Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 30 Juni 2026

Menurunnya Peredaran Uang di Sumut Dinilai Wajar, Karena BI Berlakukan TMP

*Potensi Pemalsuan Uang Selama Pemilu Cukup Tinggi
- Selasa, 18 Maret 2014 12:21 WIB
434 view
Menurunnya Peredaran Uang di Sumut Dinilai Wajar, Karena BI Berlakukan TMP
Medan (SIB)- Pengamat Ekonomi di Sumut Gunawan Benyamin mengatakan,kalau Bank Indonesia menyatakan  peredaran uang di Sumut menurun, hal ini wajar terjadi, karena  Bank Indonesia  sendiri yang memberlakukan uang ketat atau TMP ( Tight Money Policy).

“Jadi dengan besaran BI rate sebesar 7.5%  sudah pasti masyarakat akan lebih senang menyimpan uangnya di bank ketimbang  harus memutarnya untuk keperluan usaha maupun konsumsi,ujarnya kepada wartawan, Senin sore (17/3/2014).

Dikatakan, wajar saja di saat pertumbuhan ekonomi diperlambat, maka jumlah uang beredar akan mengalami penurunan. Terkait dengan Pemilu  tetap ada pengaruhnya terhadap jumlah uang beredar di masyarakat, meskipun  tidak signifikan kenaikannya.

Ia menyebutkan, dana kampanye partai akan dibelanjakan di saat musim kampanye tiba, meskipun sebagian dana tersebut sudah dibelanjakan terlebih dahulu. Namun diyakininya masih ada anggaran yang akan dibelanjakan hingga  pesta demokrasi  nanti benar-benar dilaksanakan.

Komoditas

Soal komoditas, Gunawan sependapat dengan Bank Indonesia bahwa harga komoditas baru akan mengalami kenaikan tahun 2015 mendatang. Efeknya baru dirasakan  Sumut pada tahun 2015 nanti.  Dia menilai semester II tahun ini sejumlah harga komoditas khususnya berbagai produk unggulan Sumut akan mengalami kenaikan.

Namun efek dari ekspektasi membaiknya laju pertumbuhan ekonomi global akan membuat harga komoditas mengalami kenaikan. Ini terjadi karena ada  dari sisi permintaan yang diperkirakan akan membaik. Hanya saja momentum akselerasi pertumbuhan ekonomi global akan baru terasa di tahun depan. “Saya sepakat dengan BI  momentumnya nanti di tahun 2015,”ucapnya.

Uang NKRI

Di sisi lain Gunawan menyinggung soal  penerbitan uang NKRI  yang akan diluncurkan pada 17 Agustus 2014  ini ,menurutnya ,tidak menjamin tidak akan ada pemalsuan.

“ Kita hanya berharap  uang baru yang akan diterbitkan nantinya memiliki kualitas yang lebih bagus sehingga sulit untuk ditiru. Namun yang namanya uang merupakan produk buatan manusia maka selama itu pula uang tersebut bisa dipalsukan,ujarnya.

Dia menilai, kemungkinan pemalsuan uang bisa saja terjadi, akan tetapi pola pencetakan uang palsu tidak akan berubah dibandingkan bila dibandingkan antara sebelum dan nantinya diterbitkan uang baru.

Menjelang Pemilu seperti saat ini,sebutnya, merupakan potensi terjadinya peredaran uang palsu yang lebih banyak. Sehingga kapan pun dan dimana pun tetap ada kemungkinan uang kita dipalsukan. Secanggih apapun teknologi yang dimiliki untuk mencetak uang bukan menjadi jaminan uang tersebut tidak bisa dipalsukan,tegasnya.(A3/c)



Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru