Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 27 Oktober 2026

Ketidakpastian Ekonomi Masih Berlanjut

- Senin, 21 September 2015 11:55 WIB
2.950 view
Ketidakpastian Ekonomi Masih Berlanjut
Di luar dugaan, Bank Sentral Federal AS (The Fed) kembali menunda kenaikan suku bunga acuan Fed Fund Rate. Mereka mempertahankan suku bunganya di rentang 0 persen hingga 0,25 persen yang ditetapkan sejak Desember 2008. Ini sekaligus sebagai konfirmasi bahwa ekonomi Amerika Serikat masih belum pulih. Putusan tersebut memperpanjang ketidakpastian ekonomi dunia.

Banyak pihak termasuk Indonesia sebenarnya mengharapkan Amerika Serikat mengakhiri kebijakan moneternya. Jika suku bunga naik, maka berakhir pula berbagai macam spekulasi di pasar uang dan pasar saham. Bank Indonesia tinggal menyesuaikan kebijakannya. Saat ini BI rate masih dipertahankan di level 7,5 persen.

Analis meyakini suku bunga the Fed pasti akan naik, hanya menunggu waktu. Kendati belum pulih sepenuhnya, indikator ekonomi AS terlihat membaik, yang antara lain ditandai aktivitas ekonomi tumbuh dalam tingkat moderat, belanja rumah tangga dan investasi bertambah secara moderat, dan sektor perumahan makin membaik. Selain itu, ketenagakerjaan di AS terus membaik, terlihat dari peningkatan lapangan kerja dan menurunnya pengangguran.

Lalu mengapa suku bunga belum naik? The Fed tentu memiliki pertimbangan tersendiri. Mereka masih akan melakukan pertemuan pada Oktober dan Desember mendatang. Artinya, ketidakpastian ekonomi global yang pasti akan berdampak ke Indonesia, masih berlanjut. Rupiah tetap dalam tekanan beberapa bulan ke depan.

Saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS telah menyentuh level Rp 14.500 per dolar AS, yang dianggap telah melampaui nilai fundamentalnya.   Peluang pelemahan masih terbuka akibat kebijakan The Fed mempertahankan rezim bunga mendekati nol persen. Di dalam negeri, spekulan pasti akan memanfaatkannya untuk keuntungannya. Dari luar, gejolak di Tiongkok dan negara-negara ASEAN sangat berdampak bagi ekonomi Indonesia.

Indonesia sebenarnya masih sangat prospek bagi investor. BI Rate yang ditetapkan sebesar 7,5 persen, jauh di atas Fed Fund Rate. Investor global lebih untung menanamkan dananya di Indonesia dibandingkan di AS. Selisih bunganya masih sangat besar dan menarik.

Walaupun nantinya The Fed menaikkan suku bunganya, yang diprediksi maksimal 0,5 persen, Fed Fund Rate hanya sebesar 0,75 persen, atau sepersepuluh dari BI Rate. Tinggal bagaimana membuat investor percaya bahwa Indonesia aman dan prospek bagi mereka berinvestasi. Kegaduhan mesti dikurangi, dan itu memerlukan komitmen dari semua pihak.

Pemerintah tak boleh dibiarkan sendirian bertarung menghadapi tekanan ekonomi global. Paket kebijakan yang telah dirilis mesti segera ditindaklanjuti. Pencabutan aturan yang menghambat dan penerbitan aturan yang mempermudah investasi harus segera dilakukan. (**)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru