Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 10 September 2026

Jokowi: Rohingya Kasus Kemanusiaan, Dunia Harus Serentak Membantu

- Sabtu, 30 Mei 2015 13:41 WIB
321 view
Jokowi: Rohingya Kasus Kemanusiaan, Dunia Harus Serentak Membantu
Solo (SIB)- Presiden Joko Widodo mengetuk hati seluruh warga dunia untuk memperhatikan nasib warga Etnis Rohingya yang terrusir karena mengalami kekerasan di negara asalnya di Myanmar. Menurutnya, bantuan terhadap mereka adalah bagian dari solidaritas kemanusiaan.

Ditemui wartawan di area car free day di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Minggu (24/5), Presiden berharap dunia internasional, khususnya PBB melalui UNHCR, ikut mendukung dan terlibat dalam penanganan pengungsi Rohingya. "Bantuan kepada pengungsi adalah merupakan sebuah kegiatan kemanusiaan," tegasnya.

Indonesia, kata Presiden, telah proaktif melakukan kesepakatan dengan negara-negara kawasan seperti Malaysia dan Thailand untuk berkoordinasi terkait nasib pengungsi Rohingya. Ketiga negara tersebut sepakat untuk menerima para pengungsi dalam kaitan bantuan pangan dan menampung mereka dengan dasar kemanusiaan.

Untuk itu, Pemerintah telah menyiapkan anggaran khusus guna membantu para pengungsi Rohingya. "Kami sedang menghitung-hitung dan melakukan kalkulasi mengenai biaya yang dibutuhkan. Namun penanganannya tetap memerlukan dukungan dunia internasional," kata presiden.

Dua pekan terakhir, pengungsi Rohingya dan Bangladesh tiba di Sumatera dan Aceh. Mereka datang secara bergelombang melalui laut. Saat ini, semua ditampung pemerintah daerah setempat.

KANGEN KELUARGA


Muhammadul Hasan (17), imigran asal Rohingya, kembali bersemangat. Ia mendapatkan telepon genggam dari seorang dokter.

Saat ditemui di lokasi penampungan di Kuala Langsa, Langsa, Aceh, Sabtu (23/5), Hasan sedang membantu seorang imigran lain menghubungi keluarga mereka.

Selama berada di pengungsian, Hasan sering diminta bantuan oleh tim medis sebagai penerjemah. Ia kerap dibawa ke beberapa lokasi penampungan lain jika ada imigran yang sakit.

Hasan fasih berbahasa Inggris dan bahasa Burma. Saat 433 imigran tiba di Aceh Timur, ia ikut ke sana bersama tim medis dan relawan untuk menanyakan kondisi imigran yang baru ditampung. Jika ada yang sakit, dia yang bertugas menanyakan keluhan pasien.

Tiga hari lalu, Hasan dibelikan handphone oleh seorang dokter. Waktu itu, ia mengaku hendak menghubungi orangtuanya di Burma. Padahal Hasan hanya berniat meminta pinjam ponsel sang dokter untuk berbicara dengan ibunya.

"Saya bilang ke seorang dokter saya kangen ibu, mau nelpon ibu. Terus dia belikan saya handphone," kata Hasan.

Setelah mendapat HP, ia langsung menghubungi keluarga. Memang Hasan masih mengingat nomor HP orangtuanya. Kini, kala kangen Ibu, Hasan langsung berbicara dengan orangtuanya melalui HP.

"Saya sudah berbicara dengan ibu saja saat sampai di sini setelah dibelikan HP," tuturnya.

Seorang imigran perempuan lain juga mendapat HP yang sama dengan Hasan dari dokter tersebut. Ia masih menyimpan nomor orangtuanya pada secarik kertas.
Namun karena belum pandai menggunakan HP, ia meminta bantuan Hasan untuk menyimpan nomor orang terdekatnya.

Ada 682 imigran Rohingya dan Bangladesh ditampung di Kuala Langsa sejak seminggu lalu. Mereka ditampung dalam dua gedung terpisah dalam satu lokasi. (detikcom/ r)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru