Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 Juli 2026

2014 Daya Beli Menurun, PT Unilver Indonesi Raih Keuntungan Rp 30.8 Triliun

- Kamis, 05 Juni 2014 14:21 WIB
347 view
2014 Daya Beli Menurun, PT Unilver Indonesi Raih Keuntungan Rp 30.8 Triliun
Jakarta (SIB)- Meskipun awal tahun 2014 daya beli masyarakat Indonesia dan kepercayaan konsumen akibat naiknya harga-harga BBM dan bahan pokok menurun, PT Unilever justru masih bisa menarik keuntungan penjualan bersih mencapai Rp 30.8 triliun. Terjadi peningkatan dari tahun yang sebelumnya, 12,7%.

Hal tersebut diungkapkan Presiden Direktur PT Unilever TBK, Maurits Lalisang saat acara Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan PT Unilever Indonesia di hotel Mulia, Senayan Jakarta, Rabu (4/6).

"Kami bersyukur, di tengah situasi perekonomian yang kurang bersahabat di 2013, kami dapat terus dapat mempertahankan pertumbuhan, meningkatkan pangsa pasar koorperate serta meraih pertumbuhan dua digit, baik di top maupun bottom line. Kunci sukses kami adalah, memastikan bahwa semau fundamental bisnis, berada kokoh di posisinya, " papar Maurits.

Lebih Lanjut, PT Unilever. Telah mengembalikan fokus pada bisnis inti perusahaan, pada kategori, dan produk yang mendorong profitabilitas, dan terbukti benar-benar membuat perbedaan nyata terhadap kinerja bisnis perusahaan.

Adapun, strategi Unilever Indonesia untuk bertumbuh, lanjut Maurits dikenal dengan sebutan 4 G model, yang merupakan kependekan Grow Consistenly, grow Competitively, Profitably dan grow Responbly.

"Sebagai perusahaan, kami ingin menciptakan masa depan yang lebih ceria bagi masyarakat setiap hari, kami ingin menginspirasi orang untuk melakukan tindakan-tindakan kecil yang bisa dilakukan bersama-sama akan membuat perubahan besar," jelasnya.

Dia menjelaskan, 4 G model adalah,  area yang pertama adalah bertumbuh secara konsisten. Selama 10 tahun terakhir Unilever telah tumbuh secara konsisten dan meraih CGAR 14,7% berkat adanya model pengembangan pasar yang jitu.

"Ada 3 model, yakni menarik lebih banyak konsumen untuk menggunakan produk kami, meningkatkan jumlah komsumsi untuk tiap produk, serta menciptakan inovasi produk yang menawarkan lebih banyak manfaat bagi penggunanya. Eksekusi yang konsisten dan cermat dari model ini terbukti membuat kami terus tumbuh secara konsisten dari tahun ke tahun," ujarnya.

Area yang dua, bertumbuh secara kompetitif. Persaingan di pasar semakin lama semakin ketat dan untuk bertumbuh secara kompetitif harus memiliki brand-brand yang bisa menangh dalam persaingan dan menjadi pilihan utama konsumen.

Selanjutnya di area ketiga, bertumbuh secara menguntungkan. Tiap tahun berhasil mempertahankan profit yang sangat baik, diatas rata-rata industri, berkat yang dilakukan secara terus menerus untuk efesiensi dalam operasi, inovasi yang bersifat margin-accretive serta mengelola porfolio mix dengan oftimal.

Dan Area yang terakhir, bertumbuh secara bertanggungjawab, merupakan, dasar dari model bisnis Unilever secara global yakni pertumbuhan yang berkelanjutan.

"Dewasa ini Indonesia menghadapi berbagai masalah, seperti kemiskinan, masalah kesehatan, keberlanjutan sumber daya serta perubahan iklim. Bila tidak disikapi dengan benar, masalah-masalah ini bisa mempengaruhi keberlanjutan operasi bisnis kami," tandasnya.

Untuk ke depannya, kata Maurits perseroan melihat bahwa iklim operasional, sepanjang 2014 masih penuh tantangan, seiring pergulatan Indonesia menghadapi devisit neraca pembayaran, suku bunga yang tinggi, serta volatilitas nilai rupiah.

"Pemilihan legislatif pada April 2014 telah berjalan lancar, dan kini, kita tengah menantikan pemilihan presiden pada Juli 2014. Dengan makin matangnya, Indonesia berdemokrasi, kami percaya bahwa resiko negatif yang ditimbulkan, terhadap iklim bisnis adalah kecil," Pungkasnya. (BAS/i)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru