Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 Juli 2026

BI Tak Mau Disalahkan Terkait Melambatnya Pertumbuhan Ekonomi

*Penyaluran Kredit Ikut Lesu
- Jumat, 09 Mei 2014 11:50 WIB
231 view
 BI Tak Mau Disalahkan Terkait Melambatnya Pertumbuhan Ekonomi
Jakarta (SIB)- Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2014 berada di bawah ekspektasi banyak pihak, karena hanya mencapai 5,21%. Bank Indonesia (BI) menilai ini adalah akibat dari kebijakan pemerintah yang menerapkan aturan pelarangan ekspor bahan mineral mentah.

"Jangan dibaca bahwa pertumbuhan ekonomi disebabkan oleh kebijakan moneter yang berlebihan. Tapi ini adalah dikarenakan aturan minerba salah satunya," ungkap Gubernur BI Agus Martowardojo usai Rapat Dewan Gubernur di kantor pusat BI, Jakarta, Kamis (8/5).

Menurutnya, perlambatan ekspor memang terlihat sangat signifikan. Untuk ekspor rill awalnya diperkirakan tumbuh 8,1-8,5%. Namun realisasinya ternyata hanya mencapai 1,5-1,9%. Pengaruh terbesar adalah dari komoditas mineral dan batubara.

"Memang ada perlambatan kinerja ekspor, khususnya mineral dan batubara," ujarnya.

Sementara dari sisi konsumsi domestik, menurut Agus, tidak ada permasalahan. Bahkan cenderung masih ada kenaikan dibandingkan periode sebelumnya.

Oleh karena itu, BI menilai perlambatan pertumbuhan bukan disebabkan kebijakan moneter ketat. "Demand masih tumbuh dengan baik, investasi juga masih tumbuh dengan baik, spending pemerintah juga berjalan dengan baik," paparnya.

Menurut pernyataan tertulis yang dikutip dari situs BI, pelarangan ekspor mineral mentah terutama mempengaruhi pertumbuhan ekonomidi wilayah Indonesia timur. Pertumbuhan ekonomi di kawasan Indonesia timur melambat dengan signifikan, dari 6,6% pada kuartal I-2013 menjadi 4,6% pada kuartal I-2013.

"Ditinjau secara regional, pertumbuhan ekonomi kuartal-I 2014 tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia," sebut pernyataan itu.

Menurut kajian BI, perlambatan yang cukup tajam di wilayah Indonesia timur disebabkan oleh kebijakan pelarangan ekspor mineral mentah. Di wilayah timur, ekonomi memang didorong oleh sumber daya alam.

"Berbeda dengan wilayah timur, wilayah Jawa dan Sumatera mencatat pertumbuhan masing-masing 5,8% dan 5,4%. Bahkan pertumbuhan ekonomi di kawasan Jakarta meningkat dari 5,6% pada kuartal-IV 2013 menjadi 6% pada kuartal I-2014. Kenaikan pertumbuhan ekonomi di kawasan Jakarta banyak ditopang kenaikan sektor perdagangan dan sektor pengangkutan," papar pernyataan itu.

Pertumbuhan kredit pada kuartal I-2014 melambat dibandingkan kuartal sebelumnya. Bank Indonesia (BI) menilai perlambatan kredit ini sejalan dengan perekonomian domestik.

Demikian dikemukakan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara seperti dikutip dari situs resmi BI, Kamis (8/5). "Pertumbuhan kredit kepada sektor swasta melambat dari 21,4% pada kuartal IV-2013 menjadi 19,1% pada kuartal I-2014. Ini sejalan dengan pelemahan permintaan domestik," kata Tirta.

BI, lanjut Tirta, akan terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengarahkan pertumbuhan kredit sehingga dapat menopang pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih sehat dan seimbang.

Sebelumnya, OJK pun menegaskan akan menegur bank yang punya pertumbuhan kredit di atas 20%. Direktur Pengawasan Bank OJK Slamet Edy Purnomo menyebutkan, saat ini ada beberapa bank yang telah menyalurkan kredit di atas ketentuan otoritas.

"Ada beberapa bank yang akan kita revisi soal penyaluran kreditnya. Yang di atas 20% akan kita tegur untuk kembali ke target OJK dan BI di kisaran 15%-17%," tegasnya saat ditemui di Gedung OJK, Jakarta, Jumat (2/5/2014).

BI dan OJK khawatir ketika bank terlalu agresif dalam menyalurkan kredit akan berdampak terhadap likuiditas. "Kita harus lebih prudent dalam mengantisipasi kondisi makro," kata Slamet.(dtf/ r)


Simak berita selengkapnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB) edisi 9 Mei 2014. Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru