Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 10 September 2026

Rakit Pengolah Limbah dari Abu Vulkanik, 2 Pelajar Solo Menangi Lomba di AS

- Rabu, 27 Mei 2015 14:41 WIB
290 view
Rakit Pengolah Limbah dari Abu Vulkanik, 2 Pelajar Solo Menangi Lomba di AS
Solo  (SIB)- Dua pelajar SMAN 1 Surakarta ini pantas diacungi jempol. Bermula dari ketertarikannya terhadap abu vulkanik di selokan, keduanya terinspirasi membuat alat pengolah limbah. Temuannya memenangi Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) yang diselenggarakan LIPI. Bahkan kemudian mewakili Indonesia di ajang internasional di Amerika Serikat dan mampu tampil sebagai pemenang keempat.

Luca Cada Lora (18) dan Galih Ramadhan (18) berhasil menyabet penghargaan 4th Grand Award Kategori Material Science saat mewakili Indonesia di ajang Intel International Science And Engineering Fair 2015 di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serkat, tanggal 10 hingga 15 Mei lalu. Kejuaraan itu diikuti oleh perwakilan dari 73 negara. Tampil sebagai juara keempat tingkat internasional, keduanya membawa pulang hadiah masing-masing 250 dolar Amerika.

Temuan menuturkan, temuan itu terinsipirasi dari onggokan abu vulkanik Gunung Kelud saat erupsi besar pada Februari 2014 lalu. Saat itu memang Solo dan sekitarnya diguyur hujan abu sangat pekat dan bahkan hingga berbulan-bulan onggokan abu masih terdapat di berbagai tempat. Luca dan Galih mendapati kenyataan bahwa air di selokan yang penuh dengan abu vulkanik terlihat lebih jernih dibanding biasanya.

"Dari penelitian kami, abu vulkanik mampu mengikat polutan dalam air, terutama polutan zat logam berat. Zat tersebut diikat dalam pori-pori di permukaan abu vulkanik sehingga air bisa jernih karena kandungan logamnya di bawah ambang batas," papar Luca, Selasa (26/5).

Keduanya lalu terinsipirasi membuat alat yang dapat menyaring limbah menjadi air yang layak buang, dengan abu vulkanik sebagai penyaringnya. Butuh waktu berbulan-bulan untuk meneliti karakteristik abu vulkanik Gunung Kelud. Bahkan penelitian dilakukan hingga ke Bandung.

Proses yang paling sulit, kata Luca, adalah memproses abu vulkanik agar bisa lebih efektif menyerap zat logam, karena harus dilakukan aktivasi. Proses aktivasi dilakukan dengan membersihkan pori-pori abu dari kotoran organik maupun anorganik hingga pori-pori abu vulkanik membesar. Selanjutnya abu yang telah diaktivasi tersebut dapat melakukan proses absorbsi.

Setelah itu logam berat yang terkandung dalam limbah baru akan lebih efektif menempel pada abu tersebut hingga menghasilkan air yang tidak mencemari lingkungan. Setelah jadi alat tersebut mereka beri nama Packed VolcASH.

Sedangkan menurut Galih, aplikasi alat tersebut cukup sederhana. Air limbah tinggal dimasukkan dan abu di dalam alat akan menyerap logam berat. Air yang keluar dari dalam alat adalah air bersih layak buang sehingga tidak mencemari lingkungan. Menurutnya, alat yang dapat disaring oleh alat tersebut di antaranya limbah industri seperti pewarna sintetis maupun penyepuhan logam. (Dtc/w)   

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru