Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Pejabat Kementan Tak Percaya RI Bisa Impor Cabai Segar

- Sabtu, 21 Juni 2014 12:41 WIB
207 view
 Pejabat Kementan Tak Percaya RI Bisa Impor Cabai Segar
Jakarta (SIB)- Pihak Kementerian Pertanian (Kementan) mengakui ada kegiatan impor cabai, namun bukan jenis cabai segar. Biasanya yang diimpor jenis cabai bubuk karena jika yang diimpor jenis segar dipastikan importir rugi karena biaya angkut yang mahal dan risiko busuk.

"Cabai (segar) itu nggak mungkin diimpor, kalau ada pengusaha yang impor cabai segar dia pasti rugi, karena cabai dari negara lain itu rasanya kurang pedas, masyarakat Indonesia tidak suka," ucap Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Hasanuddin Ibrahim Jumat (20/6).

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia masih rutin mengimpor cabai. Mulai dari cabai jenis awet sementara hingga cabai kering tumbuk. Untuk dua jenis cabai ini, impornya melonjak pada Maret 2014.

Menurut Ibrahim, impor cabai selama ini lebih banyak berbentuk bubuk, hanya untuk memenuhi kebutuhan industri seperti makanan mie instan.

"Cabai walau harganya mahal, masyarakat tetap beli, nggak mau mereka beli yang impor, apalagi yang cabai bubuk, itu lebih banyak digunakan industri," katanya.

Ibrahim mengungkapkan cabai merupakan produk yang cepat rusak, sehingga ada suatu saat produksinya turun dan pasokannya kurang dan menyebabkan harga cabai jadi mahal.

"Padahal kalau kita mau repot sedikit, masyarakat bisa menanam sendiri di halaman rumahnya, bisa juga dengan pot kalau perkarangannya kecil, tanaman cabai mudah tumbuh di mana saja, tidak memerlukan iklim dan perawatan khusus, sehingga kebutuhan cabai bisa dipenuhi sendiri tidak perlu beli," terangnya.

"Namun sampai saat ini, hampir seluruh daerah masih mengantungkan pasokan cabai dari Jawa, harusnya pemda bisa ikut berperan serta dan bertanggung jawab pada sektor pertaniannya, karena sektor ini sudah termasuk dalam otonomi daerah bukan pemerintah pusat lagi, sayangnya juga ada daerah yang APBD dan PAD nya ratusan miliar, tapi alokasi untuk pertaniannya tidak lebih dari Rp 5 miliar," tutupnya. (detikfinance/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru