka hati.

Maka tidak heran zaman ini ditandai dengan mudahnya orang mendapatkan segala sesuatu kemudian meninggalkannya begitu saja. Sama seperti barang komoditas yang dijual di pusat perbelanjaan, tidak ada ikatan antara kita dengan barang-barang produk tersebut sepanjang kita menyukainya.

Maka tidak heran jika zaman sekarang ibadah juga dipandang demikian. Ibadah, termasuk Natal, terancam masuk ke dalam rutinitas belaka, sesuatu yang memang dilakukan begitu saja, tetapi tanpa makna. Ikatan yang terjadi hanyalah bahwa ibadah itu disebut sebagai sebuah keharusan.

Di banyak tempat, umumnya di luar negeri, makna ibadah itulah yang hilang. Ibadah Natal telah menjadi sebuah budaya, karena masuknya pengaruh konsumerisme tadi. Penetrasi produk-produk yang berasal dari para produsennya menyebabkan ibadah Natal adalah pesta pora, hura-hura dan fantasi kebersamaan yang sesungguhnya tanpa ikatan apa-apa. Maka perayaan Natal adalah acara tanpa refleksi, tanpa ibadah yang dalam kosakata kita disebut sebagai perenungan.

Natal adalah ketika Tuhan yang transenden datang menyapa umatnya dan menyampaikan berita kasih bahwa dosa mereka telah dilepaskan. Umat yang berdosa seharusnya merayakannya dengan bersuka cita pribadi-dalam hati dan sujud syukur- dan bukan dengan bermegah dan berbuat dosa lagi. Umat Kristen seharusnya merayakan Natal dengan menjadikan diri sebagai kekuatan pengubah dunia, menjadi lebih baik, menjadi lebih damai dan menjadi lebih Ilahi. Itulah makna yang sesungguhnya jika kita ingin merayakan Natal. Umat Kristen harus menjadi promotor, pembeda dunia yang sekarang carut marut sehingga terlihat dengan jelas keteladanan yang terinspirasi dari kelahiran Kristus itu.

Oleh karena itu, sembari mengucapkan Selamat Hari Natal 24-25 Desember 2014, kami mengucapkan selamat berjumpa dengan Tuhan. (***)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru