Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 27 Oktober 2026

Menghadapi Kekeringan Akibat El Nino

- Senin, 03 Agustus 2015 10:07 WIB
479 view
 Menghadapi Kekeringan Akibat El Nino
Dampak gelombang panas El Nino yang melanda dunia sejak Maret 2015 mulai terasa di Indonesia. Kekeringan terjadi di mana-mana sehingga dikhawatirkan akan memicu terjadinya kebakaran hutan, dan terganggunya masa tanam pertanian. Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan ada 18 provinsi terindikasi rawan terdampak gelombang panas El Nino antara lain NTB, Sumatera Utara, Aceh, Lampung, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.

El Nino adalah suatu gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut (Sea Surface Temperature-SST) di Samudra Pasifik dekat garis khatulistiwa, khususnya Asia Tenggara, Afrika Timur dan Afrika Barat. Karena lautan dan atmosfer adalah dua sistem yang saling terhubung, maka penyimpangan kondisi laut ini menyebabkan terjadinya penyimpangan pada kondisi atmosfer yang berakibat terjadinya penyimpangan iklim. Fenomena El Nino menyebabkan anomali cuaca di banyak negara, yaitu kekeringan di Indonesia, Australia, Amerika Tengah, dan daerah Laut Karibia.

Kondisi sebaliknya terjadi di kepulauan Pasifik tengah, Amerika Serikat bagian selatan, Cile, Argentina, Uruguay, dan Brasil, yang mengalami banyak hujan. Pengamatan satelit Tiros-N milik Badan Atmosfer dan Kelautan Nasional AS (NOAA) menunjukkan, El Nino meningkatkan suhu troposfer secara global. Musim kemarau yang panjang di beberapa wilayah Indonesia, diduga akibat El Nino yang telah mencapai level moderat. Keadaan ini diprediksi akan menguat mulai Agustus sampai Desember 2015.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia telah mengingatkan negara-negara di dunia termasuk Indonesia soal dampak gelombang panas El Nino tahun ini. FAO mencatat probabilitas El Nino 80-90% bakal berlangsung hingga akhir 2015. Untuk Indonesia, El Nino datang hampir bersamaan dengan masa tanam kering atau musim kemarau, yakni April-September (Asep). Artinya, jika tidak diantisipasi akan menggagalkan masa panen petani di akhir tahun.

Data Kementerian PU dan Perumahan Rakyat, akibat kemarau berkepanjangan, sudah ada lima waduk dalam kondisi defisit antara lain Keuliling di Aceh Besar, Batu Tegi di Lampung, Saguling di Jawa Barat, Gajah Mungkur Wonogiri Jawa Tengah dan Bening di Jawa Timur. Selain itu ada dua waduk yang kondisi kering yaitu waduk Wadas Lintang di Wonosobo dan Sempor di Jawa Tengah.  Hingga Juli 2015, sekitar 111.000 hektar sawah mengalami kekeringan. Sebanyak 222.847 hektar sawah irigasi berpotensi kekeringan dan akan kehilangan panen lebih dari 1 juta ton.

Pantauan Dinas Pertanian Sumatera Utara (Sumut), kerusakan tanaman yang dialami Sumut akibat El Nino masih tergolong pada kerusakan tanaman rendah. Yang mengalami kerusakan sedang, bahkan puso hanya sedikit.

Secara nasional Kementan sudah menyiapkan upaya khusus mengantisipasi ancaman dampak gelombang panas El Nino. Mereka merilis program di antaranya penyediaan pompa air, benih, dan pupuk. Pembagian pompa air sudah dilakukan sebagian. Upaya  lain menyuplai air bersih melalui mobil tangki dan hidran umum pada daerah-daerah yang mengalami krisis air bersih, untuk masyarakat umum. Untuk jangka panjang, pemerintah melakukan percepatan pembangunan 13 bendungan yang tersebar di 10 provinsi pada tahun 2015 ini.

Komoditas pertanian yang dikawal adalah tanaman yang kemungkinan besar akan terdampak gelombang panas, yakni padi dan jagung. Ini juga untuk menjaga target swasembada pangan tetap bisa tercapai. Sebab BPS tetap mengestimasi produksi padi tahun 2015 akan naik 6,6% dari tahun 2014 sebesar 70,9 juta ton menjadi 75,5 juta ton pada 2015, meski ada badai El Nino. Apakah ini optimisme berlebihan? Tidak juga, jika semua pemangku kepentingan melakukan tugasnya mengantisipasi dampak kekeringan El Nino di Indonesia. Setiap daerah termasuk Sumut mestinya memaparkan langkah konkrit yang akan dilakukan agar pertanian tetap bisa berjalan meski dibayangi El Nino. (**)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru