Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 30 Juni 2026

Kemenperin Upayakan Pengendalian Impor Mesin

- Senin, 17 Maret 2014 12:52 WIB
455 view
Kemenperin Upayakan Pengendalian Impor Mesin
Bali (SIB)- Kementerian Perindustrian mengupayakan langkah pengendalian terhadap impor mesin industri mengingat tingginya impor pada 2013 lalu yang mencapai 34,23 miliar dolar AS, sementara ekspor hanya 5,56 miliar dolar AS.

"Kami masih belum masuk secara rinci bagaimana mendorong ekspor, saat ini kami masih berada dalam tahapan bagaimana mengendalikan impor, agar industri dalam negeri dapat mensubstitusi impor," kata Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Teddy C Sianturi dalam Workshop Pendalaman Kebijakan Industri di Kuta, Bali, Minggu.

Teddy mengatakan, ke depan pemerintah menginginkan adanya ekspor untuk produk-produk tersebut meskipun saat ini industri dalam negeri sebenarnya sudah mampu melakukan ekspor untuk beberapa produk namun nilainya masih rendah.

"Untuk saat ini sudah ada ekspor untuk komponen-komponen alat berat dan juga alat kesehatan seperti tensi meter, meskipun nilainya masih kecil," ujar Teddy.

Ia menjelaskan salah satu langkah yang diambil oleh pemerintah dalam upaya untuk mengendalikan impor produk mesin tersebut antara lain melalui penerapan program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).

Selain itu, lanjut Teddy, juga dengan peningkatan penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) seperti pada pengadaan barang dan jasa di kementerian atau lembaga.

Menurut Teddy, industri permesinan di Indonesia terbagi dalam tujuh sektor diantaranya adalah industri mesin peralatan untuk konstruksi, mesin peralatan pabrik, industri peralatan energi termasuk migas, industri alat mesin pertanian, industri komponen, industri mesin peralatan berat dan industri alat kesehatan.

"Untuk alat kesehatan, termasuk dalam klasifikasi tinggi karena menyangkut manusia yang mengedepankan faktor keamanan yang terjamin, dan karena faktor tersebut nilai investasi masih rendah," ujar Teddy.

Sementara untuk industri mesin yang banyak di Indonesia, lanjut Teddy, sebagian masuk dalam industri dengan teknologi menengah dan konvensional.

Neraca Perdagangan Indonesia untuk bidang permesinan dan alat pertanian 2014 diproyeksikan defisit  sebesar 35,296 miliar dolar AS, dimana nilai ekspor 6,068 miliar dolar AS dan nilai impor 41,364 miliar dolar AS.

Sementara pada tahun 2013, defisit mencapai 28,66 miliar dolar AS dimana impor sebesar 34,23 miliar dolar AS, dan ekspor baru menyentuh 5,56 miliar dolar AS. Dan pada tahun sebelumnya tercatat importasi sebesar 28,32 miliar dolar AS sementara eskpor 5,10 miliar dolar AS yang menyebabkan defisit sebesar 23,23 miliar dolar AS.

Proyeksi tersebut lebih tinggi dibanding realisasi defisit pada 2013 dan 2012 yang masing-masing tercatat 28,66 miliar dolar AS (ekspor 5,56 miliar dolar AS dan impor 34,23 miliar dolar AS) dan 23,23 miliar dolar AS (ekspor 5,10 miliar dolar AS dan impor 28,322 miliar dolar AS).

Berdasarkan data Kemenperin, jumlah perusahaan industri permesinan dan alat mesin pertanian mencapai 185 perusahaan. Perinciannya 44 perusahaan industri alat berat, 107 perusahaan industri mesin pertanian, tiga perusahaan mesin proses, lima perusahaan alat energi, 21 perusahaan alat kelistrikan dan lima perusahaan peralatan kesehatan. (Ant/q)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru