Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 April 2026

Angka Perundungan Anak dan Remaja di Indonesia Terus Meningkat

Redaksi - Senin, 30 Oktober 2023 13:03 WIB
390 view
Angka Perundungan Anak dan Remaja di Indonesia Terus Meningkat
(Foto: Dok/DPR RI)
Forum Komunikasi dan Sosialisasi Kinerja DPR R, di Yogyakarta, Jumat (27/10/2023). 
Jakarta (harianSIB.com)
Angka bullying (perundungan) pada anak dan remaja di Indonesia terus meningkat. Bahkan, data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), menyebutkan Indonesia berada di peringkat kelima terbanyak untuk kasus bullying.
KPAI juga mencatat 2.355 kasus pelanggaran yang masuk sebagai laporan kekerasan anak hingga Agustus 2023, baik secara langsung maupun verbal.
Kepala Biro Pemberitaan DPR RI Indra Pahlevi mengatakan hal itu di sela-sela acara peran media dalam menanggulangi perundungan pada anak, di Hotel Novotel, Yogyakarta, Minggu (29/10/2023), yang diikuti puluhan wartawan termasuk jurnalis Koran SIB.
Indra Pahlevi mengatakan Undang-Undang Perlindungan Anak sudah disahkan oleh DPR RI, tetapi kasus perundungan justru semakin meningkat.
Karena itu, diusulkan agar pemerintah dan DPR memasukkan klausul perundungan cyber dalam pembahasan Rancangan Undang Undang (RUU) Informasi Transaksi Elektronik (ITE).
Dia juga berpendapat, bahwa Vaksin HPV pada anak perempuan, dipastikan aman dan tidak bikin mandul.
“Artinya, perundungan terhadap siapa pun terutama kepada anak, sebaiknya dimasukkan dalam revisi Undang Undang ITE," ujar Indra, sambil menambahkan memasukkan pasal bullying di UU ITE untuk memperkuat regulasi yang ada, meskipun persoalan perundungan terhadap anak dan remaja sudah telah diatur dan diperkuat di dalam KUHP.
Dikatakannya, Indonesia sebagai negara memang juga sudah punya Undang-Undang Perlindungan Anak, tetapi masih perlu diperkuat. Sebab, permasalahan yang terjadi perundungan itu dianggap hal biasa oleh anak-anak dan remaja.
Bahkan, terkadang antara anak dan antar teman di-bully sama temannya sekelas, karena memang dia mencontoh dari sesuatu. Bahkan, melakukan itu tanpa ada rasa penyesalan, seolah-olah biasa saja.
"Itu dalam kategori perundungan fisik. Sedangkan yang di-cyber itu lebih dahsyat lagi, makanya perlu ada penguatan," ujarnya.
Anggota Komisi I DPR RI Idham Samawi mengemukakan, peran aktif media massa sangat efektif untuk menanggulangi perundungsn anak.
Menurutnya, banyaknya kasus perundungan yang dialami anak-anak tidak lepas dari kemajuan teknologi.
Karena selain berdampak positif, di sisi lain kemajuan teknologi juga melahirkan beragam ancaman serius bagi keberlangsungan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman hidup bernegara.
Karenanya, Idham Samawi berharap insan pers yang kesehariannya bersentuhan dengan teknologi informasi dan berperan penting dalam transfomasi media, bisa menjadi pengawal sekaligus mencegah upaya asing mengganti ideologi Pancasila melalui perangkat tekonologi yang sudah semakin akrab dengan anak-anak dan generasi muda saat ini.
“Ketika terjadi transformasi media, mulai dari tadinya media cetak, media radio bertransformasi ke media televisi dan sekarang ini bertransformasi ke media digital, maka tidak lagi ada batasan ruang dan waktu untuk seluruh dunia ini,” ujarnya.
Politisi PDI Perjuangan ini menegaskan penting bagi wartawan memberikan informasi benar dan mengarahkan dengan benar agar pemahaman dan implementasi nilai-nilai Pancasila bisa tetap tertanam pada generasi muda demi mempertahankan keutuhan dan menatap masa depan NKRI yang lebih baik dan maju.
"Sekarang ini, anak dan cucu sudah mulai dicekokin seperti itu," katanya.
Idham Samawi bersyukur, DI Yogyakarta menjadi pilihan bagi wartawan parlemen sebagai daerah yang dijadikan contoh bagi daerah lain mengadopsi upaya mencegah perundungan melalui peraturan daerah.
“Saya bersyukur ketika DIY berinisiatif dan saya bersyukur pula karena hampir seluruh provinsi di Indonesia, pada belajar ke Daerah Istimewa Yogjakarta untuk mengadopsi Perda untuk di masing-masing Provinsinya.
Ditegaskannya, pihak asing sudah mengenali dan memahami kalau mau menguasai sumber daya alam Indonesia maka dimulai dengan memecah dulu Indonesia dengan cara mengganti Pancasila dengan ideologi lain melalui kemajuan teknologi.
Apalagi, perangkat gadget yang akrab di kalangan anak-anak dan generasi muda menjadi sarana efektif untuk meracuni pemikiran anak-anak dan generasi muda Indonesia .
Acara ini juga dihadiri Deputi Persidangan Setjen DPR RI Suprihartini, serta anggota Komisi A DPRD DI Yogyakarta Eko Suwanto. (**)

Editor
:
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru