Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 27 April 2026
* Perintahkan Kapolri Tangkap Penimbun-Penjual Masker Harga Tinggi

Jokowi Minta Masyarakat Tak Perlu Panic Buying

* Polisi Gerebek Penimbunan Masker di Apartemen Jakbar
Redaksi - Rabu, 04 Maret 2020 09:19 WIB
256 view
Jokowi Minta Masyarakat Tak Perlu Panic Buying
Foto: Ant/Sigid Kurniawan
IMBAU: Presiden Joko Widodo didampingi Mensesneg Pratikno saat menyampaikan keterangan pers di beranda belakang Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/3). 
Jakarta (SIB)
Fenomena panic buying terjadi setelah pemerintah mengumumkan 2 kasus virus Corona di Indonesia. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan pesan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait fenomena ini.

"Bapak Presiden tadi menyampaikan tidak perlu ada kepanikan karena terkait dengan ketersediaan sembako obat-obatan dan yang lain, pemerintah sudah menyiapkan semua dan komunikasi dengan asosiasi-asosiasi," ujar Airlangga di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (3/3).

Masyarakat diimbau tidak membeli barang secara berlebihan di pusat perbelanjaan. Airlangga menjamin pemerintah menjaga stabilitas harga.

"Jadi kita tidak perlu untuk membeli dengan jumlah yang banyak dan juga posisinya cukup tersedia cukup aman sehingga perlu dibeli secukupnya saja," jelas Airlangga.

Selain itu, Airlangga mendapat arahan dari Jokowi agar menjaga distribusi barang.
"Arahan bapak presiden distribusi barang diutamakan. Baik itu barang yang berasal dari dalam negeri maupun barang yang perlu diimpor apalagi juga kita mempersiapkan diri untuk menjelang bulan puasa nanti," ujar Airlangga.

Tetap Tenang
Pimpinan DPR juga mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada.
"Ya justru itu saya pikir pemerintah juga perlu mengedukasi masyarakat ya dan juga kita imbau masyarakat supaya tetap tenang, tidak panik, namun waspada," kata Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad di gedung DPR, Senayan, Jakarta.

Dasco meminta pemerintah mengeluarkan panduan menghadapi virus Corona untuk menenangkan masyarakat. Dengan adanya fenomena panic buying, Dasco khawatir hal itu justru disalahgunakan oleh masyarakat untuk kepentingannya.

"Supaya kemudian tidak terjadi panik seperti kemarin, dan kalau dilihat dari keterangan beberapa menteri terkait stok makanan kita sebenarnya aman, tetapi takutnya nanti dipergunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk kemudian membuat stok makanan langka dan harga jadi mahal," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. Menurutnya, sudah ada aturan dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2019 tentang Peningkatan Kemampuan Dalam Mencegah, Mendeteksi, dan Merespons Wabah Penyakit, Pandemi Global, dan Kedaruratan Nuklir, Biologi, dan Kimia yang akan dijalankan kementerian terkait.

"Kita ada Inpres Nomor 4 tahun 2019. Tentu pemerintah dalam hal ini Menteri Kesehatan untuk menerapkan Inpres 4/2019 itu dengan lakukan pendataan pihak yang sakit ini sudah ketemu siapa saja, kemudian melakukan sterilisasi terhadap tempat-tempat itu untuk bisa melakukan proses-proses, langkah-langkah sesuai dengan Inpres 4 tahun 2019 itu," ujar Azis.

"Masyarakat jangan panik, karena pemerintah sudah punya langkah untuk penanganannya ini sesuai Inpres Nomor 4 Tahun 2019," pungkasnya.

Perintahkan
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan Kapolri Jenderal Idham Azis mengambil tindakan terkait langkanya masker wajah. Jokowi menyebut adanya dugaan penimbunan masker dan penjualan masker dengan harga fantastis.

"Saya juga sudah memerintahkan Kapolri untuk menindak tegas pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, yang memanfaatkan momentum seperti ini dengan menimbun, masker terutama. Ini masker dan menjualnya lagi dengan harga yang sangat tinggi," ujar Jokowi di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (3/3).

Jokowi menekankan sekali lagi kepada para pihak yang mencari kesempatan meraup untung besar dalam kondisi seperti ini, "Hati-hati ini saya peringatkan," tegas dia.

Jokowi sudah mengecek stok masker di pasar. Ada beberapa jenis masker yang langka.
"Menteri cek, tetapi dari info yang saya terima, stok dalam negeri kurang-lebih 50 juta. Memang pada masker tertentu itu yang langka," ucapnya.

Jokowi juga meminta masyarakat tidak membeli kebutuhan pokok berlebihan. Jokowi mengatakan perilaku tersebut justru menyebabkan terjadinya kelangkaan kebutuhan pokok.

"Masyarakat tidak perlu borong keperluan sehari-hari, justru bikin langka pembelian besar-besaran, menimbun dan memborong. Pemerintah jamin ketersediaan. Saya cek Bulog, Apindo," ujar Jokowi.

Sebelum kemunculan Corona, harga masker Sensi hanya berkisar Rp 20-30 ribu per boks. Kemarin harga masker Sensi mencapai Rp 340 ribu dan kini mencapai Rp 400 ribu. Selain itu, masker N-95 yang saat situasi normal seharga Rp 350 ribu, kini mencapai Rp 1,5 juta.

Jamin
Presiden juga meminta agar masyarakat tidak memborong kebutuhan sehari-hari dan menjamin ketersediaan bahan-bahan pokok aman.

"Masyarakat nggak perlu memborong kebutuhan sehari-hari, nggak perlu. Yang justru bikin langka itu pembelian besar-besaran, tindakan menimbun dan memborong itu sendiri" kata Jokowi.

Jokowi sudah mengecek barang-barang pokok itu ke sejumlah bawahannya. Dia meminta masyarakat untuk tidak panik.
"Pemerintah menjamin ketersediaan bahan pokok dan obat-obatan yang ada," ujar dia.

Jokowi meyakinkan masyarakat bahwa virus Covid-19 ini bisa ditangani dengan baik. Jokowi berharap masyarakat tidak takut tetapi tetap waspada.

"Jadi tidak perlu terlalu ketakutan masalah ini, tapi tetap harus hati-hati dan waspada dalam setiap beraktivitas," imbuh dia.

Dipidana
Sementara itu, polisi mengingatkan kepada pelaku usaha untuk tidak menimbun masker.
"Selama dia melanggar pidana akan kita tindak. Di sisi lain bahwa memang masyarakat butuh masker ini," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus kepada wartawan, Selasa (3/3).

Yusri mengingatkan, pelaku usaha untuk tidak mengambil keuntungan dari penimbunan masket. Polisi akan menindak tegas pelaku penimbun masker.

"Kalau menemukan masker-masker yang ditimbun itu pidananya akan tetap dijalankan. Apakah kemungkinan bisa masker tersebut digunakan kan masyarakat butuh masker, itu yang masih kita koordinasikan dengan pihak-pihak terkait," tutur Yusri.
Yusri mengatakan, akibat penimbunan ini harga masker di pasaran melambung tinggi. Sementara kebutuhan masyarakat semakin tinggi.

Di pasaran masker-masker bisa naik hingga 100 persen dari harga Rp 20 ribu jadi Rp 500 ribu. Ini udah satu tindak kejahatan untuk menguntungkan diri sendiri, kita akan tindak," lanjut Yusri.

Ia melanjutkan pihaknya akan melakukan patroli dan pemantauan ke pabrik-pabrik masker.
"Nanti kita secara preventif aja dulu untuk bisa mem-patroli, mengecek-cek semua kemudian secara preventif kita mengimbau para pengusaha pengusaha, pelaku-pelaku supaya menimbun itu janganlah. Inikan udah jadi skala nasional ini, masyarakat di sini butuh masker itu," jabarnya.

Tak Boleh
Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melarang penimbunan barang di tengah krisis virus Corona di Indonesia. Hal tersebut ditakutkan menimbulkan spekulasi.

"Kalau di dalam Islam kita tidak boleh menimbun karena perilaku penimbunan itu akan menimbulkan spekulasi," ujar Wakil Ketua Umum MUI KH Muhyiddin Junaidi di Kantor MUI Pusat, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (3/3).

Muhyiddin mengimbau umat membeli barang kebutuhan seperlunya. Dikhawatirkan penimbunan bisa menimbulkan kenaikan harga.
"Ya sebaiknya kita beli apa yang kita butuh. Soalnya kalau ada penimbunan jangan-jangan nanti barangnya tambah mahal, seakan-seakan ada krisis kemanusiaan seakan tidak percaya kepada pemerintah," kata Muhyiddin.

Dalam penjelasannya, MUI ingin masyarakat Indonesia, terutama umat Islam, senantiasa menjaga hidup sehat. Hal itu dengan sendirinya dapat menghindarkan diri dari musibah virus Corona.

"Jadi sesuai dengan aturan main yang ada di agama dan juga cocok dengan cara menghindari virus Corona," kata Muhyiddin.
MUI juga mengajak masyarakat agar tidak panik. Selain itu, yang terpenting agar umat menjadi imunitas tubuh.
"Kami minta kepada semua pihak agar jangan panik," ujar Muhyiddin.

Kerahkan
Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo menyiapkan empat strategi untuk menjaga ketertiban dan keamanan di masyarakat (kamtibmas). Hal itu menyusul sejumlah aksi panic buying dan kelangkaan masker setelah ada dua WNI positif Corona.
"Memerintahkan jajaran Dittipidum Bareskrim dan jajaran untuk menurunkan personel di tempat perbelanjaan, baik supermarket, swalayan, dan pasar tradisional untuk mengawasi aksi panic buying," kata Sigit dalam keterangan tertulis, Selasa (3/3).

"Agar melakukan penangkapan kepada pelaku kriminalitas, seperti penjarahan, aksi copet, perampokan, dan kriminalitas yang lain," imbuh dia.

Sigit juga mendorong jajaran Direktorat Tindak Pidana Khusus (Dittipideksus) dan Satgas Pangan untuk mengatasi masalah kelangkaan barang. Para personel Dittipideksus diminta turun ke level distributor dan pasar.

"Memerintahkan Dittipideksus dan jajaran yang tergabung dalam Satgas Pangan untuk sidak ke pasar-pasar, distributor untuk mencegah terjadinya kenaikan harga akibat ulah para spekulan yang menimbun atau menyembunyikan barang-barang," ujar Sigit.
Selain masker dan antiseptik, lanjut Sigit, mencegah kelangkaan dan kenaikan sembilan bahan pokok (sembako) perlu dilakukan sesegera mungkin. Sigit mengatakan upaya ini dilakukan agar masyarakat tetap tenang.

"Kami akan koordinasi dengan Dinas Perdagangan dan lembaga konsumen dan melakukan penangkapan terhadap pelaku penimbunan yang melakukan upaya sehingga terjadi kelangkaan," tegas mantan Kadiv Propam Polri ini.

Masih kata Sigit, dia juga meminta jajaran Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) mengejar pihak-pihak tak bertanggung jawab menyebarkan hoax soal Corona. "Yang menimbulkan kepanikan masyarakat dan membuat counter issue."

Terakhir, Sigit mengerahkan Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) untuk berkoordinasi dengan rumah-rumah sakit rujukan pasien suspect Corona dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dari sisi pengawasan.

Tunjuk Jubir
Sementara itu, Sekretaris Ditjen P2P Kemenkes Achmad Yurianto ditunjuk Presiden Jokowi menjadi juru bicara terkait virus Corona. Yuri akan memberikan keterangan secara berkala soal kasus ini.

"Jadi seusai arahan Presiden dan sudah ditunjuk juru bicara ini semua, namanya dr Achmad Yurianto, beliau terbekali data semua ada," ujar Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat.
Hal ini disampaikan Terawan setelah bertemu Jokowi di Istana. Yuri turut hadir dalam rapat.

"Semua betul-betul konsentrasi di juru bicara. Saya support beliau terus di bidang data, terjadi efisiensi. Apa yang bisa saya lakukan. Ini dr Achmad Yurianto, beliau yang akan jelaskan apa pun dengan detail masalah Corona," ujar Terawan.
Terawan menjelaskan akan memberikan masukan data kepada Yuri. Terawan akan berfungsi melakukan kebijakan strategis.

Gerebek
Sementara itu, pada kesempatan lain, di tengah mewabahnya virus Corona, ketersediaan masker di DKI Jakarta berkurang. Hal ini terjadi karena adanya praktik pelaku usaha yang menimbun masker.

Polres Jakarta Barat membongkar praktik penimbunan masker yang ada di sebuah apartemen di Tanjung Duren, Grogol Petamburan, Jakarta Barat, sore tadi. Di lokasi tersebut polisi menemukan ratusan dus masker.

"Ada 350-400 dus yang ditemukan di apartemen tersebut," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus, Selasa (3/3).
Yusri mengatakan upaya polisi ini dilakukan untuk mengantisipasi kelangkaan masker di pasaran. Hal ini juga dilakukan untuk menekan harga jual masker yang melonjak sejak ditemukannya kasus Corona di Indonesia untuk pertama kalinya.

"Iya, ini salah satu upaya kita mengantisipasi hal tersebut agar masyarakat bisa mendapatkan masker sesuai kebutuhannya," imbuh Yusri.

Sementara itu, saat ditanya lebih lanjut soal penggerebekan tersebut, Yusri belum mau berkomentar lebih jauh. Yusri mengatakan, pihaknya akan menggelar jumpa pers terkait kasus ini besok.
"Besok kami rilis di Polres Jakbar," kata Yusri. (detikcom/d)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru