Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 27 Oktober 2026

Suara Kenabian Bagi Bangsa

- Minggu, 02 Agustus 2015 11:55 WIB
415 view
Suara Kenabian Bagi Bangsa
Sumatera Utara menjadi pusat sinode gereja-gereja besar di Indonesia. Sebut saja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), Gereja Batak Karo Protestan (GBKP), Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA), Huria Kristen Indonesia (HKI), dan lain-lain. Jumlah jemaatnya signifikan dan terdiaspora dari Timur ke Barat Indonesia.

Mengingat banyaknya sinode gereja di Sumut, seharusnya para rohaniawan yang cendekia melimpah di daerah ini, yakni orang-orang yang bisa melihat persoalan bangsa secara jernih. Mereka yang mampu menebar optimisme di tengah wabah pesimisme. Membawa kedamaian di tengah perpecahan dan menyodorkan solusi manakala ada kebuntuan.

Harapan bagi rohaniawan cendekia ini bukan menginginkan mereka menjadi superman dan superhero. Pemimpin dan tokoh gereja tak harus tahu semua hal sehingga mesti berilmu tinggi. Rohaniawan tetap rohaniawan, dan bukan ilmuwan yang bergelar doktor berbagai disiplin ilmu. Mereka hanya orang-orang sederhana yang berpikiran jernih karena dipercaya jemaat menyerukan suara kenabian.

Kondisi bangsa saat ini memerlukan suara kenabian yang menyejukkan, menyegarkan, mencerahkan, dan menyemangati. Dari semua sisi negara ini tertekan, baik masalah internal dan eksternal. Rupiah terpuruk, industri terpukul dan terpaksa melakukan PHK, politik hiruk pikuk karena isu mahar dan calon tunggal di Pilkada serentak, persatuan bangsa digoyang isu SARA, korupsi merajalela, kriminalisasi bagi aktivis dan lain-lain. Rohaniawan cendekia dibutuhkan menyampaikan suara kenabian, suara kebenaran yang meluruskan kembali jalan bangsa ini di relnya.

Meski Sumut melimpah dengan sumber daya rohaniawan, masih belum banyak yang tampil menyerukan suara kenabian. Bukan mengatakan tidak ada atau mengecilkan perannya selama ini. Seharusnya dari jumlah sinode yang ada, rohaniawan cendekia lebih banyak yang bersuara. Kebanyakan yang menyerukan suara kenabian masih di Jakarta dan minim dari daerah. Bahkan, kita patut apresiasi kiprah para ulama dari kalangan NU dan Muhammadiyah yang proaktif memberi kontribusi positif bagi kemajuan Indonesia.

Menyerukan suara kenabian memang memerlukan beberapa prasyarat. Hal itu tak mungkin dilakukan pemimpin gereja yang sibuk bertikai di organisasi internalnya. Wawasannya mesti luas melintasi batas agamawi, tak hanya fokus mengurusi gerejanya. Perlu keberanian untuk menyampaikan suara kenabian, sebab kadang keras, tajam dan menohok. Tidak asal bicara, sekali bersuara, gaungnya menggema ke mana-mana.

Penyampai suara kenabian harus berani berbeda sikap dengan penguasa. Mesti rela dijauhi karena tak mau kompromi dengan kebijakan yang salah. Saat ada sesuatu yang salah, tak wajar dan tak berpihak kepada rakyat banyak, tokoh rohaniawan cendekia harus tampil dan memberi warna. Mereka harus hadir saat jemaat dan negara membutuhkan.

Seringkali pemimpin gereja menyibukkan diri hanya bergerak di bidang kerohaniawan saja. Mereka enggan bersuara di luar tugas-tugas yang dianggap bidang gereja. Para rohaniawan tak mau dicap berpolitik jika menyoroti masalah sosial, ekonomi, budaya dan berbagai realitas kehidupan. Pemikiran dikotomi sekuler dan rohani masih mendominasi. Padahal masalah-masalah tadi yang menjadi keseharian kehidupan bangsa ini, yang didalamnya ikut dirinya dan jemaatnya.

Pemimpin-pemimpin gereja di Sumut diharapkan lebih berani menyuarakan suara kenabian di tengah-tengah persoalan bangsa ini. Penyelenggaraan Pilkada serentak menjadi momentum mengoreksi berbagai praktik menyimpang, sebelum dianggap ini sebuah kebenaran karena sudah kebiasaan. Jika rohaniawan cendekia pun tak berani angkat suara, siapa lagi yang akan mengawal perjalanan bangsa ini. Ayo bangkit, karena kita juga pewaris sah negara ini! (**)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru