Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 23 April 2026

Lamhot Sinaga: Kilang Minyak Tua dan Safety Procedure Pertamina Lemah

Redaksi - Selasa, 30 Maret 2021 16:07 WIB
815 view
Lamhot Sinaga:  Kilang Minyak Tua dan Safety Procedure Pertamina Lemah
Foto Dok Josmar Naibaho
Lamhot Sinaga
Jakarta (SIB)
Untuk mencegah terulangnya kebakaran di kilang minyak Pertamina, anggota Komisi VI DPR RI Lamhot Sinaga mendesak agar PT. Pertamina melakukan pembenahan dan peningkatan safety procedure. Sebab, kilang pertamina yang ada sekarang rata rata sudah tua.

"Kebakaran yang terjadi di kilang minyak Pertamina bukan kali pertama Sebelum kejadian di Balongan senin 29 Maret lalu, kebakaran juga pernah terjadi di Kilang Pertamina di Balikpapan, Dumai dan Cilacap", ujar Lamhot Sinaga kepada SIB, Senin (30/3/2021).

Politisi Golkar dari daerah pemilihan Sumatera Utara ini menyebut kejadian kebakaran kilang minyak pertamina sudah berulang. Ini disebabkan Pertamina gagal mengantisipasi terhadap kondisi kilang-kilang yang sudah tua.

Lamhot juga mengingatkan Pertamina agar jangan menyederhanakan persoalan kebakaran Balongan dengan menyebut stok BBM aman dan tidak terdampak. Pertamina sebagai perusahaan minyak besar harus mengkaji penyebab kenapa kebakaran kilang minyak terus berulang.

"Kenapa kejadian ini berulang, berarti safety procedure di Pertamina sangat lemah, dan sangat memalukan untuk perusahaan milik negara. Jangan sampai muncul pemikiran kalau keamanan stok BBM kita sangat ringkih dan beresiko, karena setiap saat bisa terjadi kebakaran," ujar Lamhot.

Untuk menghindari kejadian berulang, Lamhot Sinaga merekomendasikan Pertamina melakukan asesmen menyeluruh khususnya terhadap safety procedure di semua kilang dan depo Pertamina diseluruh Indonesia. Pertamina harus melakukan pemeriksaan mulai dari pertimbangan keselamatan primer ( Primary Safety Considerations), seperti desain tangki, perpipaan tahan api, perangkat pengukur level beserta alarm, perangkat pencegahan kebakaran dan lain-lain.

"Termasuk juga pertimbangan keselamatan level sekunder seperti pondasi tangki sesuai standar, deteksi kebocoran, deteksi uap dan gas, pengawasan CCTV dan seterusnya. Serta pertimbangan keselamatan level tertier seperti area keselamatan yang menjamin tidak ada korban masyarakat sekitar, bahkan mempertimbangkan relokasi kepada masyarakat yang terdekat dengan kilang,"tegas Lamhot.

Menurutnya, saat ini kilang pertamina sudah banyak yang sudah tua, seperti kilang Balongan yang beroperasi sejak 1994. Pertamina harus berani mengubah sistem manajemen pemeliharaan peralatan guna memastikan keandalannya dalam pengoperasian walau hal ini akan menggerus keuntungan Pertamina.

Kemudian pengujian peralatan secara berkala dan terpisah dari aktivitas operasional juga harus dilakukan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya kegagalan peralatan yang bisa memicu kebakaran. Kalau memang benar kebakaran ini disebabkan petir, berarti ada peralatan anti petir yang tidak berfungsi normal.

"Padahal teknologi anti petir di kilang ataupun di pabrik adalah sesuatu yg umum,"ujarnya.

Atas kebakaran kilang minyak Balongan, Lamhot juga menyebut Komisi VI DPR RI dalam waktu segera akan segera mengundang Pertamina meminta penjelasan secara langsung.(*)

Editor
:
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru