Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 Juli 2026

Banyak Sapi Perah Dipotong, RI Jadi Ketergantungan Impor Susu

- Kamis, 05 Juni 2014 14:26 WIB
233 view
 Banyak Sapi Perah Dipotong, RI Jadi Ketergantungan Impor Susu
Jakarta (SIB)- Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) menjelaskan Indonesia sampai saat ini masih ketergantungan pada impor susu. Jumlah susu yang diimpor setiap tahunnya juga cukup besar yaitu mencapai lebih dari 60%.

"Kebutuhan susu kita per tahun perlu 3 juta ton, dari jumlah itu sebanyak 1,8 juta ton susu kita impor," ungkap Direktur Budidaya Ternak Ruminansia Kementan Fauzi Lutan saat memberikan pemaparan kepada media di Gedung Kementerian Pertanian (Kementan), Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu (4/6).

Salah satu penyebab masih tingginya impor susu Indonesia adalah karena populasi sapi perah di Indonesia jumlahnya cukup kecil. Bahkan menurut Fauzi jumlah populasi sapi perah di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami pengurangan. Salah satunya adalah karena kegiatan pemotongan sapi perah.

"Populasi sapi perah kita di tahun 2011 mencapai 590.000 ekor, di tahun 2013 menjadi hanya 470.000 disinyalir karena pemotongan betina produktif karena dipicu harga daging sapi yang cukup mahal. Tetapi kita tidak punya angka berapa yang dipotong. Sehingga populasinya turun," imbuhnya.

Untuk menambah populasi sapi perah di dalam negeri, Kementan telah menerbitkan dasar hukum berupa rekomendasi impor bagi para importir.
Diharapkan dengan adanya importasi sapi perah ini, produksi susu sapi di Indonesia meningkat dari mengurangi ketergantungan impor.

"Kesulitan bibit dari dalam negeri sehingga keinginan kita untuk impor indukan sudah diberikan landasan hukumnya. Kalau memang kesulitan mendapatkan bibit di dalam negeri kita impor meskipun harganya cukup mahal. Ini sudah dimanfaatkan dan sudah ada komitmen dari PT Sulung yang akan mengimpor sapi dari Australia. Dengan ini kita bisa tingkatkan populasi kita semakin besar," jelasnya. (detikfinance/d)


Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru