Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Minggu, 22 Februari 2026

TNI AL Evakuasi 188 WNI ABK World Dream ke Pulau Sebaru

* Kemenkes Buka Mini Hospital Standar WHO
Redaksi - Kamis, 27 Februari 2020 09:17 WIB
171 view
TNI AL Evakuasi 188 WNI ABK World Dream ke Pulau Sebaru
Ant/Dispenal
EVAKUASI : Puluhan WNI kru kapal World Dream menaiki kapal saat akan dipindahkan ke KRI dr Soeharso yang difasilitasi TNI AL, di Selat Durian Kepulauan Riau,Rabu (26/2).Sebanyak 188 awak kapal World Dream dievakuasi menggunakan KRI dr Soeharso me
Jakarta (SIB)
TNI Angkatan Laut (AL) mengevakuasi WNI anak buah kapal (ABK) World Dream. TNI mengevakuasi para WNI tersebut menggunakan KRI Soeharso di perairan Selat Durian, Kepulauan Riau.

"TNI AL memfasilitasi evakuasi WNI Anak Buah Kapal (ABK) MV. World Dream menuju KRI dr. Soeharso-990 di Perairan Selat Durian, Kepulauan Riau, pada hari Rabu, tanggal 26 Februari 2020," tulis Dinas Penerangan (Dispen) TNI AL dalam keterangan resmi, Rabu (26/2).

WNI ABK World Dream yang dievakuasi berjumlah 188 orang, yang terdiri dari 172 laki-laki dan 16 perempuan. Seluruhnya telah dinyatakan negatif virus Corona (COVID-19). Evakuasi dilakukan dalam dua kloter.

"Didukung cuaca yang cerah dan kerjasama yang sangat baik, proses evakuasi berjalan dengan baik dan lancar," ujarnya.
"Transfer personel dilakukan dua sortie dengan menggunakan Transfer Boat MV World Dream menuju KRI dr. Soeharso," sambungnya.

Para WNI tersebut diterima dalam KRI Soeharso melalui pemeriksaan sesuai protokol medis. Rombongan itu lalu bergegas menuju Pulau Sebaru di Kepulauan Seribu.

"Para ABK tersebut diterima di KRI dr Soeharso dengan melalui prosedur pemeriksaan sesuai SOP protokol medis, selanjutnya akan bergerak menuju Pulau Sebaru, Kepulauan Seribu, diperkirakan akan tiba tanggal 28 Februari," ucapnya.

Dalam evakuasi itu, TNI AL bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, yakni Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Batam, Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Jakarta, dan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Jakarta.

Sebelumnya, Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah mencermati segala kemungkinan terkait evakuasi 188 WNI ABK kapal World Dream ke Pulau Sebaru, Kepulauan Seribu. Puan juga meminta pemerintah melakukan mitigasi agar rakyat Indonesia tidak terkena dampak virus Corona atau COVID-19.

"Ya saya minta adalah pemerintah kesiapannya dalam mencermati hal yang terkait COVID-19. Jadi jangan kemudian hanya reaktif, kemudian sepotong-sepotong, namun bagaimana mencermati hal ini itu secara keseluruhan," ujar Puan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/2).

Disterilisasi
Sementara itu, Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I, Laksamana Madya Yudo Margono, mengatakan Pulau Sebaru yang dijadikan tempat observasi 188 WNI anak buah kapal (ABK) World Dream kini sudah disterilkan dari pengunjung ataupun nelayan. Meski demikian, Yudo tidak menyebut secara rinci seberapa jauh radius pengunjung dilarang mendekati Pulau Sebaru.

"Kesepakatan sterilisasi ada, keamanannya jadi ya tidak boleh masuk. Kalau udah gitu, masa pingin masuk? Radius ya radius laut, akan disekat dengan perimeter pengamanan. Harapannya masyarakat tidak masuk," ujar Yudo di Markas Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Yudo menjelaskan, tim pengamanan yang akan melakukan sterilisasi itu juga masuk dalam Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) dari TNI-Polri, serta Kementerian dan Lembaga. Sterilisasi ini dilakukan agar proses observasi menjadi lebih fokus.
"(Petugas sterilisasi) itu ada dari TNI AL, unsur gelarnya Koarmada 1. Kemudian dari Polair, Kopaska, KPLP (Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai Republik Indonesia), tergabung dalam Kogasgabpad," ucap dia.

Buka Mini Hospital
Di pihak lain, Kepala Pusat Krisis Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Budi Sylvana mengatakan pihaknya saat ini sudah mendirikan mini-hospital di Pulau Sebaru, untuk menunjang proses observasi 188 WNI ABK World Dream. Menurutnya, rumah sakit mini itu juga dilengkapi dengan ruang ICU dan IGD.

"Kita siapkan RS di sana, mini-hospital. Standar IGD kita buka di sana. Kita juga siapkan ICU di sana, pelayanan kesehatan dari ahli," ujar Budi di Markas Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Meski predikatnya rumah sakit mini, Budi menegaskan bahwa rumah sakit itu memiliki standar yang dianjurkan oleh WHO untuk menangani pasien suspect virus Corona. "Standar WHO tetap jadi pegangan," kata dia.

Budi mengatakan, dalam melakukan observasi di Pulau Sebaru ini, Kemenkes menurunkan 39 dokter spesialis. Jumlah tersebut lebih banyak ketika melakukan observasi WNI dari Wuhan di Natuna, Kepulauan Riau, yang berjumlah 25 orang.

"Secara umum perlakuannya masih observasi, secara umum sama dengan yang di Natuna. Cuma kali ini Kemenkes menurunkan tim multidisiplin spesialis, dokter multidisiplin, ada dari penyakit dalam, spesialis anestesi, spesialis paru, spesialis jiwa, spesialis psikologi," ucap dia.

Budi menjelaskan, alasan Kemenkes menerjunkan jumlah dokter spesialis yang berbeda semata-mata untuk kewaspadaan. Dia mengatakan, hal terkecil dari kesehatan 188 WNI ABK World Dream ini akan diperiksa secara menyeluruh.

"Dinamikanya kan berkembang terus dan kita tidak ingin ada kecolongan. Sehingga kita terus meningkatkan kewaspadaan, standarnya terus dinaikkan. Karena dinamika di dunia sudah tidak sama dengan kemarin, sehingga layanan observasinya akan lebih komprehensif," kata dia.

Selain itu, pemerintah telah menunjuk tiga rumah sakit sebagai rujukan utama apabila ada di antara 188 WNI ABK World Dream suspect virus Corona. Tiga rumah sakit itu adalah RSPI Dr Sulianti Sarono, RS Umum Pusat Persahabatan, dan RSPAD Gatot Soebroto.

Jokowi mengatakan, proses evakuasi WNI kru kapal pesiar Diamond Princess sebelumnya menunggu proses diplomasi dengan pemerintah Jepang. Jokowi mengatakan proses diplomasi tidak mudah.

"Ini karena juga masih proses negosiasi dengan pemerintah Jepang. Ini aja belum sampai ke Pulau Sebaru sehingga, kalau sudah sampai, ditata, kita menyiapkan ini lagi. Tidak semudah itu diplomasi, negosiasi. Tidak segampang itu, tapi akan berusaha secepat-cepatnya untuk menyelesaikan ini," kata Jokowi.

Jokowi mengatakan semua keputusan terkait proses evakuasi WNI yang tertahan akibat wabah virus Corona ini harus dilakukan dengan hati-hati. Pemerintah, kata Jokowi, tak bisa didesak.

"Semuanya keputusan harus hati-hati. Tidak boleh tergesa-gesa. Kita memiliki 267 juta penduduk Indonesia yang juga harus dihitung, dikalkulasi semuanya. Hati-hati. Saya selalu pesan pada Menko, pada menteri, hati-hati memutuskan. Hati-hati, berhitung dalam menyelesaikan ini. Tidak bisa kita didesak-desak. Tidak bisa kita tergesa-gesa. Ndak. Harus tepat. Seperti di Natuna yang kemarin," tuturnya. (detikcom/d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru