Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 26 April 2026
HUT ke-6 Bakamla

Mahfud Md: Dahulu Teroris Didukung Transfer Uang, Kini Dikirim Senjata

Redaksi - Kamis, 17 Desember 2020 10:43 WIB
365 view
Mahfud Md: Dahulu Teroris Didukung Transfer Uang, Kini Dikirim Senjata
Foto: Ant/Aditya Pradana Putra
PEMBICARA: Menko Polhukam Mahfud MD menjadi pembicara kunci saat seminar nasional memperingati HUT ke-6 Badan Keamanan Laut (Bakamla) di Jakarta, Selasa (15/12). 
Jakarta (SIB)
Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud Md mengatakan ada perbedaan dukungan terhadap teroris dahulu dan kini. Dulu teroris didukung pihak internasional dengan pendanaan, tapi kini didukung dengan dikirim senjata.

"Di perbankan, kita kerja sama bagaimana transfer uang itu agar betul-betul terkontrol. Karena banyak tuh dari gerakan-gerakan teror internasional itu kadang kala mengirimkan uang. Kalau dulu lewat perbankan, oke, sudah diantisipasi," ujar Mahfud saat memberikan pidato pada Hari Ulang Tahun Badan Keamanan Laut (Bakamla) ke-6 di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Selasa (15/12).

Setelah pendanaan tidak bisa dilakukan, dukungan dari luar negeri untuk gerakan teroris berubah. Salah satu bentuk dukungannya adalah mengirimkan senjata.

"Sekarang kadang kala itu bentuknya beli barang ke seseorang tetapi sudah di dalam, dibagi dalam bentuk membuat senjata dan sebagainya," kata Mahfud.

Selain itu, Mahfud bercerita soal tantangan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ada perbedaan tipe gangguan wilayah di bagian terdepan atau perbatasan negara dengan wilayah di dalam.

Pada wilayah terdepan, khususnya perbatasan, sering terjadi konflik langsung wilayah. Beberapa kelompok luar melanggar teritori wilayah, bahkan mengklaim memiliki otoritas terhadap wilayah Indonesia.

"Apa problem terhadap upaya menjaga keutuhan itu? Keutuhan wilayah dan ideologi itu. Banyak sekali. Saya sampaikan di belahan barat sana, ada Natuna Utara, itu sering diganggu oleh kapal-kapal asing. Oleh sebab itu, kita harus memperkuat di sana untuk menjaga keutuhan. Demikian juga di sana ada organisasi separatis dan ini mengganggu keutuhan teritori kita," ucap Mahfud.

Sementara itu, di bagian dalam wilayah Indonesia, tantangan keutuhan negara adalah bentuk pemikiran radikalisme. Orang yang telah terpengaruh paham tersebut langsung bertindak teror.

"Lalu di tengah, yang disebar-sebar itu bukan soal teritori seperti di barat, seperti di timur. Radikalisme dan terorisme itu tantangan terhadap ideologi yang tersebar di Jawa, Sumatera, Aceh, NTB, di mana pun itu, ada gerakan-gerakan yang disebut gerakan radikalisme, yang pada tindakannya ya bentuknya terorisme," ucapnya.

Tantangan Geopolitik
Mahfud Md juga berbicara tentang tantangan geopolitik Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan. Menurut Mahfud, tantangan geopolitik Indonesia itu mulai soal Natuna hingga separatisme.

"Indonesia adalah negara kepulauan. Negara kepulauan itu berdasarkan United Nation Convention on the Law of the Sea 1982, Indonesia itu adalah diakui sebagai negara kepulauan. Di mana negara yang terdiri atas 17 ribu pulau ini merupakan negara yang berkesinambungan di laut, di antara pulau-pulau. Semua itu jadi bagian wilayah kesatuan," ujar Mahfud, Selasa (15/12).

Melihat geografi Indonesia yang sangat luas itu, Mahfud Md meminta semua wilayah itu dilindungi. Tidak hanya itu, seluruh masyarakat Indonesia yang ada di dalamnya, yang jumlahnya menyentuh angka 267 juta jiwa, juga harus dilindungi.

"Nah, itulah wilayah yang harus dilindungi. Lihat nih, lihat geopolitik kita. Sekelompok orang yang hidup bersama punya tujuan bersama diapit oleh berbagai geopolitik lain yang jumlahnya secara demografi sebanyak 267 juta jiwa yang harus kita lindungi," terang Mahfud.

Salah satu tantangan, menurut mantan Ketua MK ini, adalah laut Natuna. Di sana, kata Mahfud Md, banyak kapal asing yang berusaha mengganggu keutuhan Indonesia.

"Saya sampaikan di belahan barat sana ada Natuna Utara itu, sering diganggu oleh kapal-kapal asing. Oleh sebab itu, kita harus memperkuat di sana untuk menjaga keutuhan. Demikian juga di sana ada organisasi separatis. Dan ini mengganggu keutuhan teritori kita," ujar Mahfud.

Terakhir, Mahfud Md mengingatkan soal gangguan radikalisme dan terorisme yang kerap mengganggu ideologi negara. Saat ini, menurut Mahfud, radikalisme di Indonesia sudah menyebar hampir seluruh wilayah.

"Lalu di tengah yang disebar-sebar itu bukan soal teritori seperti di barat seperti di timur. Radikalisme dan terorisme itu tantangan terhadap ideologi yang tersebar di Jawa, Sumatera, Aceh, NTB, di mana pun itu ada gerakan-gerakan yang disebut gerakan radikalisme. Yang pada tindakannya ya bentuknya terorisme," pungkas Mahfud. (detikcom/d)
Sumber
: Hariansib edisi cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru