Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 Juli 2026

Pemilu, Piala Dunia Hingga Ramadhan Picu Volume Transaksi Ekonomi Selama 2014

- Rabu, 25 Juni 2014 18:54 WIB
432 view
Pemilu, Piala Dunia Hingga Ramadhan Picu Volume Transaksi Ekonomi Selama 2014
Medan (SIB)- Volume peredaran dan perputaran uang dalam berbagai bursa transaksi selama tahun 2014 ini dinilai agak khas dan spesifik, karena terjadinya sejumlah bursa ekonomi besar dengan potensi lima kali lipat dalam satu masa yang berdekatan atau bersamaan, yaitu bursa pada Pemilihan Presiden (Pilpres) RI, dalam rangka Ramadhan dan jelang Lebaran, musim Piala Dunia, masa Tahun Ajaran Baru di dunia pendidikan dan juga sehubungan musim liburan panjang di pertengahan tahun.

Pakar ekonomi di Sumut, DR Polin LR Pospos dan praktisi bisnis Doddi Thaher SE MBA dari KADIN Indonesia (Pusat) secara terpisah menyebutkan tingginya perputaran uang di Indonesia sebenarnya sudah terjadi sejak Maret 2014 lalu, khususnya terkait Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 2014, sebelum maupun sesudah 9 April lalu.

"Dari ke-5 bursa atau potensi besar perputaran uang yang terjadi dalam satu masa (rentang waktu berdekatan) di tahun 2014 ini, volume transaksi atau perputaran uang yang terbanyak itu terjadi pada masa Pilpres. Selain jumlahnya mencapai puluhan triliun rupiah, transaksinya juga majemuk karena meliputi peredaran uang dari negara (pemerintah), masyarakat dari pihak kandidat calon presiden (dan calon wakil presiden) serta kalangan pendukungnya, maupun dari pihak ketiga," ujar Polin Pospos kepada SIB ketika wawancara melalui telepon, di sela-sela kondisinya yang baru usai opname di rumah sakit, Senin (23/6).

Hal senada juga dicetuskan Doddi Thaher (KADIN), bahwa volume transaksi dan perputaran uang untuk masa Pilpres itu menempati posisi teratas, juga karena meliputi penyelenggaraan Pemilu mulai dari tingkat pusat, seluruh daerah (34 provinsi) dan seluruh kabupaten/kota hingga kecamatan dan dusun-dusun atau kelurahan di seluruh penjuru Indonesia.

Selain transaksi untuk kebutuhan operasional dan logistik Pemilu (Pilpres), perputaran uang juga terjadi dari sejumlah modus transaksi seperti biaya iklan di media massa (koran, TV, dll), transaksi kebutuhan publikasi di biro-biro jasa reklame (cetak dan pajang baliho dalam partai besar maupun kecil di seluruh daerah di Indonesia) biaya operasional dan mobilisasi massa (galang dukungan) dan biaya sosialisasi.

Massa Pilpres itu merupakan bursa yang menyedot transaksi terbanyak. Kedua adalah bursa selama Ramadhan dan jelang Lebaran karena menyangkut kebutuhan primer dan sekunder konsumen selama hampir dua bulan yaitu Juni dan Juli. Potensi terbesar ke-3 adalah musim Piala Dunia yang marak aksi taruhan (gambling) walau sulit terdeteksi, karena transaksi dari acara-acara nonton  bareng di kafe-kafe atau hotel itu hanya sebagiannya saja, tapi meliputi semua lapisan konsumen mulai dari peminat bola kelas bawah, menengah hingga kaum elite.

Posisi ke-4 yang terbesar transaksi atau perputaran uangnya adalah momen peralihan tahun ajaran baru di dunia pendidikan karena konsumen atau para orang tua harus himpun dan gunakan dana maksimal untuk kebutuhan sekolah anak-anaknya, misalnya akan masuk sekolah, kenaikan kelas, hingga yang akan melanjut ke perguruan tinggi, apalagi yang  terpaksa melanjut ke kampus swasta, mulai kebutuhan biaya pendaftaran siswa atau mahasiswa baru, penyediaan buku-buku dan baju seragam, biaya pondokan atau kost (mahasiswa baru), uang kuliah perdana, ongkos dan biaya transportasi non reguler. “Kalau untuk liburan umum, potensinya memang besar tapi posisinya bisa dbilang paling bawah (urutan ke-5) karena mayoritas uang itu berputar di luar negeri. Soalnya, orang-orang yang berlibur di dalam negeri hanya sebagian kecil dan pada umumnya kelas menengah ke bawah. Kalau orang-orang berduit justru memilih berlibur ke luar negeri, sehingga uang itu mengucur dan berputar di negara luar," papar Doddi Thaher dengan rinci, kepada SIB, Senin kemarin.

Hanya saja, ujar Doddi, untuk mengetahui kalkulasi perputaran uang atau volume transaksi yang pasti lebih besar (bisa lima kali lipat) dari masa atau bursa lainnya, terlebih bursa yang terjadi bersamaan dalam rentang waktu Juni-Juli ini, baru bisa diketahui secara makro dari resume bank sentral (BI) berupa Statistik Ekonomi & Keuangan Daerah (SEKDa--istilah BI, Red.) setelah masa transaksi berlalu, misalnya pada September (triwulan-3) nanti. (A5/h)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru