Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 08 September 2026

Erupsi Sinabung Berhenti, Harga Sayuran Masih Mahal, Gula Pasir Mulai Naik

Nelly Hutabarat - Selasa, 08 September 2026 19:25 WIB
146 view
Erupsi Sinabung Berhenti, Harga Sayuran Masih Mahal, Gula Pasir Mulai Naik
Ilustrasi harga pangan

Medan(harianSIB.com)

Meski aktivitas Gunung Sinabung berangsur mereda dan tidak lagi memuntahkan awan panas dalam jumlah signifikan, harga sejumlah pangan, khususnya sayur-sayuran, masih bertahan mahal.

Ekonom Gunawan Benyamin, Selasa (8/9/2026), mengatakan berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga cabai merah di Kota Medan masih mencapai Rp56.000 per kilogram di Pasar Petisah dan belum mengalami perubahan signifikan sejak awal September.

Sementara cabai rawit relatif stabil di kisaran Rp60.000 per kilogram.

Menurutnya, kenaikan justru terjadi pada cabai caplak merah yang sebelumnya berada di kisaran Rp65.000 per kilogram, namun kini mencapai Rp78.000 per kilogram.

Harga tomat juga meningkat dari sekitar Rp12.000 menjadi Rp14.000 per kilogram. Di sisi lain, harga gula pasir mulai menunjukkan kenaikan, meski belum merata.

Berdasarkan pemantauan PIHPS, harga gula pasir di Pusat Pasar naik sekitar Rp250 per kilogram.

"Saya memproyeksikan harga gula pasir berpeluang naik serentak nantinya dan berpeluang mendorong kenaikan laju tekanan inflasi," ujarnya.

Gunawan mengatakan, tekanan inflasi Sumatera Utara pada September 2026 masih berpotensi meningkat.

Sejumlah komoditas seperti cabai dan gula pasir mulai memberikan tekanan, sementara harga daging ayam dan beras masih bertahan tinggi. Harga minyak goreng juga berpeluang naik seiring harga crude palm oil (CPO) yang berada di sekitar 4.978 ringgit per ton.

Ia memproyeksikan harga CPO berpeluang kembali menguji level 5.000 ringgit per ton seperti yang pernah dicapai pada akhir Agustus.

Karena itu, pemerintah, khususnya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), diminta mewaspadai potensi gangguan pasokan dan distribusi yang dapat memicu kenaikan harga lebih lanjut.

"Produksi sejumlah kebutuhan pangan masih dihantui ancaman bencana alam dan musim kemarau panjang (El Nino). Faktor alam menjadi variabel yang sulit diproyeksikan dan memiliki daya rusak besar serta tentunya dapat memicu lonjakan inflasi," katanya.

Gunawan menilai harga pangan belakangan ini masih rawan bergejolak di tengah kombinasi bencana alam dan faktor musim yang berpotensi mengganggu produksi pertanian serta pasokan pangan di Sumatera Utara.(*)

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru