Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 20 Juni 2026

Emmanuel Macron (39) Jadi Presiden Prancis, Istrinya Brigitte Trogneux Nenek 64 Tahun

- Selasa, 09 Mei 2017 10:07 WIB
802 view
Emmanuel Macron (39) Jadi Presiden Prancis, Istrinya Brigitte Trogneux Nenek 64 Tahun
SIB/Reuters/Christian Hartmann
RAYAKAN KEMENANGAN: Presiden Prancis terpilih Emmanuel Macron bersama isteri, Brigitte Trogneux merayakan kemenangannya di luar museum Louvre, Paris, Minggu (7/5) waktu setempat. Berdasarkan exit poll sejauh ini, rakyat Prancis memilih Macron sebagai pres
Prancis (SIB) -Emmanuel Macron memenangkan pemilihan presiden Prancis, hari Minggu (7/5), setelah di putaran kedua pemungutan suara menyingkirkan Marine Le Pen.

Proyeksi penghitungan suara memperlihatkan Macron, politisi tengah pro-Eropa, meraih sekitar 65% suara, sementara calon dari kanan jauh, Le Pen, meraih kurang lebih 35% suara.

Dalam pidato kemenangan, Macron mengatakan halaman baru tengah dimulai dalam sejarah Prancis.

"Saya ingin ini menjadi halaman tentang harapan dan rasa saling percaya," katanya.

Pada usia 39 tahun, Macron akan menjadi Presiden Prancis termuda dalam sejarah.

Yang juga menarik dalam pilpres kali ini adalah untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, presiden terpilih bukan berasal dari dua partai utama, Sosialis dan Republik yang berhaluan kanan tengah.

Macron sendiri sebenarnya bukan wajah yang sama sekali baru di panggung politik Prancis.

Ia pernah menjadi Menteri Ekonomi Presiden Francois Hollande, politisi Partai Sosialis. Fakta ini, menurut pengamat politik Francois Raillon, bermakna bahwa Macron juga adalah bagian dari kelompok mapan (establishment).

Pada April 2016 ia mendirikan En Marche!, gerakan berhaluan tengah yang ia gunakan sebagai kendaraan politik di pemilihan presiden.

Becky Branford, mengatakan bisa saja Macron maju di pilpres dengan tiket dari Partai Sosialis, namun ia sadar betul bahwa dengan popularitas partai yang menurun, ia perlu kendaraan lain yang segar, yang bisa dirasakan secara langsung oleh rakyat.

Di Eropa, ini bukan gejala baru. Ada gerakan serupa yang telah dibentuk sebelumnya di Italia dan Spanyol. Dan beberapa bulan setelah mendirikan En Marche!, Macron menyatakan mundur dari Partai Sosialis.

MIRIP 'GERAKAN OBAMA'
Gerakan ini pada saat yang sama memungkinan Macron untuk memposisikan diri sebagai tokoh yang dekat dengan akar rumput, mirip dengan apa yang dilakukan Barack Obama ketika terjun di Pilpres Amerika Serikat pada 2008, kata wartawan lepas di Paris, Emily Schultheis.

Model pendekatan ini antara lain memanfaatkan kerja relawan di lapangan.

Di sisi lain, keberhasilannya menang di pilpres, kata Raillon, tak lepas dari apa yang ia sebut sebagai 'keinginan sebagian besar rakyat untuk membersihkan ruang politik dari tokoh-tokoh lama, yang tua, dan tradisional'.

"Macron bukan 100% orang baru, tapi di usia yang masih sangat muda, 39 tahun, ia dianggap sebagai tokoh yang menyegarkan dibandingkan semua politisi lain (yang ikut serta dalam pemilihan presiden)," kata Raillon kepada BBC Indonesia.

Di kalangan pemilih ia dianggap sebagai figur yang paling bisa diterima, sementara yang lain ditolak termasuk Marine Le Pen, anak perempuan politisi kanan jauh, Jean-Marie Le Pen.

Raillon mengatakan di pundak Macron ditumpukan harapan besar agar di Prancis dilakukan perbaikan di berbagai bidang, perbedaan di kalangan rakyat disatukan lagi dan ada dinamika baru di bidang ekonomi.

Kemenangan Macron disambut hangat, tak hanya di dalam tapi juga di luar negeri.

Juru bicara kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan bahwa kemenangan Macron adalah juga kemenangan bari Eropa yang kuat dan bersatu.

Kepala Komisi Eropa, Jean-Claude Juncker, menyampaikan pernyataan senada.

Perdana Menteri Inggris, Theresa May, mengucapkan selamat dan siap bekerja sama di berbagai bidang.

Ucapan selamat juga disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengirim ucapan melaui Twitter.

Nenek 64 Tahun
Brigitte Trogneux menjadi sorotan dunia setelah kisah cintanya dengan Presiden Prancis terpilih, Emmanuel Macron, ramai dibahas media. Trogneux yang tadinya seorang guru sekolah menengah, kini akan menjadi Ibu Negara Prancis. Seperti dilansir CNN, Senin (8/5), kisah cinta keduanya dimulai saat Macron yang saat itu berusia 15 tahun, ikut dalam drama sekolah yang diarahkan oleh Trogneux, yang berusia 24 tahun lebih tua darinya. Trogenux saat itu berusia 39 tahun, telah menikah dan memiliki tiga anak.

Pada usia 17 tahun, Macron menyatakan cintanya pada Trogneux. Hubungan keduanya diwarnai berbagai halangan, mulai dari tidak direstui orangtua Macron hingga digunjingkan karena perbedaan usia yang jauh.

Trogneux yang tadinya hanya guru sekolah Macron, beranjak menjadi kekasih dan kemudian menjadi istrinya. Dalam berbagai fase kehidupan yang mereka jalani bersama, Trogneux menjadi mentor dan inspirasi dalam kehidupan Macron. "Tanpa dia (Trogneux), saya tidak akan menjadi saya yang sekarang," ucap Macron saat merayakan kemenangannya dalam pilpres putaran pertama 23 April. Macron mencetak sejarah sebagai Presiden Prancis termuda setelah memenangi pilpres putaran kedua pada 7 Mei waktu setempat, dalam usia 39 tahun. Dia meraup 66,06 persen suara jauh mengungguli rivalnya, Marine Le Pen, yang hanya meraup 34 persen suara.

Trogneux, yang kini berusia 64 tahun dan memiliki 7 cucu, akan menjadi Ibu Negara Prancis selanjutnya. Namun selama ini, istri para pemimpin Prancis memegang peranan yang tidak terlalu kentara di publik. Tidak demikian halnya dengan Trogneux. Macron sebelumnya menyatakan, jika dirinya terpilih menjadi Presiden Prancis, kemungkinan besar dia akan memberikan peran resmi bagi istrinya dalam pemerintahannya.

Trogneux lahir dari keluarga borjuis pembuat cokelat. Trogneux memiliki kampung halaman yang sama dengan Macron, yakni Amiens, di Prancis bagian utara.
Sebelum bertemu Macron, Trogneux menjalani kehidupan konvensional seperti wanita kebanyakan. Dia memiliki karier stabil sebagai guru sastra Pancis dan guru drama. Dia menikahi seorang bankir bernama Andre Louis Auziere dan memiliki tiga anak.

Namun pada tahun 2006, Trogneux bercerai dengan suaminya dan menikah dengan Macron setahun kemudian. Dia kemudian pindah ke Paris dan tetap bekerja sebagai guru. Tahun 2015, Trogneux berhenti bekerja dan fokus pada suaminya, yang saat itu menjabat Menteri Perekonomian.

Dalam film dokumenter oleh France3 TV, Trogneux digambarkan sebagai 'pelatih' Macron. Dalam salah satu adegan, Trogneux terlihat memandu Macron saat berlatih pidato. Trogneux tidak ragu menyela Macron untuk memintanya sedikit menambah volume suaranya. Hubungan ketiga anak Trogneux yang sudah dewasa dengan Macron, ayah tiri mereka, sangat baik. Anak-anak Trogneux bahkan ikut berkampanye untuk Macron. Faktanya, Macron meminta izin ketiga anak Trogneux saat akan menikahi ibu mereka. Hal itu memberi kesan tersendiri bagi anak-anak Trogneux.

Macron dan Trogneux bertekad memastikan hubungan mereka tidak dicap sebagai skandal. Keduanya berusaha terbuka pada publik soal hubungan mereka.
Dalam salah satu ulasan dengan majalah Prancis, keduanya menyebut pernikahan mereka sebagai 'perayaan keluarga modern yang tidak biasa tapi penuh kasih sayang'. "Kami tidak memiliki keluarga klasik, tidak bisa disangkal. Tapi apakah kami memiliki lebih sedikit kasih sayang dalam keluarga ini? Saya rasa tidak demikian. Mungkin jauh lebih banyak daripada keluarga konvensional pada umumnya," ucap Macron dalam acara pergerakan 'En Marche!' baru-baru ini. 'En Marche!' merupakan pergerakan independen yang diluncurkan Macron sekitar 12 bulan lalu. (CNN/dtc/PK/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru