Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 23 Oktober 2026

Cabai Masih Bertahan Mahal, Pasar Sepi

Indah Apriliana dewi Ginting - Sabtu, 03 Oktober 2026 15:01 WIB
617 view
Cabai Masih Bertahan Mahal, Pasar Sepi
Foto/harianSIB.com/ind
Dampak harga cabai melambung tinggi, aktivitas di sejumlah pasar tradisional kota Medan nampak sepi, Sabtu (3/10/2026).

Medan(harianSIB.com)

Kenaikan harga cabai yang melonjak hingga mencapai kisaran Rp75.000 sampai Rp100.000 per kilogram di berbagai daerah, membuat suasana sejumlah pasar tradisional di kota Medan menjadi sepi karena pembeli mengurangi jumlah belanja,

Hasil pantauan harianSIB.com, Sabtu (3/10/2026), rata-rata harga cabai merah di Kota Medan tercatat sekitar Rp85.000 per kg.

Cabai rawit bergerak naik dari Rp60.000 hingga Rp100.000 per kg tergantung pada wilayah dan pasokan pasar setempat.

Mayoritas pedagang cabai merah di pasar, apalagi pembeli mengeluhkan kondisi ini, mereka berharap harga bisa kembali normal agar aktivitas jual beli mereka pun kembali normal.

Baca Juga:
"Meski kami pedagang, pusing juga kami kalo harga sudah melonjak tinggi seperti ini, otomatis kami harus menambah modal pembelian, sementara keuntungan sama seperti sebelum harga naik. Belum lagi resiko barang tidak habis karena pembeli mengurangi porsi belanja mereka, lihatlah udah jam segini, tapi cabai masih belum terjual semua, besok udah nyusut, kering bahkan ada yang busuk," keluh Helti, pedagang cabai merah di pasar Peringgan Medan.

Dampak dari kenaikan harga cabai membuat konsumen dan pelaku usaha kecil, seperti pedagang makanan terpaksa memangkas porsi pembelian, dari biasanya membeli satu kilogram atau setengah kilogram kini turun menjadi seperempat kilogram saja.

Kemarau panjang atau cuaca ekstrim, curah hujan yang sangat tinggi juga turut memicu gangguan produksi maupun distribusi yang membuat hasil panen petani di daerah sentra, seperti Tanah Karo, Aceh dan wilayah lainnya menjadi terbatas.

Berakhirnya masa panen di sejumlah daerah juga membuat pasokan yang masuk ke pasar induk dan pasar tradisional berkurang drastis.

Bagi rumah tangga, kenaikan harga cabai berpotensi mendorong perubahan pola konsumsi. Masyarakat mengurangi pembelian atau memilih menu dengan penggunaan cabai yang lebih sedikit untuk menyesuaikan pengeluaran.

"Semua naik, semua mahal, tentu saja kondisi ini memaksa para ibu rumah tangga, seperti saya untuk merubah menu yang lebih irit tapi tetap sehat, cabainya sedikit aja, masak yang tumis aja, ga usah

masak balado lagi karena harga cabainya selangit, belum bawang, tomat dan ikannya, duh pusing kalo udah belanja," ungkap Siska, warga Sei Serayu. (**)

Editor
: Wilfred Manullang
SHARE:
Tags
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru