Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 Juli 2026

Maruarar Sirait Kiritik Kebijakan Donald Trump

- Rabu, 15 Februari 2017 10:31 WIB
406 view
 Maruarar Sirait Kiritik Kebijakan Donald Trump
Ist
Maruarar Sirait
Jakarta (SIB): Ketua Umum Taruna Merah Putih (TMP), Maruarar Sirait menyesalkan kebijakan Presiden Donald Trump, yang  menghentikan  sementara program pengungsi serta melarang warga Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman masuk ke AS selama 90 hari ke depan.

Menurut Ara, panggilan akrab Maruarar Sirait, negara-negara tersebut merupakan negara dengan penduduk mayoritas muslim, sehingga  kebijakan ini sangat tidak tepat bagi negara Amerika yang selama ini terus menerus mempromosikan demokrasi ke berbagai belahan dunia.

Dinilainya,  kebijakan Trump  sama saja dengan menyalahi konsep "freedom" AS yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan tanpa membeda-bedakan rakyat AS dan manusia secara umum berdasarkan keturunan, latar belakang, agama, ras, dan perbedaan primordialisttik apapun.

"Trump sangat keliru bila mempersepsikan semua umat yang beragama Islam sebagai radikal. Ini salah besar," kata Maruarar Sirait,  seraya menambahkan, bahwa ketakutan  Trump tersebut tidak  berdasar  dengan pengalaman pribadinya  yang berada di negara muslim terbesar di dunia, yaitu Indonesia.

Maruarar Sirait bersuku Batak dan beragama Kristen,  namun  menjadi anggota DPR hingga tiga periode dari daerah pemilihan Subang, Majalengka dan Sumedang, Propinsi Jawa Barat yang 95 persen beragama Islam.

"Orang muslim yang saya tahu itu ramah-ramah, baik, toleran, sangat menghargai perbedaan. Itu yang saya temui di daerah pemilihan saya. Demikian juga muslim yang saya kenal dan tahu dari berbagai daerah di Indonesia," kata  Ara yang sering mengunjungi masjid, berbaur dengan majelis taklim atau merayakan ulang tahun  di Islamic Center di Dapilnya.

Politisi PDI P ini  mengingatkan bahwa radikalisme ada di setiap agama. Karena itu menggunakan logika over-generalized model Trump benar-benar salah. 

Di tengah dunia global saat ini, yang harus dilakukan semua warga dunia dari berbagai dunia adalah saling memahami dan saling menghormati satu sama lain. Toleransi merupakan hal niscaya yang harus dilakukan umat manusia di dunia sehingga tercipta tata dunia yang damai dan tentram.

Menurut Ara,   Indonesia beruntung  punya Pancasila, falsafah negara yang digali oleh Bung Karno dari keragaman Indonesia.

Indonesia adalah negara dengan bhinneka tunggal ika. Bahkan  dalam prosesnya, Pancasila juga merupakan hadiah terbesar umat Islam kepada Indonesia, sebab mereka sangat mengakui, menghormati pluralisme sebagai hal yang niscaya bagi warga negara yang berbeda-beda, baik suku, agama, maupun ras.(G01)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru