Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 17 September 2026

BMKG: Puncak Gelombang Tinggi akan Terjadi di Perairan Indonesia

* Menhub akan Sanksi Syahbandar Jika Lalai
- Senin, 23 Juli 2018 21:13 WIB
326 view
BMKG: Puncak Gelombang Tinggi akan Terjadi di Perairan Indonesia
Jakarta (SIB) -Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi gelombang tinggi akan terjadi di perairan Indonesia pada tanggal 23-28 Juli 2018. Puncak gelombang tinggi itu akan terjadi pada 24-25 Juli.

"Puncak gelombang tinggi 24 hingga 25 Juli itu puncaknya, yang mencapai 6 meter lebih di daerah-daerah tadi, pantai yang ada di Selatan Indonesia," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (22/7).

Fenomena gelombang tinggi di perairan Indonesia ini setidaknya disebabkan oleh tiga hal. Pertama, adanya tekanan udara dari arah Madagaskar yang mengarah ke arah timur namun berbelok ke arah Indonesia.

"Karena sebetulnya sangat dipengaruhi oleh fenomena global yang terjadi di sebelah timur, jadi semuanya di Samudera Hindia, sebelah timur Pulau Madagaskar di situ ada tekanan udara yang tinggi. Sementara itu  ke arah Australia, tekanan udara relatif rendah. Sehingga terjadi aliran udara yang gambarannya berupa dengan kecepatan tinggi dari arah barat di sebelah timur Madagaskar," ujarnya.

Tekanan udara itu berbelok ke arah Indonesia karena tertabrak oleh benua Australia. Akhirnya udara itu masuk ke perairan selatan Indonesia.

"Sebenarnya larinya mau sampai ke timur sampai pasifik, sebetulnya, tetapi karena tertabrak oleh benua Australia, kecepatan yang tinggi tadi, tertabrak oleh benua Australia sehingga membelok, menikung masuk ke arah sebelah selatan Indonesia," ujarnya.

Selain itu, fenomena gelombang tinggi juga disebabkan oleh adanya angin yang datang dari Australia. Dwikorita mengatakan dua faktor global itu menyebabkan perairan di wilayah selatan Indonesia mengalami gelombang yang sangat tinggi.

"Juga ada fenomena lain arah angin dengan kecepatan tinggi dari arah Australia yang dingin ke arah Indonesia. Jadi ada dua serangan istilahnya, serangan dari Afrika membelok ke Indonesia, ada dari Australia langsung ke Indonesia. Sehingga semuanya berkumpul di sebelah selatan atau di pantai selatan laut Jawa hingga Nusa Tenggara bahkan tadi di sebelah barat Pulau Sumatera," tuturnya.

Tak hanya faktor global, gelombang tinggi juga disebabkan oleh faktor lokal. Pantai di Indonesia mengalami fenomena yang disebut rip current (arus pecah) yang menimbulkan arus di bagian teluk berbalik ke arah laut.

"Selain itu juga di pantai-pantai biasanya ada teluk, biasanya itu ada bahaya Rip Current, pada teluk ini biasanya akan bertemu dua arus dari dua arah yang berbeda dari arah kanan dan arah kiri, jadi dua arus ini akan menimbulkan Rip Current sehingga arus tadi mentok menabrak teluk, menabrak daratan dengan efek dia balik ke laut sehingga kapal yang sudah akan merapat ke teluk kalau terkena Rip Current akan terseret ke laut," beber dia.

Akan Sanksi
Sementara itu, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mengingatkan para syahbandar untuk mengantisipasi fenomena gelombang tinggi. Budi menyebut syahbandar akan terkena hukuman pidana jika membuat suatu kesalahan yang menyebabkan korban jiwa.

"Jadi kalau syahbandar itu ada. Jelas kalau terjadi satu kesalahan sebagai contoh mereka membiarkan satu pelabuhan untuk pemberangkatan jauh lebih penumpang atau tidak menggunakan life jacket dan terjadi satu kecelakaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa manusia, jelas itu pidana dan syahbandar itu harus bertanggungjawab," kata Budi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Budi memerintahkan syahbandar untuk memperketat syarat-syarat setiap kapal yang akan melaut. Dia juga meminta jajarannya untuk menjelaskan kepada masyarakat mengenai kondisi cuaca yang kurang baik.

"Karenanya saya menginstruksikan kepada syahbandar yang 2 minggu lalu sudah bertemu dengan kami agar memberikan suatu syarat-syarat yang lebih ketat dan memberikan suatu pemahaman baik kapal-kapal penumpang baik kapal-kapal logistik itu tidak terkecuali pada kapal-kapal nelayan," ujarnya.

Selain itu, Budi juga telah menyiapkan program padat karya untuk setiap nelayan yang tak melaut. Program ini dilakukan agar para nelayan tetap mendapatkan penghasilan meskipun tak melaut.

"Padat karya ada yang memperbaiki pantai ada yang memperbaiki selokan ada yang mungkin membuat keramba dan lain sebagainya intinya saudara-saudara kita itu mendapatkan gaji dengan bekerja, kerjaan yang dilakukan adalah kerjaan yang bermanfaat bagi masyarakat," bebernya. (detikcom/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru