Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 10 September 2026

RI Mustahil Jadi Penengah Israel-Palestina

- Jumat, 22 Mei 2015 20:01 WIB
460 view
RI Mustahil Jadi Penengah Israel-Palestina
Pontianak (SIB)- Indonesia dinilai sangat mustahil bisa menjadi penengah dalam konflik Israel dan Palestina. Pasalnya, negara ini tidak mampu menunjukkan sikap netral di dalam konflik antarkedua negara tersebut.

"Indonesia sejak lama berpihak kepada Palestina dan sampai sekarang tidak mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel," kata pengamat politik Universitas Tanjungpura, Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar), Syarif Usmulyadi Alqadrie, akhir pekan lalu.

Usmulyadi menanggapi sikap resmi Wakil Menteri Luar Negeri Vatikan, Antonie Camilleri. Pengakuan Vatikan diilustrasikan untuk membantu mewujudkan apa yang disebut sebagai "solusi dua negara" guna mengakhiri konflik dengan Israel.

Pemerintah Israel menyatakan kecewa dengan langkah Vatikan yang menyebutkan keputusan tersebut akan mengganggu perundingan bilateral.

Paus Fransiskus berupaya memperkuat kehadiran Kristen di Timur Tengah di saat ratusan ribu pemeluk agama ini menyelamatkan diri dari tindakan agresif kelompok yang menamakan diri Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS.

Dengan rencana pengakuan tersebut, Vatikan menambah panjang daftar negara Eropa yang mengakui Palestina. Pada 2014, Parlemen Eropa, Inggris, Republik Irlandia, Spanyol, dan Prancis menyetujui mosi mendukung negara Palestina.

Swedia mengambil langkah lebih tegas dengan secara formal mengakui Palestina sebagai negara. Usmulyadi mengungkapkan, apa pun sikap Indonesia tentang Palestina tidak akan direspons dunia internasional karena sudah lama menunjukkan sikap keberpihakan terhadap Palestina.

Usmulyadi mengatakan, sikap politik luar negeri Indonesia yang diklaim bebas dan aktif ternyata tidak berlaku dalam menghadapi konflik Israel-Palestina.
Indonesia mengkhianati politik luar negeri bebas aktif karena terlalu frontal memusuhi Israel dan sangat berpihak kepada Palestina.

"Sementara di dalam negeri sendiri, masyarakat Islam di Indonesia sangat reaktif terhadap Israel. Jadi, pemerintah tidak berani mengambil risiko terlalu jauh untuk menjajaki berkomunikasi dengan Israel. Terhadap kondisi ini, disarankan Indonesia tidak perlu terlalu bermanuver karena akan sia-sia, hanya buang energi, akibat sikap keberpihakannya terhadap Palestina," ucap Usmulyadi. (SH/f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru