Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 12 Mei 2026

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan : Kesenjangan Ekonomi Akibat Peninggalan Masa Lalu

- Kamis, 13 September 2018 18:46 WIB
954 view
Jakarta (SIB) -Ketua MPR RI Zulkifli Hasan (Zulhas)  menegaskan bahwa  kesenjangan ekonomi yang masih terjadi saat ini sebagai peninggalan masa lalu, sehingga ke depan hal itu menjadi pekerjaan rumah (PR)  bagi Capres terpilih pada Pilpres tahun depan.  

Kesenjangan itu juga  karena pendidikan masyarakat masih rendah dan upah buruh pun rendah. Sedangkan,  tingkat baca dan penguasaan matematika di urutan ke 62, jauh di bawah China, Tiongkok, Jepang, Makao, Korea, Taipe, Taiwan, Vietnam, Singapura, Thailand dan lain-lain yang masuk 11 besar.

Zulkifli Hasan yang juga  Ketua Umum DPP  PAN mengemukakan hal ini  saat membuka simposium dalam rangka HUT KAHMI di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Rabu (12/9).  

Namun demikian, Zulhas  optimis Pilpres 2019 akan berlangsung damai dan aman, meski masih ada saling serang di media sosial.  Sebab,  berbeda pilihan itu biasa, dan tidak usah saling menyudutkan satu-sama lain.  

"Kalau ada masyarakat yang suka Capres yang langsing, maka dukung Pak Jokowi. Sebaliknya, kalau senang dengan yang gemuk, ya mendukung Pak Prabowo. Keduanya  merupakan putra terbaik bangsa ini. Jadi, biasa saja berbeda pilihan,"  kata  Zulkifli Hasan seraya menyebutkan,  dalam dua kali Pilkada serentak, tak ada yang sampai mati-matian.  Hal yang sama terjadi  dalam Pilpres 2014, tetap damai dan aman.  

Zulkifli Hasan  juga menegaskan, sebagai negara yang berdasarkan Pancasila, MPR mengajak semua untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara. Untuk itu, KAHMI diharapkan menjadi pelopor persatuan bangsa.   

"Perilaku yang ber-Pancasila adalah perilaku yang disinari cahaya illahi. Sehingga dalam mengamalkan Pancasila, akan melahirkan perbuatan yang memanusiakan manusia dan memperkuat persatuan," tukas  Zulkifli Hasan  seraya menambahkan,  sejak tahun 1945 Bangsa Indonesia sudah memiliki gagasan maju ke depan.

Tokoh bangsa,  Soekarno, Hatta, dan para cendekiawan lainnya sudah memikirkan demokrasi, keadilan, kemanusiaan, kesejahteraan, dan peradaban bangsa.
   
Pikiran para pendiri bangsa itu semua termuat dalam dasar negara dan konstitusi, Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945. Sementara bangsa lain masih menyusul 20 tahun kemudian. 

Para cendekiawan  berbeda asal-usul, agama, suku, aliran politik dan seterusnya. Namun, tetap bersatu dan memberi keteladanan yakni persatuan.  

Kasimo dan M Natsir misalnya berbeda agama dan partai politik, tetapi mereka tetap bersahabat, bersatu untuk Indonesia.  

Menurut Zulkifli, Indonesia merdeka  mempunyai tujuan bersatu, berdaulat, menciptakan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat.

Pileg dan Pilpres hanya  sebagai salah satu jalan untuk mewujudkan tujuan itu. 

Karenanya.  dia menyayangkan jika Pemilu 2019 ini disebut bertentangan dengan cita-cita dan tujuan Indonesia merdeka.  Artinya,  sangat memprihatinkan jika Pemilu 2019  justru akan membuat perpecahan sesama anak bangsa. (J01/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru