Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 27 Oktober 2026

Belajar Toleransi dari Siantar

- Minggu, 22 November 2015 13:17 WIB
466 view
Belajar Toleransi dari Siantar
Lembaga Setara Institute merilis hasil penelitian mengenai tingkat toleransi beragama di 94 kota di seluruh Indonesia. Siantar dinilai memiliki tingkat toleransi paling tinggi. Indeks Kota Toleran 2015 ini berusaha mempromosikan kota yang dianggap berhasil mengembangkan toleransi umat beragama. Kota lain diharapkan termotivasi membangun semangat toleransi yang sama.

Dalam pengukuran tingkat toleransi ini, Setara Institute menggunakan empat variabel penelitian. Pertama adalah regulasi pemerintah kota yang terdapat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan peraturan daerah dengan penilaian diskriminatif atau nondiskriminatif. Variabel kedua, yaitu tindakan pemerintah kota. Bagaimana respons  pemerintah dalam menangani peristiwa intoleran yang terjadi di daerahnya. Misalnya, pernyataan pemerintah kota yang tidak memihak.

Variabel ketiga adalah regulasi sosial, atau peristiwa intoleran yang terjadi selama beberapa waktu terakhir di kota tersebut. Kemudian, yang terakhir adalah demografi agama dan komposisi penduduk. Dalam hal ini, penelitian membandingkan komposisi penduduk berdasarkan agama. Penelitian menggunakan studi dokumen berdasarkan data dan pengamatan peristiwa, yang dilakukan pada 3 Agustus - 13 November 2015.

Siantar memang layak disebut sebagai Indonesia mini. Di daerah tersebut hidup berdampingan berbagai ragam agama, suku bangsa dan ras. Sudah turun temurun,  saling menghargai satu sama lain. Bukan berarti tidak pernah ada gesekan atau upaya membenturkan, namun kedewasaan tokoh masyarakat sudah teruji dan bisa menyelesaikan setiap konflik dengan cara damai.

Di kota ini yang berbeda agama bisa duduk makan bersama di satu meja. Masing-masing menikmati makanan pesanannya tanpa sikap menghakimi satu sama lain. Tentu saja menunya berbeda, tergantung yang akan makan. Tradisi ini masih terpelihara di warung-warung makan yang ada di Jalan Surabaya dan Jalan Cipto serta tempat lain.

Kepala daerah pernah memimpin sudah beragam, tidak dari satu warna saja. Isu agama dan etnis tidak pernah menjadi dasar untuk saling menjatuhkan. Namun bukan tidak pernah ada yang mencoba mengusiknya. Masyarakat tidak terprovokasi dan memilih hidup damai dalam keragaman. Siantar tak tergoyahkan dengan isu agama dan sektarian lainnya.

Tak heran, organisasi yang berbau radikal dan fundamental kurang mendapat sambutan dari masyarakat Siantar. Mereka selalu membahasnya di warung-warung kopi, tetapi tidak hanyut dalam arus pemikirannya untuk berlaku ekstrem. Masyarakat tidak mempermasalahkan adanya kegiatan agama atau etnis, tetapi jangan coba mengusik keharmonisan yang selama ini terjalin.

Wajar jika Setara Institute berharap Menteri Dalam Negeri memberikan perhatian terhadap temuan ini dan berkoordinasi soal kebebasan beragama. Hasil penelitian ini mesti dijadikan bahan evaluasi pemerintah kota, apakah kebijakan telah memperlakukan kesetaraan terhadap kelompok yang berbeda. Sebab tindakan intoleran justru dipicu sikap diskriminatif dari pemerintah kota.

Kota-kota lain mesti belajar menjadi toleran seperti rakyat Siantar. Bukan ikut-ikutan, tetapi memang sudah seharusnya demikian sebagai sesama anak bangsa. Apa yang dilakukan di Siantar merupakan implementasi dari nilai luhur Pancasila. Indonesia menghargai keragaman, dan tak pernah didesain untuk satu agama atau satu etnis saja. (**)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru