Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 27 Oktober 2026

Menang Kalah Tetap Terhormat

- Senin, 31 Agustus 2015 09:45 WIB
360 view
Menang Kalah Tetap Terhormat
Masa kampanye masing-masing calon kepala daerah sudah dimulai. Ini merupakan waktu yang sah untuk memperkenalkan diri dan programnya secara terbuka ke masyarakat. Memang ada yang beda dari Pilkada sebelumnya, jika dulu alat peraga kampanye (APK) dipasang sendiri calon, kini ditangani langsung oleh KPUD. Calon fokus meyakinkan publik untuk memilihnya.

Wajar Pilkada kali ini agak lebih ketat dibanding sebelumnya. Sebab tidak ada lagi dua putaran dan aturan besaran persen untuk menentukan pemenang. Pilkada hanya satu putaran dan siapa yang meraih suara paling banyak, dialah yang ditetapkan menjadi juara. Akibatnya semua calon sejak start awal langsung habis-habisan agar menang.

Di beberapa daerah situasi langsung memanas. Masing-masing calon saling serang dengan beragam isu. Ada yang mengangkat isu putra daerah, etnis, agama, ijazah, korupsi dan lain-lain. Tujuannya tentu melemahkan kompetitor, dan hanya tinggal dirinya yang kuat. Serangan ada yang langsung dilakukan calon, ada juga meminjam tangan menggunakan tim sukses atau orang lain.

Jika dibiarkan saling serang, akibatnya sangat fatal. Sebab akan berdampak ke pendukung masing-masing. Konflik horizontal dan vertikal sewaktu -waktu bisa tersulut dengan cepat. Apalagi di tingkat akar rumput, isu etnis dan agama sangat rentan untuk diprovokasi. Mereka akan sangat marah jika calon kepala daerah yang didukungnya, oleh orang lain, diejek dan diserang.

Hal ini tak boleh dibiarkan meluas dan diulangi lagi. Calon kepala daerah dan timnya harusnya dihentikan melakukan black campaign ke kompetitornya. Aturan mesti ditegakkan dengan memberi sanksi tegas. Sebelumnya semua calon diajak duduk bersama, sosialisasikan aturan main kampanye yang ada. Bisa jadi calon memang tak menguasai aturan yang ada.

Calon sebaiknya diberitahu ulang tentang mana yang boleh dan tidak boleh dalam berkampanye. Isu SARA tak boleh menjadi alat menyerang kompetitor. Meski semua ingin menang, sebaiknya dilakukan secara terhormat. Orang-orang terhormat tidak menggunakan cara pengecut untuk terhormat. Mereka ingin menang tetapi bukan dengan menghancurkan orang lain.

Untuk apa menang tetapi kehormatan ternoda. Dikenang sebagai tukang fitnah dan menjelek-jelekkan orang. Apalagi menang dengan curang. Meski sudah kepala daerah, citranya tetap negatif di mata masyarakat. Bagaimana pun pemerintahan tidak akan efektif jika kepercayaan masyarakat terlukai karena ulah calon tersebut saat kampanye dan cara memenangkan Pilkada.

Panwas dan KPUD jangan takut menegakkan aturan bagi calon kepala daerah yang melanggar. Polri telah menyatakan, komitmenya mengawal sepenuh hati pelaksanaan pilkada serentak. Artinya, polisi pasti akan memback-up Panwas dan KPU dalam menjalankan tugasnya. Jadi tak perlu takut dengan ancaman atau teror dari calon atau timnya, jika harus memberi sanksi.

Kita berharap para calon yang sudah ditetapkan merupakan orang yang peduli dengan kehormatannya. Orang yang mau menang dengan cara terhormat dengan mematuhi aturan yang ada. Selamat berkampanye dan jagalah tetap damai.(**)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru