Koruptor Jadi Penyuluh Antikorupsi Irrasional dan Perburuk Citra KPK


218 view
Koruptor Jadi Penyuluh Antikorupsi Irrasional dan Perburuk Citra KPK
Andhika Prasetia/detikcom
Gedung KPK 
Medan (SIB)
Wacana Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggandeng mantan napi koruptor jadi penyuluh antikorupsi dinilai irrasional dan memperburuk citra lembaga antirasuah tersebut.

Pandangan tersebut disampaikan dua praktisi hukum Kota Medan Dr Redyanto Sidi SH MH dan Muslim Muis, menanggapi wacana tersebut. Menurut Dr Redyanto, adalah sesuatu yang irrasional bila KPK menggandeng koruptor dan dijadikan penyuluh terkait kasus korupsi.

"Kalau saya melihat, mereka (koruptor) kalau dijadikan penyuluh, itu adalah hal yang irrasional. Sebab apa, masih banyak tokoh kita, anak bangsa yang bisa dijadikan penyuluh untuk itu," kata Redyanto, Sabtu (28/8).

Kata dia, KPK lebih baik membicarakan dan mempertimbangkan ulang wacana tersebut, sebab hal itu mempengaruhi dengan citra KPK ke depan. "Jangan sampai gara-gara tujuan yang sebenarnya adalah baik tapi dilaksanakan dengan rangkaian-rangkaian yang kurang baik, itu bisa memperburuk nama baik KPK di mata masyarakat," ujarnya.

Namun menurutnya, bisa saja para koruptor diajak bergandengan, tetapi hanya sebatas pendamping penyuluh untuk dijadikan contoh ke masyarakat. "Jadi mereka dilibatkan, lebih kepada menceritakan soal suka dan duka masa lalu selama terjerat kasus korupsi, agar jangan jadi contoh pada masyarakat," ungkapnya.

Ia berharap, KPK jangan membuat program-program yang mengundang kontroversi di mata masyarakat. "KPK harus tetap cerdas, independen dan tetap menjalankan tupoksi dan membuat formula-formula rasional yang tidak menimbulkan program yang kontraversi di masyarakat," tandasnya.

Sementara, Muslim Muis memandang wacana KPK tersebut justru membuat KPK seperti orang sakit.

"Udah sakit itu KPK. Masya pelaku korupsi dijadikan sebagai penyuluh, kan bahaya itu. Bisa-bisa jadi nanti diajarinya cara korupsi, bukan bagaimana memberantas korupsi," ucapnya.

"KPK janganlah memperburuk citranya yang saat ini sudah buruk. Karena ini akan menambah buruk lagi. Apalagi yang kita lihat KPK sekarang sangat lemah," sambungnya.

Menurut dia, bila ingin mencari penyuluh antikorupsi lebih baik KPK menggandeng akademisi atau NGO anti korupsi.

"Sebab wacana ini akan membuka peluang celah korupsi berjamaah. Intinya para koruptor tidak perlu dijadikan contoh atau penyuluh. Perbuatan korupsi tindakan yang memalukan," tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, KPK memberikan kegiatan penyuluhan antikorupsi bagi narapidana korupsi di dua Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin Bandung Jawa Barat dan Lapas Tangerang. Kegiatan itu telah dilaksanakan di Lapas Sukamiskin pada 31 Maret 2021. Sedangkan di Lapas Tangerang pada 20 April 2021.

Dalam acara itu, peserta yang mengikuti kegiatan adalah para narapidana yang sedang melaksanakan proses asimilasi dan yang masa tahanannya akan segera berakhir.

Plt Juru Bicara KPK Bidang Pencegahan, Ipi Maryati Kuding mengatakan, ada sekitar tujuh napi yang memenuhi kriteria untuk dilibatkan dalam program antikorupsi. Namun, kata Ipi, belum tentu para napi ini nantinya akan dilibatkan sebagai penyuluh antikorupsi. (A17/d)
Penulis
: Redaksi
Sumber
: Koran SIB
Segala tindak tanduk yang mengatasnamakan wartawan/jurnalis tanpa menunjukkan tanda pengenal/Kartu Pers hariansib.com tidak menjadi tanggungjawab Media Online hariansib.com Hubungi kami: redaksi@hariansib.com