Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 27 Oktober 2026

Ironi Negara Agraris Pengimpor Produk Pertanian

- Sabtu, 06 Juni 2015 10:18 WIB
854 view
Ironi Negara Agraris Pengimpor Produk Pertanian
Tak bisa disanggah, Indonesia adalah negara agraris. Sebagian besar penduduknya hidup sebagai petani. Wilayahnya yang sangat luas tersebar di pulau-pulau nusantara merupakan daerah pertanian. Negeri ini dijuluki Koes Ploes dalam lagunya sebagai tanah surga, tongkat kayu dan batu menjadi tanaman.

Harusnya Indonesia melimpah dengan produk pertanian yang beraneka ragam. Seyogianya masyarakatnya telah swasembada dan melimpah dengan hasil buminya.Seharusnya negara ini menjadi pengekspor produk pertanian terbesar di dunia. Sejarah pekerjaan petani di negeri ini sama tuanya dengan mulainya peradaban dari Sabang sampai Merauke. 

Sungguh ironis, fakta di lapangan menyatakan hal yang berbeda. Saat hari-hari besar seperti Lebaran, Natal dan Tahun Baru, kelihatanlah betapa rapuhnya negeri ini. Sungguh malangnya pertanian Indonesia. Membanggakan sekaligus menyedihkan, karena ternyata kita masih sangat tergantung terhadap impor. Pasar Indonesia agar tetap masih harus dipasok produk pertaniannya dari negara lain.

Pemerintah misalnya memilih opsi impor karena pasokan kebutuhan pangan dalam negeri tidak mencukupi. Impor dipilih untuk mengamankan pasokan menjelang puasa dan lebaran. Menteri Perdagangan Rachmat Gobel menyebutkan komoditas yang direncanakan impor adalah cabai dan bawang. Pasalnya pasokan kedua bahan pangan ini dinilai kurang akibat panen sedikit.

Di pasar-pasar kota-kota besar di Indonesia, harga bawang merah terus mengalami kenaikan. Kenaikan harga dipicu karena sedikitnya panen bawang merah sehingga pasokan bawang merah terbatas.  Panen puncak bawang merah bulan ini lebih sedikit dibandingkan sebelumnya. Penyebabnya akibat serbuan hama dan penyakit tanaman. Panen bawang merah pada bulan tersebut anjlok hingga 30% atau dari rata-rata panen normal 90.000 ton menjadi hanya 60.000 ton.

Cabai merah masih diimpor dengan dalih yang sama dengan bawang. Saat ini berdasarkan data BPS, sudah ada dua jenis cabai yang rutin diimpor. Jenisnya cabai kering-tumbuk dan jenis awet sementara. Anehnya, kita mengimpor dari India, Tiongkok, Thailand, Malaysia, dan Jerman.  Produk cabai lokal entah ke mana dan apa masalahnya, katanya tak mencukupi di pasar.

Ubi kayu ternyata juga berasal dari impor. Pada April 2015, impor singkong tercatat mencapai 28,3 ton sesuai data BPS.  Asal impor ubi kayu tersebut berasal dari Vietnam. Pada tahun ini, memang hanya pada April singkong impor masuk ke dalam negeri.Bila melihat ke beberapa tahun sebelumnya, impor ubi kayu juga pernah terjadi 2013 lalu dengan besaran 100 ton berasal dari Thailand.

Selain itu, Indonesia menerima pasokan kentang dari negara lain. Pada April 2015, impor kentang mencapai 2.859 ton. Kopi, teh dan susu sapi juga harus didatangkan dari Brasil, Malaysia, Vietnam, Selandia Baru, Australia dan negara lainnya.  Daftar produk pertanian yang diimpor masih panjang dan bisa dicek pada laporan terbaru BPS tahun 2015.

Data dan fakta ini merupakan pukulan terhadap harga diri bangsa yang selama ini mengaku sebagai negara agraris. Kementerian Pertanian harus bekerja lebih keras agar kita tak lagi tergantung kepada impor. Kalau hasil teknologi tinggi yang harus dipasok dari negara lain, itu wajar. Kalau ubi kayu juga harus diimpor, mau ke mana lagi wajah bangsa ini! (**)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru