Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 23 Agustus 2026
Antisipasi Resolusi Parlemen Eropa

Konsorsium Petani Sawit Kumpulkan Rp1 Triliun Bangun Pabrik Biodiesel di Sumut

- Rabu, 26 April 2017 21:34 WIB
530 view
Medan (SIB)- Konsorsium petani sawit di Sumut memastikan membangun pabrik biodiesel di Sumut dengan biaya Rp1 triliun. Konsorsium terdiri dari pengusaha sawit nasional, pengusaha sawit daerah dan petani sawit serta perbankan. "Komposisi saham jelas, perbankan 30 persen, pengusaha sawit nasional 25 persen, pengusaha sawit daerah 25 persen, sisanya petani dan pekebun rakyat. Lokasi pabrik kemungkinan di Langkat atau Labuhanbatu Utara  serta Asahan," ujar James Ganda Sormin SE di jeda sebagai pembicara dalam Ibadah Pembinaan Majelis dan Keluarga GKPI se-Resort Medan Timur II di GKPI SPN Sampali, Medan, Senin (24/4).

Menurut James Ganda Sormin, langkah konsorsium untuk mengantisipasi resolusi Parlemen Uni Eropa yang melarang Indonesia memroduksi biodiesel. "Resolusi itu terlalu jauh mengintervensi perekonomian Indonesia. Tujuannya kan menyengsarakan rakyat. Padahal, warga Sumut memosisikan perkebunan sawit sebagai mata pencaharian utama. Kalau resolusi itu tidak dilawan, ekonomi rakyat dan muaranya ekonomi Indonesia, anjlok. Resolusi itu jahat!"

Sebagaimana diketahui, Parlemen Uni Eropa mengeluarkan resolusi soal sawit dan pelarangan biodiesel berbasis sawit karena dianggap masih menciptakan banyak masalah dari deforestasi, korupsi, pekerja anak, sampai pelanggaran HAM. Resolusi yang berjudul Palm Oil and Deforestation of Rainforests disahkan melalui pemungutan suara pada sesi pleno di Strasbourg 4 April 2017. "Resolusi itu bodoh, Resolusi itu pun sebagai pengingkaran komitmen Uni Eropa yang mengklaim sebagai wilayah perdagangan terbuka, diatur secara terbuka dan jujur dan adil," kata James Ganda Sormin sambil mempertanyakan jika produksi biodiesel dilarang di Indonesia maka negara tercinta semakin bergantung pada negara produksi biodiesel. "Emang Uni Eropa mau memberi gratis biodiesel pada Indonesia. Resolusi Uni Eropa itu kejam," tegasnya sambil mengatakan konsorsium sudah hampir finalisasi.

Menurutnya, pihaknya sudah tur ke sejumlah pengusaha di Jawa dan Sumatera khususnya yang bergerak di bidang persawitan. "Tetapi semua pengusaha Indonesia, ya. Soalnya, di Sumut perkebunan sawit pun sudah 'dimilik' asing. Itulah sebabnya kenapa konsorsium menggandeng pekebun sawit rakyat. Agar warga Indonesia murni yang menikmati keuntungan dari beroperasinya pabrik yang memroduksi biodiesel," harap James Ganda Sormir.

Meski demikian, pihaknya belum dapat memastikan kapan groundbreaking dimulai tapi rapat maraton sudah dijalankan hingga komposisi penyaham sudah dibakukan.

James Ganda Sormin pun mempertanyakan relis yang dilakukan Komisi Eropa berdasar kajian pada pada 2013. Kajian itu, ujarnya mengatakan, dari total 239 juta hektare lahan yang mengalami deforestasi secara global dalam kurun waktu 20 tahun, 58 juta hektare terdeforestasi akibat sektor peternakan, 13 juta hektare akibat penanaman kedelai, delapan juta hektare dari jagung dan enam juta hektare dari minyak sawit. "Kajian itu mengajak Indonesia ke perang dagang. Daripada itu terjadi, lebih baik Indonesia memroduksi biodiesel untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri hingga tidak terikat dengan dunia internasional yang memberi peraturan merugikan Indonesia," tegasnya.

Bersama Ikatan Alumni Fakultas ekonomi UHN (IAFEN), James Ganda Sormin lebih dulu melakukan pemetaan pada tanaman sawit di Sumut di mana masyarakat berlomba beralih tanam ke sawit. "Kondisi itu yang membuat Sumut defisit padi dan diversifikasi pangan tidak jalan," tutupnya. (R10/h)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru