Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 27 April 2026

Survei IFES dan LSI: Pemilih Lihat Capres dari Karakter, Baru Kinerja

* Masyarakat Hati-hati Sikapi Berita Pemilu di TV
- Rabu, 12 Februari 2014 15:15 WIB
466 view
Survei IFES dan LSI: Pemilih Lihat Capres dari Karakter, Baru Kinerja
SIB/Int
Ilustrasi
Jakarta (SIB)- Nama-nama bakal calon presiden untuk Pemilu 2014 terus bermunculan dan masyarakat mulai dihadapkan dalam pilihan. Berdasarkan hasil survei International Foundation for Electoral System (IFES) bersama dengan Lembaga Survei Indonesia (LSI), masyarakat saat ini lebih melihat karakter calon dibanding program atau kinerja yang dibawa.

"Dari survei kami, kualitas pemimpin yang paling diinginkan adalah jujur dan bebas korupsi yaitu sebesar 36%. Sedangkan penyebutan kriteria tentang program sangat kecil, lebih besar di karakter pemimpin," kata Research Director IFES Rakesh Sharma di Grand Ballroom Kempinski, Jl MH Thamrin, Jakpus, Selasa (11/2).

Pernyataan Rakesh diperkuat oleh Direktur Riset LSI Hendro Prasetyo yang hadir pula dalam acara. Menurut Hendro, kebanyakan masyarakat belum memiliki akses informasi tentang track record dari para kandidat.

"Kinerja akan terlihat kalau orang sudah dikenal. Idealnya kalau harus punya info mendalam tentang kandidat tapi untuk mencapai ke sana aksesnya terbatas," ujar Hendro.

"Contohnya, apa sih track record Ical, Jokowi, Prabowo? Itu enggak gampang untuk diketahui. Karakter kan bisa lihat penampilan di TV, mudah. Tapi aslinya seperti apa kita tidak tahu," lanjutnya.

Survei ini dilakukan dengan wawancara tatap muka pada 1.890 responden yang mewakili para pemilih di Indonesia yaitu usia 17 tahun ke atas atau sudah menikah.

Responden berasal dari semua provinsi di Indonesia dan jumlah responden ditetapkan secara proporsional berdasarkan provinsi. Survei dilaksanakan pada 17-30 Desember 2013 dengan margin of error 2,3% dan tingkat kepercayaan 95%. Survei ini didanai oleh IRES sendiri.

Berikut hasil lengkapnya terkait kriteria pemimpin yang diinginkan:
Jujur/bebas dari korupsi 36%, Peduli pada rakyat 18%, Kepribadian 12%, Kemampuan memimpin 5%, Latar belakang pendidikan 5%, Program kandidat 4%, Bertanggung jawab/menepati janji 2%, Pengalaman kandidat di pemerintahan 2%, Kinerja kandidat di masa lalu 2%, Lainnya 7% dan Tidak tahu/ tidak 7%.

Masyarakat Hati-hati
Sementara itu, tingkat partisipasi masyarakat dalam Pemilu 2014 bisa meningkat bila didukung dengan informasi yang akurat. Masyarakat kini lebih berhati-hati dalam menyikapi berbagai pemberitaan terkait Pemilu.

"Dari survei kami, iklan kampanye di TV mendorong masyarakat untuk berpartisipasi memilih. Kami mengakui bahwa TV dan media lainnya penting untuk memberi informasi pada pemilih.

Tapi lebih dari 70% responden ternyata mengatakan bahwa info dari media harus disikapi hati hati. Mungkin karena beberapa media dimiliki oleh tokoh politik," kata  Rakesh Sharma.

Hal tersebut dipaparkan dalam rilis survei International Foundation for Electoral System (IFES) dengan menggandeng Lembaga Survei Indonesia (LSI) tentang "Persepsi Masyarakat Indonesia Menjelang Pemilu Legislatif 2014."

Iklan kampanye di TV dianggap oleh 36% responden sebagai cara paling efektif untuk mendorong masyarakat berpartisipasi dalam Pemilu. Cara kedua yaitu dengan pertemuan informal seperti obrolan di warung kopi, arisan, dan lain-lain.

Dalam survei tersebut, responden juga ditanyakan persetujuannya tentang pernyataan "Pemilih harus berhati-hati dalam menilai berita yang mereka baca, dengar, atau lihat di media massa." Hasilnya, sebanyak 15% sangat setuju dan 71% setuju. (detikcom/d)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru